• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Tokoh

Mengenang KH Ahmad Umar Mangkuyudan Solo

Mengenang KH Ahmad Umar Mangkuyudan Solo
KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan (Sumber: NU Online)
KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan (Sumber: NU Online)

Wasiate Kiai Umar maring kita
Mumpung sela ana dunya dha mempenga
Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati
Aja isin aja rikuh kudu ngaji


Penggalan syair yang diambil dari shalawat wasiat tersebu, tertulis di depan Masjid Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Laweyan, Surakarta. Penulis syair tersebut, tiada lain seorang tokoh ulama dari Mangkuyudan Surakarta yakni Allah yarham KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan.

Kiai Umar yang lahir pada 5 Agustus 1916 merupakan seorang tokoh ulama kharismatik dari Solo. Menurut KH Abdullah Sa’ad (wafat 2020), Kiai Umar termasuk sebagai salah satu ‘cagak bumi’ pada zamannya.

“Kiai Maksum Lasem, Rembang suatu ketika pernah menyebut, ada beberapa ulama yang menjadi ‘cagak bumi’, mereka yakni KH Arwani Amin Kudus, KH Abdul Hamid Pasuruan, Habib Anis Al-Habsyi Solo dan KH Umar Abdul Mannan Solo,” ungkap Pengasuh Pesantren Al-Inshof Mojosongo itu, pada suatu kesempatan.

Dari beberapa kesempatan penulis berziarah ke sana, makam Kiai Umar setiap hari hampir tak pernah sepi dari peziarah. Apalagi ruang kecil di sebelah barat masjid pesantren itu, sering digunakan untuk tempat mengaji para santri. Para santri meneruskan apa yang telah dirintis oleh Kiai Umar, sejak puluhan tahun yang lalu. Seperti halnya para santri, sejatinya Kiai Umar pun meneruskan apa yang telah dibangun oleh para pendiri.

Dahulu, sebelum berdiri pondok dan masjid, kegiatan pengajian yang dipimpin KH Abdul Mannan masih dipusatkan di sebuah langgar panggung di Kampung Mangkuyudan. Pada tahun 1937, Kiai Abdul Mannan memanggil Kiai Umar muda yang tengah nyantri, untuk pulang kampung, menggantikan mengelola langgar.

Pada perkembangannya, setelah dipegang Kiai Umar langgar panggung tersebut semakin ramai dengan para santri yang berdatangan dari berbagai daerah. Bahkan, bagian bawah langgar pun tak cukup untuk menampung tempat tinggal para santri.

Kiai Umar kemudian memohon kepada sang ayah untuk membeli sebagian tanah milik KH Ahmad Shofawi. Pada awalnya KH Ahmad Shofawi keberatan menjual tanah karena beliau sendiri tidak berkeberatan tanahnya digunakan untuk pondok pesantren. Namun akhirnya KH Ahmad Shofawi bisa memahami alasan rencana pembelian tanah oleh keluarga KH Abdul Mannan.

Lalu dibelilah sebidang tanah untuk pondok tak jauh dari  Langgar Panggung. Untuk membeli tanah ini, KH Abdul Mannan menjual sebidang tanah miliknya yang terletak di sebelah selatan Stasiun Purwosari dekat Kantor Pajak sekarang.

Pondok itu kemudian dibangun pada tahun 1947 dan diberi nama Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan yang di sebelah baratnya telah berdiri Masjid Al-Muayyad seluas 183 meter persegi yang merupakan wakaf dari KH Ahmad Shofawi. Masjid ini dibangun pada tahun 1942 dan status wakafnya tercatat secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Laweyan Surakarta.

Rujukan Santri

Sebelum pulang kampung, Kiai Umar sempat nyantri di beberapa pesantren di antaranya Tremas Pacitan, Mojosari Nganjuk, Popongan Klaten dan Krapyak Yogya. Di pesantren yang terakhir disebut inilah Kiai Umar mendapatkan silsilah keilmuannya di bidang Al-Qur’an yang bersambung mulai dari pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarta KHR Moehammad Moenawwir hingga Nabi Muhammad SAW.

Oleh sebab itulah, sebutan Pesantren Al-Qur'an juga melekat kuat pada Pesantren Mangkuyudan, sebutan lain Al-Muayyad, hingga sekarang. Pada zaman itu, Kiai Umar menjadi rujukan utama bagi santri-santri yang ingin mengaji Al-Qur'an, baik bin nazdar ataupun bil ghaib.

Kepada Kiai Umar, santri-santri di berbagai penjuru untuk menyambungkan sanad dan ngalap berkah Kiai Moenawwir Krapyak. Meski demikian, tidak semua santri mendapatkan ijazah atau sanad langsung dari Kiai Umar. Sebab, Kiai Umar terbilang sangat berhati-hati. Meski murid tahfidzul Qur'an-nya ribuan, namun tidak banyak santri diketahui telah mendapatkan ijazah sanad Al-Qur’an.

Hal ini disebabkan persyaratan ketat yang ditetapkan sang kiai yang meliputi akhlak, ketekunan dalam beribadah serta kesungguhan dalam mengaji. Dalam mengajar Al-Qur’an, selain telaten dalam mendidik Kiai Umar juga memiliki cara tersendiri.

Hal ini diungkapkan salah satu keponakannya, KH M Dian Nafi’. Menurut Kiai Dian yang kini mengasuh Pesantren Al-Muayyad cabang Windan Sukoharjo, ia begitu kagum dengan cara menanamkan hafalan Al-Qur’an Kiai Umar kepada para saudaranya yang masih kecil.

“Cara mendidik Mbah Umar kepada adik-adiknya seperti sedang ‘bermain’. Sehingga, adik-adik beliau sudah dapat hafal Al-Qur’an dalam waktu usia yang relatif masih kecil. Saya menyebut metode tersebut dengan istilah bahasa abjektif. Yakni, bahasa tanpa gramatika, seperti bahasa bayi, tak terstruktur tapi dapat dipahami orang di sekitarnya. Bahkan, memiliki muatan pesan yang universal,” terang Ketua RMI PBNU itu.

Dari metode tersebut ikut memberi andil, sehingga adik-adiknya di kemudian hari juga menjadi para ahli Al-Qur’an. Mereka antara lain KH M Nidhom (Pendiri Pesantren di Masjid Al-Wustho Mangkunegaran Solo) dan KH Ahmad Jisam (Pendiri Pesantren Gondang Sragen).

Pada kurun waktu hingga awal 70-an, lahir pula generasi santri yang kelak menjadi ulama besar di zamannya, di antaranya KH Salman Dahlawi (Pesantren Al-Manshur Popongan/Mursyid Thariqoh Naqsabandiyah Khalidiyyah), KH Baidlowi Syamsuri (Pengasuh Pesantren Sirojut Tholibin Brabo), dan lain sebagainya.

Membesarkan NU

Di tengah kesibukannya dalam mengajar, Kiai Umar ikut memperhatikan keberlangsungan Jamiyah Nahdlatul Ulama, khususnya di wilayah Soloraya. Di masa kepemimpinannya, Al-Muayyad bergabung menjadi anggota Rabithah Ma’ahid Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMINU) dengan Nomor Anggota: 343/B Tanggal: 21 Dzul Qa’dah 1398 H/23 Oktober 1978 M di bawah pimpinan KH Achmad Syaikhu.

Pengasuh Pesantren Al-Muayyad KH Abdul Rozaq Shofawi menuturkan, dukungan Kiai Umar kepada NU begitu luar biasa. “Salah satu kisah, ketika NU memutuskan keluar dari Masyumi, setelah istikharah Mbah Umar langsung mengganti papan Masyumi yang tadinya dipasang di sekitar kompleks pondok dengan papan NU,” ujarnya kepada penulis di kediamannya.

Pun ketika terjadi kemelut pada NU, yang berujung pada terbelahnya NU menjadi 'dua kubu', yakni 'kubu Situbondo' dan 'kubu Cipete', sebelum akhirnya diputuskan untuk kembali ke khittah 1926 pada Muktamar ke-27 di Situbondo tahun 1984.

Kiai Dian Nafi’ yang kala itu masih muda, bertanya kepada Kiai Umar perihal kejadian ini. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Kiai Umar.

“Orang itu pangkatnya lain-lain. Ada yang pangkatnya memikirkan NU, ada yang pangkatnya mengurusi NU. Lha, kita ini baru sampai pangkat mengamalkan NU. Ya sudah, bagian kita ini saja kita laksanakan. Mengajar santri, ngopeni orang kampung. Jangan sampai terlalu banyak orang memikirkan dan ngurusi NU tapi langka yang mengamalkannya,” kata Kiai Dian menirukan jawaban Kiai Umar.

KH Ahmad Umar wafat pada tanggal 11 Ramadhan 1400 H/24 Juli 1980 M dan dimakamkan di belakang masjid Al Muayyad. Lahul fatihah.

Penulis: Ajie Najmuddin


Tokoh Terbaru