• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Tokoh

Penakluk Hujan itu Bernama Kiai Muhtadi

Penakluk Hujan itu Bernama Kiai Muhtadi
Kiai Muhtadi Temanggung (Dok. SM)
Kiai Muhtadi Temanggung (Dok. SM)

Pawang udan atau pawang hujan, begitulah sebutan masyarakat yang melekat pada masa sepuhnya Kiai Muhtadi Temanggung. Ceritanya pada masa Orde Baru, terjadi persaingan luar biasa antar partai dengan partai pendukung pemerintah.

Pada masa kampanye, partainya mendapat giliran kampanye pada musim hujan di lapangan kecamatan. Maka suara-suara mengejek pun terdengar sangat santer. Syukurlah, lapangan bola kecamatan itu penuh dengan pengunjung kampanye.

Benar saja, karena musim hujan maka langit mendung, gelap mengitari langit sebentar akan hujan. Namun, pengunjung tetap tidak bergeming di lapangan sampai selesal. Syukurlah, saat kampanye berlangsung aman, meski langit gelap mendung. Setelah acara selesai, hujan turun dengan lebatnya.

Sejak itu Kiai Muhtadi mendapat tambahan predikat sebagal kiai 'pawang hujan', dan banyak orang datang meminta tolong untuk mendoakan suatu hajatan, bahkan sampai luar kabupaten. Pernah juga sampai pelabuhan Tanjung Mas Semarang ada perusahaan meminta Kiai Muhtadi datang karena musim hujan dan akan menurunkan gula.

Kiai Muhtadi lahir sekitar 1933 di Grogal, Kutoanyar, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Ia merupakan putra dari Surodikromo. Muhtadi kecil mengaji di desanya, setelah masa remaja mulai masuk ke pesantren.

Dia pernah nyantri di Senori, juga di Pacul Gowang, dan paling lama di pesantren Kalipahing Temanggung. Di Pesantren Kalipahing yang diasuh Kiai ilyas ini, bahkan setelah menikah masih mondok lagi, karena sebagai santri senior juga harus mengajar.

Kiai Muhtadi menikah dengan seorang putri tokoh masyarakat di Bentisan Suko Marto Jumo masih tetangga kecamatan di Temanggung​.​​​​​​ Sejak menikah, ia tinggal di tempat mertuanya dan bersama masyarakat mulai merintis pengajian di rumahnya, sekitar 1960an beliau merintis Madrasah Diniyah dan dilanjutkan menjadi Madrasah Wajib Belajar atau MWB yang semula menempati rumahnya dan rumah penduduk. Respons masyarakat ternyata sangat positif dan akhirnya MWB ditingkatkan menjadi Madrasah Ibtidaiyah Sukomarto.


Pengajian Bukhoren

Bagi Kial Muhtadi belajar itu tidak mengenal batas. Maka diadakan pengajian selapanan di berbagai tempat, di Desa Karangtejo tetangga desa, di Desa Kalipang Gondang Wayang Kedu, juga mengajar di Kerokan Kedu, di samping di tempat kelahiran.

Ada majelis taklim yang diikuti khusus oleh para ustadz dan kiai se-Kecamatan Jumo. Pada suatu saat terjadi paceklik dan banyak hama tanaman pertanian. Sehingga para petani mengalami kurang makanan. Keprihatinan ini memunculkan inisiatif para kiai mengadakan pengajian khusus.

Hasil konsultasi dengan para kiai sepuh, konon pernah sowan kepada Kiai Siraj Payaman dan Kiai Ilyas harus mengadakan pengajian kitab Sohih Bukhori. Maka semua kiai dari seluruh desa dan kecamatan berembuk seperti KH Tohan, KH Mahudi Soleh dan lain-lain, dan jadilah pengajian kitab Sohih Bukhori yang kemudian dikenal sebagai pengajian Bukhoren.

Setiap Ahad Pahing harus khatam seluruh kitab Sohih Bukhori, dan setelah itu ada mauidzah yang mengupas beberapa hadits dari kitab tersebut. Penulis pernah mengikuti beberapa kali pengajian ini sangat banyak kiai datang dari berbagai desa dan kampung di Kecamatan Jumo. Dan tampaknya dari jamaah ini juga, muncul ide untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah Ma'arif yang kini berkembang baik di Desa Padureso, Jumo, Temanggung.

Klai Muhtadi wafat pada usia 77 tahun pada tahun 2010. Dimakamkan di pekuburan Bentisan Sukomarto Jumo Temanggung. Lahul fatihah.

K​​​​H Anasom, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Dosen UIN Walisongo 

Sumber: SM


Tokoh Terbaru