• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Opini

Bulan Muharram, Momen Tingkatkan Kualitas Amal

Bulan Muharram, Momen Tingkatkan Kualitas Amal
Foto: Ilustrasi (nu online)
Foto: Ilustrasi (nu online)

Sebagai bulan pertama dan pembuka tahun kalender hijriah, Muharram menjadi salah satu dari empat bulan suci yang disebut dalam Al-Qur'an. Dalam banyak riwayat hadits menyebutkan bahwa Bulan Muharram memiliki beragam keistimewaan. Bulan Muharram memiliki keutamaan yang berbeda dari bulan-bulan hijriah lainnya. Menurut Imam as-Suyuthi penamaan bulan Muharram sudah ada sejak zaman jahiliyah.

 
Pada zaman dahulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram dengan nama Shafar Awal. Begitu Islam datang, Allah SWT mengganti nama bulan tersebut dengan Muharram. Penamaan bulan tersebut disandarkan pada Allah SWT. Para sahabat dan ulama saleh terdahulu menjadikan Muharram sebagai bulan untuk memperbanyak amal saleh. Di bulan ini mereka menghidupkan puasa sunnah, berzikir, dan memperbanyak amal kebaikan lainnya.
 

Bulan Muharram adalah bulan yang sangat baik untuk melakukan segala bentuk kebaikan. Karena bulan ini Allah melipatgandakan pahala begitu sebaliknya Allah SWT juga melipatgandakan dosa jika seseorang melakukan perbuatan maksiat. Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan keutamaan bulan Muharram yang artinya: "Allah SWT mengkhususkan empat bulan haram dari 12 bulan yang ada. Bahkan menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa di samping melipatgandakan perbuatan baik." (Ibnu Katsir)
 

Keutamaan lain pada bulan Muharram adalah hari Asyura yang dalam kalender Islam merupakan hari kesepuluh pada bulan Muharram. Dijelaskan bahwa hari Asyura adalah hari istimewa, karena banyak peristiwa bersejarah pada hari tersebut. Para nabi terdahulu mendapatkan peristiwa yang luar biasa pada bulan Muharram, tepatnya pada hari Asyura. Sehingga pada bulan ini menjadi bulan kemuliaan bagi para nabi. Antara lain, seperti:

 
Nabi Adam AS pada tanggal 10 Muharram diterima taubatnya oleh Allah. Ini merupakan awal mula nabi Adam dipertemukan dengan Siti Hawa setelah sebelumnya dipisahkan karena kelalaian yang telah diperbuat. Selain itu terdapat nabi Musa AS dan kaumnya yang diselamatkan oleh Allah dari tentara Fir'aun, dan lain sebagainya.  
 

Rasulullah SAW pun sangat menganjurkan untuk mengamalkan ibadah puasa di bulan Muharram. Seperti puasa Asyura dan puasa Tasu'a.


شَهْرُ الله المُحَرَّمُ ، وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ


"Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam," (HR Muslim).
 

Selain itu, Muharram adalah momen terbaik untuk kita mengasihi orang-orang yang membutuhkan seperti mereka yang kurang mampu atau anak yatim  dengan memperbanyak sedekah. Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang gemar berbagi dan peduli terhadap sesamanya. Tatkala seorang muslim mengerjakan amal shaleh itu guna mencari ridha-Nya, maka di akhirat kelak akan mendapatkan balasan yang sungguh luar biasa.
 

Dalam tradisi masyarakat kita, 10 Muharram dikenal dengan hari raya anak yatim. Hari tersebut menjadi momentum untuk berbagi kebahagian dan menyantuni anak yatim. Rasulullah SAW bersabda yang artinya "Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada'. Dan barangsiapa mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya." (Kitab Tanbihul Ghafilin).

 
Mengenai makna dari mengusap kepala anak yatim adalah dengan memberikan kasih sayang dan bersikap lemah lembut terhadap mereka. Bentuk kasih sayang dapat diaplikasikan dengan bersedekah kepada mereka, memberikan santunan sandang pangan, juga termasuk mengurus dan merawat mereka.

 
Meskipun beberapa ulama menyebutkan bahwa hadits menyantuni anak yatim pada hari Asyura adalah dha'if atau lemah. Namun terdapat ulama juga menyebutkan bahwa kita diperbolehkan untuk mengamalkan hadits dha'if dalam perkara amal kebaikan selama haditsnya tidak maudhu atau palsu. Wallahu a'lam bis shawab


Nuri Karrahma, Sunanggul, Kecamatan monggo, Kabupaten Jepara


Opini Terbaru