• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Rabu, 18 Mei 2022

Tokoh

Mengenal Simbah KH Abdullah Dimyathi Bengkah Demak

Mengenal Simbah KH Abdullah Dimyathi Bengkah Demak
Almaghfurlah KH Abdullah Dimyathi (Foto: bengkah.com)
Almaghfurlah KH Abdullah Dimyathi (Foto: bengkah.com)

KH Dimyathi Bengkah, Wonosekar, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak terlahir dengan nama Abdullah Dimyathi merupakan putra ke-4 dari Raden Mas KH Sanusi Karanggondang Grobogan keturunan dari Kerajaan Demak. Kiai Dimyathi lahir sekitar tahun 1862 dan wafat pada Sabtu wage 26 September 1943 M atau bertepatan dengan 16 Ramadhan 1631 H. Berasal dari sebuah desa kecil yang bernama Karanggondang yang terletak di sebelah barat Desa Brabo, Kabupaten Grobogan. Masa kecilnya dihabiskan untuk belajar mengaji dengan ayahandanya yakni Simbah Sanusi.


Pada masa remaja Kiai Dimyathi mengembangkan wawasan keilmuannya ke Pesantren Langitan, Tuban, Jawa Timur dan sekembalinya dari menimba ilmu di pesantren, langsung menularkan ilmunya yang didapatnya sewaktu belajar di Langitan di tanah kelahirannya yakni di Desa Karanggondang. Pada saat usia dewasa dirinya melaksanakan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah Al-Mukaramah dengan menggunakan alat transportasi kapal laut dan memakan waktu berbulan-bulan serta singgah di beberapa tempat.


Pada saat jamaah haji singgah di Malaysia (orang-orang jawa menyebutnya dengan Singapura) mbah Dim menikahi wanita setempat dan dikaruniai seorang anak perempuan yang bernama Ngatemi, kemudian anak perempuannya ini menikah dengan penduduk setempat melahirkan dua orang putra yakni Abdul Hamid dan Asror (Selar). Setelah beberapa lama tinggal di Malaysia Mbah Dim kembali ke tanah air dan menikah dengan Simbah Nyai Shofiyah yang berasal dari Kalikondang, Karangtengah, Demak. Pada saat menikah, Simbah Nyai Shofiyah telah dikaruniai seorang putra hasil pernikahan dengan suami terdahulunya, putranya bernama Simbah KH Ali Noreh.


Hijrah ke Bengkah


Setelah Mbah Dimyathi menikah dengan Mbah Shofiyah, Mbah Dim langsung memboyongnya bersama putranya Simbah KH Ali Noreh ke Karanggodang. Pada saat mukim di Karanggondang inilah Mbah Dim diajak oleh sahabatnya yang bernama mbah Abdul jalil yang merupakan warga Asli dusun Bengkah untuk hijrah ke desa tersebut agar menyebarkan dan mengajarkan ilmu agama. Pada masa itu desa bengkah masih berupa hutan belantara dan rumah penduduk masih sangat sedikit, penduduknya pun masih abangan. Mbah Dimyathi mengamini ajakan sahabatnya itu untuk pindah ke Desa Bengkah.

 
Awal Dakwah


Pada awal hijrah Mbah Dim ke Bengkah langsung membangun sebuah masjid yang dijadikannya sebagai pusat pengajaran tentang ilmu-ilmu keislaman dan saat itu banyak santri yang datang menimba ilmu kepada Mbah Dim. Langkah berikutnya setelah melihat santri semakin banyak maka mendirikan pesantren yang semakin lama semakin ramai dan santrinya pun berasal dari berbagai pelosok daerah.  


Karomah Simbah Dimyathi 


Dikutip dari bengkah.com Simbah Dimyathi adalah seorang ulama yang bersikap zuhud, wara, sederhana, dan penuh tawakkal. Mbah Dim tidak pernah makan nasi akan tetapi laku riyadhah hanya makan kunir semasa hidupnya. Di antara karomahnya adalah suatu hari ada seseorang yang ingin menguji kesaktiannya, orang tersebut berinisiatif untuk mencuri di rumah Mbah Dim kebetulan yang dicuri oleh orang tersebut adalah peralatan dapur seperti piring, gelas, dan sebagainya, kemudian piring-piring tersebut setelah dikemasi hendak dibawa, tetapi pencuri tersebut tidak kuat untuk mengangkatnya lalu pencuri tersebut mengurangi barang akan dicurinya itu berkali-kali tapi anehya dia tidak kuat juga mengangkatnya sampai keesokan harinya Mbah Dim memanggil “Sup ke sini makan bersama-sama," kemudian si pencuri tersebut dinasehati dengan lemah lembut oleh Mbah Dimyathi.


Karomah yang kedua, Simbah Dimyathi adalah seorang waliyullah yang terkenal dengan macannya. Dirinya memiliki beberapa macan (harimau) yang digunakan sebagai kendaraan saat bepergian. Banyak cerita-cerita yang mengisahkan tatkala Mbah Dim pergi ke Demak, Waruk, Ngroto, dan ke tempat–tempat lainnya sering menggunakan macannya tersebut. Ada beberapa orang yang mengaku pernah diajak Mbah Dim untuk menaiki kendaraannya tersebut. Konon ceritanya orang yang naik macan tersebut harus memejamkan mata dan tidak boleh menengok ke belakang. Ada salah seorang yang diboncengkan naik macan kemudian dia melanggar ketentuan tadi dengan menengok kebelakang akibatnya orang tersebut jatuh dan tertinggal di daerah tempat dia menengok.  


Menurut cerita orang yang pernah naik macannya Mbah DIM, tatkala naik terasa telinganya terkena angin ( terdengar suara uwuk, uwuk, uwuk dalam bahasa jawa) dan kakinya terkena pucuk pohon bambu. Dahulu macan tersebut acap kali muncul dan menampakkan diri, konon ceritanya ada doa khusus untuk memanggil dan mengusir macan tersebut. Doa tersebut diijazahkan kepada putranya yakni Simbah KH Dzanuri kemudian doa tersebut oleh Mbah Dzanuri diijazahkan kepada putranya bernama Mbah Yai Juned, akan tetapi yang diijazahkan adalah doa untuk mengusirnya saja. Lahul fatihah


Pengirim : Eko Siswanto
Sumber : Gus Aula Ulil Azmi


Tokoh Terbaru