• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Opini

Menilik Pendidikan dan Bimbingan Konseling di Sekolah

Menilik Pendidikan dan Bimbingan Konseling di Sekolah
Bimbingan konseling di sekolah (Foto: Ilustrasi/gurupendidikan.com)
Bimbingan konseling di sekolah (Foto: Ilustrasi/gurupendidikan.com)

Bicara pendidikan di Indonesia, maka perlu lingkungan sekolah sebagai salah satu tempat anak memperoleh pendidikan sebagaimana dirumuskan dalam Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pada pasal 1 yang berbunyi: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Pendidikan dalam arti luas mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal, nonformal, maupun informal dalam rangka mewujudkan dirinya sesuai dengan tahapan tugasnya secara optimal sehingga ia mencapai suatu tarap kedewasaan tertentu. Oleh karena itu tujuan pendidikan adalah menjadi 'manusia yang baik' memiliki ciri: (a) aspek jasmani: badan sehat, kuat, serta mempunyai keterampilan, (b) Aspek akal: pikiran cerdas serta pandai, (c) aspek rasa, kalbu, ruhani: hati berkembang dengan baik.


Melihat kasus-kasus kekerasan di beberapa daerah di negeri ini termasuk kekerasan di lingkungan sekolah, seharusnya mendorong para pengambil kebijakan pendidikan untuk mengambil langkah-langkah antisipatif yang sifatnya edukatif dan preventif sebagai solusi. Tetapi, beberapa lembaga sekolah justru mengabaikan tujuan utama pendidikan yaitu mengembangkan pengetahuan, sikap dan nilai, dan keterampilan secara terintegrasi dan seimbang. Hal yang terjadi sekarang adalah sekolah telah memberikan porsi yang berlebih terhadap pengetahuan kognitif, akibatnya porsi untuk pengembangan sikap dan perilaku, nilai dan moral luhur sangat minim. Oleh karena itu peranan pendidikan perlu kiranya kita galakkan kembali berkaitan dengan kondisi tersebut.


Pendidikan Karakter Pancasila


Diharapkan melalui pendidikan karakter di sekolah akan tercipta generasi yang cerdas, bermoral, berakhlak mulia, dan berpendidikan. Pendidikan karakter adalah suatu system penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran, kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri yaitu kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. 


Hal ini tentunya menantang masyarakat Indonesia untuk meningkatkan penguatan nilai-nilai budi luhur sejak dini dengan mengimplementasikan pendidikan karakter terutama yang berwawasan pada kultur-sosial yang luhur dan bermartabat terutama di pendidikan formal maupun non formal Karakter yang sesuai dan ditunjukkan sikap yang berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, yaitu nilai karakter yang religius, peduli sosial, kemandirian, semangat kebangsaan, demokratis, toleransi, dan disiplin.


Nilai-nilai yang dapat diambil dari Pancasila untuk menguatkan pendidikan karakter adalah pada sila ke-1 ada nilai toleransi beragama dalam pendidikan karakter peserta didik. Pada sila ke-2 yaitu nilai memahami dan menghargai sesama manusia sehingga membentuk karakter yang beradab dan sila-sila yang lainnya. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama yakni beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, dan bernalar kritis.


Bimbingan Konseling Indonesia


Dalam bimbingan dan konseling komprehensif tediri atas empat komponen yaitu layanan dasar bimbingan, layanan responsive, system perencanaan individual, dan pendukung system.  Mengacu pada keterkaitan bimbingan dan konseling dan pendidikan, serta dengan pendidikan nasional berdasarkan atas konsep pendidikan, bimbingan, konseling dan bimbingan dan konseling maka peranan bimbingan dan konseling dalam pendidikan karakter pada dasarnya: 

  1. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Maka orientasi, tujuan, dan pelaksanaan BK juga merupakan bagian dari orientasi, tujuan dan pelaksanaan pendidikan karakter.
  2. Program bimbingan dan konseling di sekolah merupakan bagian inti pendidikan karakter yang dilaksanakan dengan berbagai strategi pelayanan dalam upaya mengembangkan potensi peserta didik untuk mencapai kemandirian dengan memiliki karakter yang dibutuhkan saat ini dan masa depan. 
  3. Pekerjaan bimbingan dan konseling adalah pekerjaan berbasis nilai, layanan etis normatif, dan bukan layanan bebas nilai. Seorang konselor perlu memahami betul hakekat manusia dan perkembangannya sebagai makhluk sadar nilai dan perkembangannya ke arah normatif-etis. Seorang konselor harus memahami perkembangan nilai, namun seorang konselor tidak boleh memaksakan nilai yang dianutnya kepada konseli (peserta didik yang dilayani), dan tidak boleh meneladankan diri untuk ditiru konselinya, melainkan memfasilitasi konseli untuk menemukan makna nilai kehidupannya. 


Dengan permasalahan yang ada salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah melalui bimbingan konseling. Mengingat bahwa di Indonesia saat ini layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan tanggung jawab guru dan wali kelas (guru kelas) serta guru bimbingan dan konseling itu sendiri. Personel professional bimbingan konseling baru ada di tingkat formal pendidikan dan beberapa non formal. Pendekatan perkembangan yang berorientasi pada penciptaan lingkungan perkembangan tepat digunakan, pendidikan salah satu pendekatan layanan bimbingan dan konseling.


Bimbingan Konsultasi Pancasila


Dalam pelayanan bimbingan dan konseling di Indonesia sebenarnya mengacu Pancasila yang sekarang dalam kurikulum merdeka sebagai profil pelajar Pancasila. Peran dan fungsi bimbingan dan konseling sesuai dengan profil pelajar Ppancasila  yang berorientasi pada 6 ciri utama yaitu beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu. (Ki Hadjar Dewantara)


Bila dikaitkan dengan implementasi kurikulum merdeka, peran layanan bimbingan dan konseling dalam Kurikulum Merdeka adalah sebagai koordinator dalam mewujudkan kesejahteraan psikologis peserta didik (student wellbeing) dan memfasilitasi perkembangan peserta didik agar mampu mengaktualisasikan potensi dirinya. Tugas guru BK adalah mengetahui dan juga memahami perilaku dan teknik konseling pada peserta didik sehingga mampu membantu peserta didik mengatasi permasalahannya. Bidang keilmuan yang berperan untuk melakukan bimbingan konseling antara lain ilmu pendidikan, sosial, psikologi dan ilmu konseling.


Bimbingan dan konseling berperan sebagai wadah untuk membantu siswa mengembangkan potensi dirinya menuju kemandirian. Selain itu bimbingan dan konseling juga berfungsi memberikan pemahaman, pencegahan, pengentasan, serta pemeliharaan dan pengembangan. Bimbingan konseling memang memiliki peran dan kedudukan yang penting bagi peserta didik. Peran bimbingan dan konseling itu sangat membantu meningkatkan mutu pendidikan. Karena bimbingan dan konseling ini bisa membantu mencari solusi atas masalah yang terjadi didunia pendidikan.


Merdeka belajar diharapkan dapat memenuhi kebutuhan peserta didik dengan gaya belajar, potensi, serta minatnya yang beragam. Dalam hal ini kreativitas guru dan sekolah untuk melaksanakan pembelajaran dan assesmen yang kontekstual. Dalam kerangka pembelajaran yang merdeka, pemerintah hanya mengatur rumusan 'Capaian Pembelajaran dan Profil Pelajar Pancasila' sebagai tujuan utama dari proses pembelajaran. Selebihnya, guru dan sekolah diberi keleluasaan dalam mengembangkan berbagai strategi untuk dapat mencapai tujuan tersebut.
 

Peran Organisasi Profesi

 
Peran profesi salah satu di antaranya menciptakan nilai tambah bagi para anggota, melayani kepentingan profesi melalui pemberlakuan regulasi dan adanya professional-public partnership. Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (Abkin) adalah organisasi profesi di Indonesia yang beranggotakan guru bimbingan dan konseling atau konselor. Awalnya organisasi ini bernama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) yang didirikan pada tanggal 17 Desember 1975. Misi utama organisasi profesi adalah untuk merumuskan kode etik dan kompetensi profesi serta memperjuangkan otonomi profesi, dan kegiatan pokok organisasi profesi adalah menetapkan serta merumuskan standar pelayanan profesi, standar pendidikan dan pelatihan profesi serta menetapkan kebijakan profesi. 


Suatu organisasi profesi dapat mengembangkan dan memajukan profesi, memantau dan memperluas bidang gerak profesi, menghimpun dan memberikan kesempatan kepada semua anggota untuk berkarya, dan berperan aktif dalam mengembangkan dan memajukan profesi serta up date dengan perkembangan pendidikan dan peserta didik. Maka perlu dimunculkan dan diimplementasikan dalam kehidupan pendidikan di Indonesia dan kehidupan se hari-hari. Suatu produk pendidikan yaitu manusia yang memiliki jiwa pancasila melalui konsep bimbingan dan konseling Pancasila. Profesi Abkin perlu mengaji agar manusia Indonesia menjadi manusia beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.


Dr Drs H Tri Leksono Ph SKom, MPd, Wakil Rektor Unisvet Semarang dan Ketua PD Abkin Jawa Tengah


Opini Terbaru