• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 19 April 2024

Fragmen

MUKTAMAR KE-34 NU

Kerja Sama Kiai dan Warga, Kunci Sukses Terselenggaranya Muktamar tahun 1939 (6)

Kerja Sama Kiai dan Warga, Kunci Sukses Terselenggaranya Muktamar tahun 1939 (6)
Para ulama berfoto bersama di depan lokasi Muktamar NU di Magelang, tahun 1939 (Dok. Istimewa)
Para ulama berfoto bersama di depan lokasi Muktamar NU di Magelang, tahun 1939 (Dok. Istimewa)

Akhirnya, Muktamar ke-34 NU jadi digelar di Lampung. Berbagai persiapan tentu telah dilakukan oleh pihak panitia penyelenggara. Mulai dari soal lokasi, fasilitas, akses transportasi dan sebagainya.

 

Baca juga:

Muktamar NU dari Masa ke Masa (1)

Untuk Pertama Kalinya, Muktamar NU Dihelat di Jawa Tengah (2)

Muktamar NU Tahun 1930 di Pekalongan Dihadiri Ribuan Ulama (3)

Kota Bengawan Jadi Tuan Rumah Muktamar NU Tahun 1935 (4)



Namun, seberapa banyak serta sulitnya persiapan yang dilakukan, tentu tak lebih sulit dibandingkan dengan persiapan yang dilakukan panitia Muktamar NU di masa lampau. Terlebih ketika dilaksanakan di zaman penjajahan. Salah satunya Muktamar ke-14 NU di Magelang yang dilaksanakan pada bulan Juli tahun 1939.


Seperti yang dikisahkan KH Saifuddin Zuhri dalam salah satu bukunya yang berjudul Berangkat dari Pesantren (BDP). Ketika itu, ayah Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin tersebut, yang sedang mengemban amanah sebagai Sekretaris Majelis Konsul NU Daerah Banyumas ikut terlibat dalam mempersiapkan terselenggaranya Muktamar NU.


Sehabis Muktamar ke-13 di Menes, Konsul Raden Haji (RH) Mukhtar bekerja keras untuk 'membabat hutan' serta meratakan jalan menuju ke muktamar Magelang. dengan didampingi Sekretaris Majelis Konsul Kiai Ahmad Zuhdi, dibantu Ketua NU Cabang Purworejo KH Jamil dan Ketua Cabang Temanggung di Parakan, Mas Fandi. Konsul RH Mukhtar memasuki Kota Magelang yang baginya masih asing. Berhari-hari ia pelajari situasi dan kondisi Magelang dan sekitarnya, sesudah itu barulah direncanakan dari mana kerja harus dimulai. (BDP hal. 178)


Berbagai pendekatan kemudian dilakukan panitia untuk mensosialisasikan muktamar, dengan ikut meramaikan shalat berjamaah dan Jumat di beberapa tempat, mengunjungi berbagai pesantren dan pengajian. Dengan berbagai usaha dan sosialisasi tersebut, bangkitlah semangat para ulama di sekitar Magelang beserta para santrinya. Semangat mereka tergugah untuk menerima Muktamar NU.


Namun, yang lebih penting panitia juga telah mendapat dari para ulama besar di sekitar Magelang. Mereka adalah KH Dalhar Watucongol Muntilan, KH Raden Alwi Tonoboyo, KH Moh. Siraj Wates Magelang, dan KH Hudlori Tegalrejo. Dengan kata lain, panitia juga telah menemukan 'empat pintu', empat arah angin daerah Magelang dari keempat kiai tersebut.


Gotong Royong


Segala persiapan telah dilakukan dari panitia. Lalu, bagaimana soal dana penyelenggaraan? Dukungan dana rupanya tidak hanya mengandalkan para donatur. Beberapa hari sebelum pembukaan muktamar, masyarakat setempat secara berduyun-duyun mengunjungi kantor Hoofd Committee Congres (HCC) NU yang berpusat di Hotel Semarang Pacinan Magelang.


Mereka secara beriring-iringan memikul beras, sayuran, kayu bakar, menuntun beberapa ekor kambing dan membawa beberapa ekor ayam. Dalam pembukaan muktamar, sumbangan-sumbangan itu diumumkan. (BDP hal. 180)


Pada akhirnya, dengan semangat, restu, dan dukungan dari berbagai pihak tersebut, selama seminggu (15 - 21 Juli 1939), Muktamar ke-14 NU di Magelang dapat terlaksana dengan lancar.


Muktamar ke-14 di Magelang tahun 1939, tercatat dihadiri oleh 358 utusan Syuriyah, 123 Tanfidziyah, 33 Pemuda Ansor NU, 25 Muslimat, 50 anggota Barisan Ansor NU (BANU), dan 181 anggota panitia


Penulis: Ajie Najmuddin
Editor: M Ngisom Al-Barony


Fragmen Terbaru