• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 7 Oktober 2022

Opini

Kepemimpinan Otentik Vs Kepemimpinan Branding

Kepemimpinan Otentik Vs Kepemimpinan Branding
Foto: Ilustrasi (nu online jatim)
Foto: Ilustrasi (nu online jatim)

Pada dasarnya setiap orang adalah pemimpin. Rasulullah Saw bersabda yang maksudnya, 'setiap kamu sekalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya'.


Menjadi pemimpin memang tidak mudah. Memimpin diri sendiri saja butuh perjuangan yang sungguh-sungguh, apalagi jika diminta untuk memimpin orang lainnya dalam suatu komunitas organisasi, mulai dari kesatuan organisasi terkecil seperti keluarga, lingkungan rukun tetangga atau RT dan seterusnya hingga dalam lingkup yang lebih besar seperti ormas, orsospol, hingga tertinggi seperti negara bangsa.


Karakter kepemimpinan Rasulullah Saw adalah shidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathanah (cerdas), dan tabligh (menyampaikan hak kepada yang berhak). Menurut Nabi Muhammad Saw yang maksudnya, sebuah bangunan masyarakat akan berdiri kokoh apabila dipergunakannya ilmunya ulama, adilnya pemerintah, kedermawanan orang kaya, dan doa orang miskin.


Keempat unsur dalam kehidupan masyarakat tersebut harus saling melengkapi. Menurut Rasulullah Saw yang maksudnya, terdapat dua golongan yang berpengaruh besar terhadap umat, yakni ulama dan umara. Jika keduanya baik maka baiklah seluruhnya dan jika rusak, maka rusaklah seluruhnya.


Pengasuh Pesantren Lirboyo kediri KH Kafabihi Mahrus pernah menegaskan, ajaran agama merupakan panduan bagi pemimpin dan para pengikutnya. Apabila ada ulama berperan dalam politik maka ulama tidak boleh saling meniadakan. Yang dilakukan sahabat Abu Bakar Shiddiq ra memerangi orang yang membangkang tidak membayar zakat dan didukung sahabat Umar bin Khattab sehingga menjadi ijma sukuti.


Orang yang beriman selalu taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah Saw dan pemerintah. Taat pada pemerintah ada batasannya. Selama pemerintah memerintahkan yang baik dan menjauhi dosa maka wajib taat. Dalam kondisi apapun selama berbekal taqwa dan ilmu, Insyaallah akan baik-baik saja, apapun kedudukannya, apakah sebagai pemimpin atau pengikutnya.


Terdapat hubungan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin. Kalau masyarakat berkarakter baik, maka akan mendapatkan pemimpin yang baik. Dalan ajaran  agama agar dapat menjadi pemimpin yang baik, paling tidak harus dapat memiliki tiga karakter utama. Pertama, rasa khauf (takut kepada Alloh). Kedua bersikap roja (hanya berharap kepada Allah), dan mahabbah (cinta kepada Allah Taala). Jika seseorang memiliki karakter tersebut, maka merupakan merupakan kepemimpinan otentik, yang asli untuk mencapai kemaslahatan hidup umat. Di samping itu juga harus istiqamah, dalam pengertian kebaikan-kebaikan yang dilakukan jangan diputus. Tiada kebaikan yang disudahi, kebaikan yang disudahi itu tidak lebih baik dari keburukan yang disudahi. 


Selain itu kadang masih dijumpai adanya kepemimpinan hasil branding atau 'polesan' karena adanya promosi dan menciptakan kesan kepada publik seolah-olah dia merupakan pemimpin yang baik dan membawa masyarakat kepada kebaikan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Karena itu kenalilah calon pemimpin, bagaimana rekam jejaknya selama ini.


Dalam memilih pemimpin, apakah di lingkungan terkecil RT dan kepala negara atau di lingkungan pemimpin organisasi kemasyarakatan atau profesi, pahami dan kenali calon pemimpin yang otentik maupun yang polesan. Dalam skala nasional suksesi kepemimpinan akan dilangsungkan pada tahun 2024, tentu kami berharap nahdliyin khususnya untuk memilih pemimpin yang bukan polesan.


Semoga kita tetap dipimpin oleh para pemimpin yang dapat meneladani kepemimpinan Rasulullah Saw, keluarganya, para sahabat, dan pengikutnya yang setia, amin. Wallahu a'lam bis shawab


HM Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah 


Opini Terbaru