• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 7 Oktober 2022

Opini

Membangun Peradaban Islam Atas Dasar Ilmu

Membangun Peradaban Islam Atas Dasar Ilmu
Foto: Ilustrasi (istimewa)
Foto: Ilustrasi (istimewa)

Peradaban Islam dibangun sejak Nabi Adam as dengan pengakuan bahwa ia termasuk orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri karena pernah melanggar perintah Allah SWT agar tidak mendekati pohon kuldi. Namun karena godaan hawa nafsu, akhirnya ia memakan buah terlarang tersebut. Namun setelah diberikan sanksi diturunkan ke muka bumi, ia menyadari kekeliruannya, dan mohon ampun dan welas asih dari-Nya.


Begitu juga Nabi Yunus as, setelah ia pergi meninggalkan kaumnya dalam perjalanan lewat perahu, ia dimakan ikan raksasa. Di dalam perut ikan itu, ia mengakui tiada Tuhan selain Engkau yang Maha Suci, sesungguhnya kami termasuk orang yang menganiaya dirinya sendiri. Kemudian ia terselamatkan dari acaman tersebut. 


Dengan demikian peradaban Islam dibangun atas dasar ilmu dan berserah diri kepada-Nya hingga umat Islam dapat bangkit dari keterpurukan mencapai keselamatan dan kebahagiaan lahir batin, dunia akhirat. Peradaban Islam tidak dapat dibangun dengan kesombongan dengan menuhankan apa pun selain-Nya. Manusia adalah makhluk yang lemah, penuh keluh kesah, dan tempatnya lalai dan salah. 


Dengan sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Alloh Taala memberikan petunjuk kepada Nabi dan para utusan-Nya yang berupa wahyu untuk disampaikan kepada seluruh umatnya. Manusia juga diberikan hati dan akal serta panca indera agar manusia dapat mengambil pelajaran dari setiap kejadian yang dialaminya. Dengan perangkat tersebut, manusia dapat menerima petunjuk, serta dapat membedakan mana yang benar dan salah, hak dan batil, serta mempertimbangkan maslahat dan madlaratnya.


Namun demikian manusia juga diberikan nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan. Karena itu dalam diri manusia terdapat pertentangan antara yang hak dan yang batil. Hal ini tergantung lebih kuat mana antara pengaruh hati dan nafsunya. Bila lebih kuat hatinya dalam menerima hidayah Allah Taala, maka ia akan bahagia selamanya. Dan begitu juga sebaliknya. 


Sikap menerima atau menolak hidayah, memang tergantung pada faktor pembawaan dan lingkungan manusia itu sendiri. Setiap manusia menurut Rasulullah Saw dilahirkan dalam keadaan suci. Dan tergantung kedua orang tuanya atau lingkungan sosial, apakah dia akan menjadi Nasrani atau Majusi. Karena itu faktor lingkungan sosial sangat kuat pengaruhnya ketimbang faktor pembawaan atau fitrah manusia yang suci.


Karena itu membangun peradaban manusia yang adil dan beradab, tergantung ihtiar manusia itu sendiri. "Apa yang menimpamu dalam kebaikan adalah dari Allah Taala, sedangkan apa yang menimpamu berupa keburukan adalah dari dirimu sendiri". Dari sini lah berlaku hukum alam atau hukum sebab akibat. 


Pada awalnya manusia adalah umat yang satu. Kemudian dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal satu sama lainnya. Kemudian mengapa di antara mereka terjadi konflik dan peperangan yang menelan korban yang tidak sedikit? Konflik dan bahkan perang terjadi karena gagalnya perundingan untuk memperebutkan sumber daya yang bernilai bagi manusia. Sebenarnya sumberdaya yang disediakan oleh Allah Taala sangat cukup bagi semua makhluk-Nya. Namun bagi manusia yang dikuasai hawa nafsunya ia merasa tidak cukup mendapatkan bagiannya. Karena itu ia merampas hak milik manusia lainnya dengan berbagai tipu daya.


Karena itu membangun peradaban Islam, hendaknya dibangun atas dasar sabar dan syukur. Kedua kata kunci ini memiliki makna yang luas, sabar sesuai konteksnya. Tekun dalam menjalankan ketaatan, bertahan dari godaan, dan bertawakal ketika tertimpa musibah. Sedangkan syukur adalah memanfaatkan seluruh nikmat yang diterimnya guna beribadah. Wallahu a'lam bis shawab


H Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah


Opini Terbaru