• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 14 Agustus 2022

Opini

Peran Kiai Pesantren di Era Milenial

Peran Kiai Pesantren di Era Milenial
Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy'ari (nu online)
Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy'ari (nu online)

(Disarikan Mauidhoh Hasanah KHM Aniq Muhammadun) 


Rais Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KHM Aniq Muhammadun dalam acara halal bihalal yang diselenggarakan Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahid islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Kabupaten Pati di Institut Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) menjelaskan tanggung jawab kiai pesantren. 


Pertama, aktif mengaji. Kiai harus mengaji kepada para santri. Kiai yang mampu mengaji adalah kiai yang mempunyai kapasitas keilmuan memadai sehingga mampu menjelaskan kandungan Al-Qur'an-hadits yang ada dalam kitab tafsir, syarah hadits, fiqh, ushul fiqih, tauhid, akhlak, tasawuf, dan lain-lain.


Kiai jangan hanya mendirikan pesantren, namun menyerahkan pengajian kepada orang lain. Kiai harus menjadi pusat keilmuan pesantren yang membaca dan menjelaskan kandungan kitab kuning kepada para santri. Kiai zaman dulu selalu stanby di pondok dengan mencurahkan semua waktu dan perhatian kepada para santri.


Kedua, menjadi teladan baik bagi santri. Kiai tidak hanya membaca dan menjelaskan kandungan kitab kuning, kiai juga memberikan contoh bagaimana mengamalkan ilmu yang dimiliki. Dalam hal ini, Kiai harus aktif memimpin shalat jamaah, memberikan teladan shalat qabliyah-ba'diyah, shalat dhuha, shalat tahajjud, dan lain-lain. Kiai juga harus aktif membaca aurad dalam rangka taqarrub kepada Allah. Santri melihat, merekam, dan meniru teladan kiai.


Hal ini sesuai kaidah:
 

لسان الحال افصح من لسان المقال


Contoh yang baik lebih efektif dari sekadar ucapan


Ketiga, mengontrol santri secara ketat. Melihat tantangan sekarang yang kompleks, maka orientasi kualitas harus di kedepankan kiai dari pada orientasi kuantitas. Dalam konteks ini, maka dibutuhkan manajemen profesional dengan kontrol-pengawasan ketat supaya santri mematuhi tata tertib pesantren. Pagi, siang, sore, dan malam hari, santri harus dikontrol supaya berada di jalan yang tepat. Jangan sampai santri dibiarkan bermain tanpa batas, seperti main play station (PS), internetan, dan hal-hal yang tidak bermanfaat. Pesantren jangan takut ditinggal santri ketika menerapkan aturan ketat karena memang tangung jawab pesantren adalah mendidik dan membangun keilmuan, moralitas, dan mentalitas kader-kader andal di masa depan.


Keempat, memberikan pendidikan nasionalisme. Kiai zaman dulu mempunyai trik jitu sehingga berhasil membangun spirit nasionalisme (hubbul wathan minal iman) para santri. Kiai melarang santri memakai celana, dasi, makan makanan produk penjajah. Hal ini dilakukan supaya ada militansi dalam membangun pergerakan menuju kemerdekaan bangsa. 


Peran besar Kiai pesantren dalam mengusir penjajah ini diakui para pengamat Barat. Menurut mereka, jika di Jawa tidak ada kiai pesantren, maka belum tentu Indonesia mampu meraih kemerdekaan. Virus nasionalisme yang disuntikkan para kiai ini terbukti efektif dalam menggerakkan spirit umat Islam dan bangsa Indonesia dalam mengusir penjajah dari bumi Indonesia. 


Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy'ari dan Kiai Abbas Buntet adalah salah satu eksponen pesantren yang berada di garda depan pesantren dalam menggalang spirit mengusir penjajah demi meraih kemerdekaan.


Kelima, melahirkan kader penerus perjuangan bangsa. Pesantren zaman dulu mampu mencetak kiai yang berperan besar dalam membangun bangsa. Hadratus Syekh KHM Hasyim Asy'ari dan KHMA Sahal Mahfudh adalah tokoh bangsa yang lahir dari rahim pesantren. Maka pesantren sekarang harus belajar dari pesantren masa lalu supaya mampu melahirkan santri yang berkualitas tinggi yang menjadi motivator, dinamisator, dan inspirator kemajuan bangsa di segala aspek kehidupan.


Input pesantren harus berkualitas, jangan malah pesantren justru menjadi tempat pembuangan anak-anak nakal atau yang prestasinya di bawah standar. Justru yang belajar di pesantren harus anak-anak yang berkualitas tinggi sehingga diharapkan mampu menjadi tokoh pembangkit kemajuan bangsa sebagaimana masa lalu.


Keenam, jangan berorientasi materi. Pesantren didirikan jangan karena orientasi materi, misalnya menampung anggaran negara. Pesantren didirikan harus dalam rangka mendidik dan mengkader generasi penerus perjuangan agama dan bangsa. Orientasi materi akan merobohkan bangunan pesantren dan menjauhkan pesantren dari khittahnya sebagai lembaga pendidikan tafaqquh fiddin dan lembaga kemasyarakatan.


Ketujuh, ikhlas. Kiai dalam mendidik dan membimbing santri harus ikhlas karena Allah. Ulama zaman dulu meskipun retorikanya biasa, namun apa yang disampaikan masuk dan menghunjam kuat dalam sanubari santri sehingga menjadi lentera hidup. Banyak kiai yang retorikanya memukau, tapi tidak mampu menembus kalbu, apalagi mempengaruhi akhlak dan membentik pandangan hidup santri. Keikhlasan memegang peranan kunci sehingga para kiai mampu melahirkan santri-santri yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Wallahu a'lam bis shawab


H Jamal Ma'mur Asmani, Dosen Ipmafa dan Wakil Ketua PCNU Pati 


Opini Terbaru