• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Tokoh

Meneladani KH Ahmad Fauzan Jepara sebagai Pejuang Kemerdekaan

Meneladani KH Ahmad Fauzan Jepara sebagai Pejuang Kemerdekaan
Almaghfurlah Kiai Fauzan Jepara (Foto: Istimewa)
Almaghfurlah Kiai Fauzan Jepara (Foto: Istimewa)

KH Ahmad Fauzan atau Kiai Fauzan lahir pada tahun 1320 H/1905 M di Dukuh Penggung, Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari (dahulunya kKecamatan Mayong) Kabupaten Jepara. Kiai Fauzan lahir dari keluarga Ibu Nyai Thahirah binti Kiai Harun bin Kiai Arif dan KH Abdul Rasul bin Kiai Ahmad Sanwasi. Silsilah nasab Kiai Fauzan bersambung sampai Kiai Umar, ayah Kiai Soleh Darat (waliyyullah) Semarang, sebab kiai Ahmad Sanwasi adalah menantu Kiai Umar. (Masyhud 2016). 


Kiai Fauzan memperdalam ilmu agama Islam di Pesantren Bale Kambang Mayong sekarang masuk wilayah Nalumsari Jepara. Di bawah asuhan dan bimbingan KH Chasbullah, kemudian ke Pesantren Kasingan Rembang dalam asuhan KH Kholil dilanjutkan ke tanah suci Makkah (Masyhudi 2013). Selesai dari Makkah Kiai Fauzan menekuni kajian ilmu keislaman secara mendalam serta menghafal Al-Qur`an kepada KH Soleh Tayu pati. Di antara karomahnya adalah mampu menghafalkan Al-Qur`an hanya dalam waktu kurang dari 100 hari.


Perjuangan Era Kemerdekaan


Pada saat kekosongan kekuasaan setelah belanda dikalahkan Jepang, terjadi penjarahan aset di Pegadaian Jepara oleh beberapa oknum pejabat untuk mengambil kesempatan. Hal tersebut membuat masyarakat kecil terdorong ikut-ikutan menjarah sehingga timbul kekacauan dan kerusuhan. Sebagai tokoh agama beliau diminta Jepang untuk mengimbau pengembalian barang jarahan. Atas kharisma beliau masyarakat bersedia mengembalikan barang jarahan. namun setelah barang dikembalikan justru Almaghfurlah Kiai Fauzan di dakwa sebagai biang kerusuhan dan kekacauan tersebut. Kiai Fauzan ditangkap oleh Jepang kemudian disiksa serta mengalami penderitaan yang luar biasa. Kondisi ini disebut beliau sebagai masa dalam 'pesakitan'. Namun karena tidak terbukti, akhirnya dibebaskan oleh Jepang (Rohman 2018).


Kiai Fauzan adalah ulama Jepara yang gigih dalam perjuangan menentang dan mengusir penjajah serta mempertahankan kemerdekaan. Pada tahun 1945 suatu peristiwa yang menggemparkan, terjadi di wilayah Pati. Para kiai berkumpul dan bermusyawarah agar tentara Jepang segera menyerah. Secara aklamasi, para kiai bersepakat agar Kiai Fauzan memimpin penyerangan melawan tentara Jepang. Berkat perjuangan, tulus ikhlas dan tekad bulat akhirnya niat untuk mengusir penjajah Jepang dikabulkan oleh Allah SWT, seluruh pasukan Jepang bertekuk lutut pada rakyat Indonesia di Pati. (Styawan 2016)


Kiai Fauzan aktif bergerilya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Berbagai perlawanan dilakukan untuk menghadang Belanda sampai di Jepara. Di antaranya menggelar pengasmaan bambu runcing di halaman Masjid Darussalam Saripan Jepara untuk meningkatkan daya juang para pejuang. Oleh karenanya Kiai Fauzan menjadi incaran tentara kolonial Belanda, di mana saja selalu dikejar-kejar sampai dibuatkan sayembara siapa saja yang memberitahukan keberadaanya akan diberikan hadiah oleh Belanda. Beberapa kali lolos dari penyergapan atas izin Allah meskipun dirinya sudah dalam keadaan terkepung. Menjelang kekalahan Belanda Kiai Fauzan tertangkap oleh tentara Belanda di Bangsri kemudian dimasukkan ke dalam sel tahanan Belanda di Jepara. Namun setelah terjadi penyerahan kedaulatan dari tangan Belanda kepada Republik Indonesia tahun 1949, Kiai Fauzan dibebaskan dari tahanan. (Rohman 2018)


Perjuangan Era Mengisi Kemerdekaan


Setelah bebas, Kiai Fauzan kembali ke masyarakat dalam rangka ikut mengisi kemerdekaan. Dirinya langsung diangkat oleh Pemerintahan RI dan diamanati membangun serta memimpin Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Jepara yang pertama setelah revolusi.  


Setelah NU menyatakan keluar dari partai masyumi pada Muktamar di Palembang tahun 1952 NU menjadi partai mandiri dan mengikuti pemilu pertama tahun 1955. Hasil luar biasa dicatatkan oleh NU secara nasional berada di peringkat ke 3 dengan jumlah suara 6.955.141 sebesar 18,41 % dan 45 anggota konstituante dibandingkan sebelumnya pada saat masih di dalam masyumi hanya mendapatkan 8 kursi. (Mun`im 2016) Di Jawa Tengah partai NU menduduki posisi ketiga menang di 4 kabupaten/kota yaitu menang mutlak di Jepara (110.953 suara), Demak (100.974 suara), Kudus (63.007 suara), Magelang (137.037 suara) (Minarno 2011).


Kemenangan mutlak NU di Jepara tidak terlepas dari peran Kiai Fauzan bersama dengan KH Abdurrosyid melalui sikap integritas serta akomodatifnya berhasil menjalin komunikasi dengan semua pihak baik kawan maupun lawan. Kiai Fauzan selalu menghadiri pengajian rutin idarah di masyarakat seiring dengan kunjungannya ke KUA kecamatan-kecamatan yang ada di seluruh Jepara untuk semakin memperkuat basis NU. Transportasi di wilayah Jepara pada masa tersebut masih sulit sehingga seringkali menginap di masjid di karenakan pengajian diselenggarakan malam hari, keesokanya baru pulang. Kiai Fauzan membuat seleksi untuk menjadi pegawai KUA haruslah mampu membaca kitab kuning.


Akhlak dan Tasawuf Kiai Fauzan


Kiai Fauzan menawarkan kajian akhlak tasawuf untuk menghindari kajian akhlak yang hanya berada pada tataran pemikiran yang tidak memberikan bekas pada seseorang menjadi orang-orang yang memiliki akhlakul karimah. Untuk menggapai akhlakul karimah diperlukan proses yang biasa dilakukan oleh kalangan Mutashawwifin (Pengamal tasawuf) karena sejatinya esensi dari tasawuf adalah pencapaian akhlaqul karimah.
 

قيمة إنسان بقدر الآدب اي لا بقوة ومال نسب 


Harga diri seseorang itu diukur dengan kadar budi pekertinya atau akhlaknya  artinya tidak dengan sisi keperkasaan, sisi kepemilikan harta dan sisi keturunan. (Fauzan n.d.)


Dalam bait di atas seolah-olah Kiai Fauzan memberikan standarisasi terhadap kemuliaan seseorang dengan parameter akhlak, bukan dengan kepemilikan materi, keperkasaan, dan nasab yang unggul. (Masyhud 2016)


Kiai Fauzan mengajarkan agar menjalankan akhlak mahmudah (terpuji) dan menjauhi Akhlak madmumah (tercela). Kiai Fauzan menyebutkan dalam kitabnya Alfiyah Al-Ghazali ta’lif Allamah KH Fauzan Syarifan Jepara. Pemikiran akhlak-tasawuf Kiai Fauzan terlukis dalam syair (Masyhud 2016) :
 

عليك بالصبر وشكر وسلام رضا وزهد ولذنبك ندم

بين الرجا والخوف عدل وخلق اخلاص حب مولي مع قلب عشوق 


Hendaknya kamu memiliki (akhlak) sabar, syukur, memberi salam, ridha, zuhud, taubat, raja’, dan khauf, adil, ikhlas, mahabbah terhadap tuhan, dengan cara sepenuh hati. (Fauzan n.d.)


Banyak sekali tamu berkunjung ke rumahnya dengan berbagai permasalahanya, meminta doa atas permalahan yang dihadapinya, meminta bantuan atas kesulitanya. Diceritakan oleh  KH Saifudin Zuhri. Allahu Yarham pada waktu tersebut masih menjabat Kakanwil Depag menceritakan saat berkunjung ke rumah Kiai Fauzan ada seorang pengemis dengan pakaian lusuh serta caping kropak (Topi tradisional khas Jawa yang terbuat dari daun siwalan) meminta makanan karena lapar. Oleh Kiai Fauzan orang tersebut didahulukan untuk memberinya makanan dibandingkan dengan tamu-tamu yang lainya. (Rohman 2018)


KH Ahmad Fauzan Wafat pada Selasa, 6 Rabius Tsani 1933 H atau bertepatan dengan 17 Mei 1972 M pukul 11.00 WIB. Detik-detik kepergiannyaKiai Fauzan masih dalam keadaan muthalaah kitab tafsir yang kebetulan sedang disowani Almarhum Abdul Hamid seorang kepercayaannya sebagai bendahara/bagian keuangan ketika Kiai Fauzan menjabat sebagai Kandepag Jepara. Kiai Fauzan dimakamkan di pemakaman Suromoyo Kedungleper Ampean, Bangsri, Kabupaten Jepara.(Najah 2017).  


Editor: M Ngisom Al-Barony


Tokoh Terbaru