• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Senin, 17 Juni 2024

Opini

Sufi Healing; Terapi dalam Literatur Tasawuf 

Sufi Healing; Terapi dalam Literatur Tasawuf 
Foto: Ilustrasi (emir)
Foto: Ilustrasi (emir)

Kalimat sufi healing terbentuk dari dua buah kata yaitu sufi dan healing. Kata sufi sendiri dirujuk pada pengertian seorang atau lebih, dari hamba Allah yang sedang berupaya atau mengupayakan orang lain untuk merasakan lezatnya berhubungan langsung dengan Tuhan. Sementara healing, berasal dari kata 'heal' yang berarti penyembuhan. 


Dalam kamus, kata terapi harus ditelusuri dari kata 'therapeutic' yang berarti kata sifat yang mengandung unsur-unsur atau nilai-nilai pengobatan. Ketika ditambah dengan akhiran ‘s’ di belakangnya (therapeutics), maka ia menjadi kata benda yang bermakna ilmu pemeriksaan dan pengobatan. Sedangkan istilah ’sufi’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimakna dengan ahli ilmu tasawuf; ahli ilmu suluk. Sedangkan kata ’tasawuf’ belum ditemukan kesepakatan dalam merumuskan definisi dan batasan tegas dari para ahli. 


Jalan untuk sampai kepada Allah sangat berkaitan dengan maqām-maqām dalam hati, seperti taubat, wara’, zuhud, ṣabar, tawāḍu, taqwā, tawakkal, riḍā, maḥabbah, dan ma‘rifah, serta berkaitan dengan sifat-sifat terpuji seperti ṣiddīq, ikhlāṣ, khauf, dan rajā’. Semua itu sudah diajarkan oleh Rasulullah secara langsung kepada para sahabat dan dalam tasawuf dikenal dengan istilah maqāmāt dan aḥwāl. Adapun beberapa maqāmat dan aḥwāl yang dapat dinilai sebagai metode terapi antara lain sebagai berikut: 


Taubat, taubat berarti arruju’ minalżanbi, arruju’ analżanbi, kembali dari berbuat dosa menuju kebaikan atau meninggalkan dosa. Dalam literatur sufistik, dosa dimaknai sebagai ḥijāb (tirai penghalang) dari al-Mahbūb (Kekasih). Oleh karena itu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak disukai oleh al-Mahbūb adalah wajib. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan alilmu (pengetahuan), annadm (penyesalan) dan alazm (kemauan atau niat). Dengan demikian, dosa adalah bibit penyakit secara fisik maupun secara psikis. Cara ampuh untuk menghilangkan bibit penyakit itu, adalah dengan taubat.                                                          

Wara’, wara’ adalah mensucikan hati dan berbagai anggota badan. Wara’ berasal dari bahasa arab yang memiliki arti shaleh atau menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Dalam kamus munawir wara’ artinya menjauhkan diri dari dosa, maksiat dan perkara syubhat. Dalam istilah wara’ adalah menjahuhi perkara yang syubhat karna takut terjatuh dalam perkara yang haram.


Zuhud, zuhud (zuhd) dapat diartikan sebagai sikap mental untuk menjauhkan diri dari kehidupan di dunia demi akhirat, dengan kata lain menyeimbangkan antara aspek-aspek lahiriah dan batiniah, jasmaniah dan ruhaniah. Penyakit jiwa yang dimaksud tentu saja penyakit jiwa yang disebabkan oleh materi, atau upaya pencarian materi, sehingga melupakan segalanya, bahkan dirinya sendiri. Memforsir tenaga tanpa menghiraukan kesehatan; Memakan makanan yang haram; berlebih-lebihan terhadap yang halal. Dalam hal ini zuhud akan dapat menjadi obat yang mujarab dalam mengatasinya.  
                                                          


Sabar, dalam KBBI sabar diartikan dengan tahan menghadapi cobaan atau tabah. Orang yang berjiwa sabar, maka tidak akan mudah marah dan putus asa. Secara umum, aspek sabar mencakup dua hal, yaitu sabar dalam menghadapi penderitaan dan sabar dalam menghadapi kesenangan. Sikap sabar dapat membuat manusia menahan diri dari perbuatan merendahkan harkat martabat kemanusian.                                                  


Qana’ah (Menerima Kenyataan Hidup), qana’ah menerimanya hati terhadap apa yang ada, meskipun sedikit, disertai sikap aktif, usaha. Ia adalah perbendaharan yang tidak akan sirna. Karena orang yang qana’ah hatinya menerima kenyataankaya itu bukan kaya harta, tetapi kayanya hati. Kaya raya dengan hati yang rakus, maka akan tersiksa dengan sikapnya itu. Dasar qana’ah ialah firman Allah SWT dalam Al-Baqarah [2]: 273. 
                                                    

Ridha, ridha (riḍā) secara etimologis berarti rela, tidak marah (Luwis Ma'luf: 265). Menurut Al-Hujwiri, riḍā terbagi menjadi 2, yaitu riḍā Allah terhadap hambanya, dan riḍā hamba terhadap Allah SWT. Riḍā Allah terhadap hamb-aNya adalah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya, sedangkan riḍā hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas segala hukum-Nya. 


Tawakkal, dalam dalam arti tafwīḍ (pasrah lahir batin) ketika menghadapi penyakit, tawakkal adalah kunci mencapai kesembuhan. Obat apapun yang diinjeksikan ke dalam tubuh, tidak akan bermanfaat manakala dalam hati seseorang tidak ada rasa tawakal dan ridha. Ada pepatah mengatakan, 'Jangan pergi ke dukun, kalau engkau membawa obat'. Artinya, ketika seseorang diberi obat, dia belum bisa berserah diri pada satu obat, melainkan masih digalaukan oleh adanya obat lain, yang menurutnya memungkinkan untuk menyembuhkan. 


Ikhlas, ikhlas adalah kata dalam bahasa Arab yang memiliki arti 'sungguh-sungguh' atau 'dengan tulus'. Dalam konteks agama Islam, ikhlas sering kali diartikan sebagai keikhlasan hati dalam beribadah kepada Allah SWT tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan dari manusia. Ikhlas juga dapat merujuk pada niat yang murni dan tulus dalam melakukan suatu amal baik, tanpa ada motif atau kepentingan yang tersembunyi. Keikhlasan terhadap ketetapan Allah SWT adalah sikap tulus dan ikhlas dalam menerima segala keputusan dan ketetapan dari Allah SWT.                                                                                                                                                                

Muqarabah, muraqabah adalah sifat seseorang yang merasa selalu dilihat dan diawasi oleh Allah SWT. Dengan adanya sifat ini, orang akan takut untuk melakukan keburukan karena akan selalu merasa diawasi dan dilihat oleh Allah SWT. Kunci penyembuhan dengan metode ini adalah doa, di mana Allah akan mengabulkan doa orang yang dekat dengan-Nya, karena sesungguhnya Dia dekat. 


Khauf dan Rajā’, secara bahasa, khauf adalah lawan kata al-amnu. al-amnu adalah rasa aman, dan khauf adalah rasa takut. Khauf adalah perasaan takut terhadap siksa dan keadaan yang tidak mengenakkan karena kemaksiatan dan dosa yang telah diperbuat. Sedangkan raja’ adalah perasaan penuh harap akan surga dan berbagai kenikmatan lainnya, sebagai buah dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. 


Maḥabbah dan Ma’rifah, mahabbah adalah cinta, atau cinta yang luhur kepada Tuhan yang suci dan tanpa syarat. Tahapan menumbuhkan cinta kepada Allah, yaitu keikhlasan, perenungan, pelatihan spiritual, interaksi diri terhadap kematian, sehingga tahap cinta adalah tahap tertinggi oleh seorang ahli yang menyelaminya. Di dalamnya kepuasan hati (ridha), kerinduan (syauq) dan keintiman (uns). Sedangkan ma’rifah ialah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam kajian ilmu tasawuf 'Ma’rifat' adalah mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan. Wallahu a'lam bis shawab.


Luthfi Wilda Haqiqi, mahasiswa Prodi Teknik Elektro Universitas Muria Kudus 


Opini Terbaru