• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Rabu, 28 Februari 2024

Fragmen

Pesantren Al-Ittihad Poncol Kabupaten Semarang Terima Anugerah 1 Abad NU

Pesantren Al-Ittihad Poncol Kabupaten Semarang Terima Anugerah 1 Abad NU
Komplek Pesantren Al-Ittihad Poncol, Bringin, Kabupaten Semarang (Foto: Istimewa)
Komplek Pesantren Al-Ittihad Poncol, Bringin, Kabupaten Semarang (Foto: Istimewa)

Pesantren Al-Ittihad di Dusun Poncol, Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang didirikan oleh seorang alim bernama KH Misbah dilahirkan di Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang.


KH Misbah adalah putra dari K Raden Mertodito dan ibu yang bernama Nyai Asiyah, keturunan orang yang memperhatikan agama Islam. Dengan istri pertamanya Kiai Misbah tidak di karuniai putra, kemudian sepakat untuk furqoh (bercerai). Kemudian Kiai Misbah menikah yang kedua kalinya dengan gadis dari Kauman Lor Pabelan Salatiga, namun setelah dikaruniai dua putra (Ikrom dan Askirom) tidak ada kecocokan kemudian furqoh. Setelah itu, istri keduanya memohon agar Mbah Misbah untuk menikah dengan adiknya yang bernama Aisyah, dan mereka sanggup untuk menjadi khodimnya. Sejak pernikahan dengan Aisyah, Kiai Misbah pindah ke Padaan, Pabelan dan pada tahun 1810 lahir putra yang pertama yang diberi nama Umar (Hasan Asy’ari). Tidak lama kemudian pindah ke Ngawi, di Ngawi lahir dua putra (Toyib dan Marzuqi) dan satu putri (Khotijah). Setelah 22 tahun di Ngawi Kiai Misbah pindah ke Cikalan (sebelah timur Dusun Poncol).


KH Misbah yang mempunyai ilmu syari’at merasa bertanggung jawab untuk 'nasyrul ilmi waddin'. Kabar kealimannya didengar oleh Mbah Sinder, penguasa Getas (sebelah selatan Poncol). Pada tahun keempat sekembalinya dari Ngawi Kiai Misbah diminta oleh Mbah Sinder untuk mengamankan daerah sebelah utara Getas, yaitu wilayah Ngerkesan yang terkenal angker, letaknya di antara dua aliran sungai yang bertemu dan menjorok, daerah inilah yang disebut Poncol, dan sebagai imbalannya daerah tersebut menjadi miliknya.


Setelah menjadi tempat pemukiman selanjutnya tempat tersebut dijadikan sebagai tempat basis dakwahnya. Karena kealiman dan kearifannya, pengajian Kiai Misbah banyak dikunjungi oleh masyarakat sekitar bahkan dari luar daerah. Sebagai pemecahannya didirikan masjid sebagai pusat pengajian. Dengan demikian tambah ramailah Poncol dengan penimba ilmu kebijaksanaan.


Dirikan Pesantren


Setelah menjadi tempat pemukiman selanjutnya tempat tersebut dijadikan sebagai tempat basis dakwahnya. Karena kealiman dan kearifannya, pengajian Kiai Misbah banyak dikunjungi oleh masyarakat sekitar bahkan dari luar daerah. Sebagai pemecahannya tahun 1893 M/1310 H didirikan Pesantren Al-Ittihad di Dusun Poncol RT 04/02 Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Semenjak itulah Umar (Hasan Asy’ari) putra Kiai Misbah mulai sadar yang akhirnya mulai mau mengaji. Umar mulai mengaji di Pesantren Termas, kemudian ke Mangkang dan yang terakhir kalinya ke daerah Jambu, Ambarawa, yaitu ke tempat Simbah Kiai Zainuddin. Karena kelimpatannya dalam menimba ilmu, Umar pulang setelah dinikahkan dengan putri gurunya yang bernama Natijah. Setelah kembali ke Poncol, Umar turut membantu ayahnya untuk mengurus santri yang semakin bertambah banyak. Lalu sebagai jalan keluarnya dibangunlah kamar yang berukuran 10 petak. Dengan demikian tambah ramailah Poncol dengan penimba ilmu kebijaksanaan.


Kiai Misbah Wafat


Dilansir dari jashijau.com pada tahun 1332 Hijriah Kiai Misbah ingin melaksanakan ibadah haji dengan putranya, namun dirinya tidak memiliki biaya sedikitpun. Kemudian dirinya melaksanakan i’tikaf selama 40 hari. Dengan kehendak Allah menjelang keberangkatannya, banyak orang yang datang menghaturkan bekal untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sesampainya di Mekkah Kiai Misbah bersama putra yang bernama Kiai Hasan Asy'ari melaksanakan ibadah hajinya dengan sempurna. Pada bulan Rajab berziarah ke Madinah, saat sampai di Wadi Fatimah, Kiai Misbah sakit dan tidak dapat menyempurnakan ziarahnya ke makam Nabi Muhammad SAW. Sekembalinya ke Kota Makkah, sakitnya bertambah parah, dan pada tanggal 27 Ramadhan, tepatnya jam 12 siang Kiai Misbah menangis sejadi-jadinya. Kawan-kawan haji bergiliran menunggu Kiai Misbah. Ketika sampai giliran Kiai Hasan, Mbah Misbah berkata “lee anakku, olehku nangis iki, rikolo aku ora turu dumadaan aku kerawuhan Gusti Rasul, aku ora pangkling sebab aku wis bola-bali ngimpi ketemu Gusti Rasul. Dene olehe dawuhi durung mari kangen marang aku, sebabe aku sowan namung sedelok kerono aku loro, lan kersane arep mulang penggawe haji. Wusono kesat durung tutuk mulang, bacut sedo ono imaman hanafi. Iku aku terus nangis, kesat wasiat hajiku kon nglakoni kowe lan kabeh perkarane mbok lan dulur-dulurmu kon masrahake kowe”. Itulah pesan Mbah Misbah kepada Kiai Hasan. Kemudian sakitnya bertambah parah, dan pada Senin 12 Dzulhijjah tahun 1332 H (1913 M), di Kota Makkah Al-Mukarramah Kiai Misbah wafat.


Pesantren Al-Ittihad terus mengalami perkembangan masih esksi sampai ini. Para santri dari luar daerah terus berdatangan untuk menimba ilmu, bahkan pesantren yang beramalatkan dusun Poncol saat ini dilengkapi pendidikan formal dan non formal dengan fasilitas yang memadai.


Bersama sejumlah pesantren lainnya, Pesantren Al-Ittihad memperoleh penghargaan anugerah pesantren berusia 1 abad yang dihelat oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada  Selasa (31/1/2023) lalu. (*)


Fragmen Terbaru