• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 12 April 2024

Opini

Bunuh Diri Bukan Solusi, Bijaklah dalam Menghadapi Problematika Hidup

Bunuh Diri Bukan Solusi, Bijaklah dalam Menghadapi Problematika Hidup
Foto: Ilustrasi (nu online)
Foto: Ilustrasi (nu online)

Akhir-akhir ini kasus bunuh diri marak terjadi di Indonesia sehingga menyita perhatian kalangan masyarakat. Nahasnya pelaku bunuh diri adalah anak muda yang masih duduk di bangku pendidikan maupun kalangan masyarakat yang gagal dalam mencapai tujuan hidup. Entah kita disebut mereka pelaku atau korban, Tapi sepertinya tidak pas juga jika disebut korban bunuh diri. Kembali lagi perbuatan itu sangat tidak dibenarkan. Kasus bunuh diri ini mengindikasikan adanya problematika pelik dengan ketidakmampuan kondisi jiwa seseorang menerima hal tersebut dan berujung tindakan mengakhiri hidupnya. Kondisi di mana mental seseorang terganggu sehingga muncul rasa takut untuk berbaur dengan orang lain, kecemasan berkelanjutan, dan merasa putus asa. 


Usia muda adalah masa dimana semangat jiwa menggebu-gebu untuk mengeksplorasi hal baru. Pada fase ini mereka acap kali mengikuti suatu hal yang menurutnya menarik dan sedang naik daun. Kini konten-konten media sosial mudah saja mempengaruhi gaya hidup seseorang terutama kaum muda, terlebih dengan kemajuan teknologi digital segala informasi terkini cepat menyebar.  Jagat maya menjadi zona nyaman anak muda berinteraksi dengan dunia luar tanpa harus bersusah payah keluar rumah. Sangat disayangkan apabila usia muda dihabiskan hanya mengurung diri dalam ruangan kamar sembari men-scroll beranda medsos yang seharusnya banyak pilihan kegiatan positif di luar sana. 


Kurangnya peran orang tua dan lingkungan dalam mengedukasi etika bermedia sosial, memfilter konten yang menjadi tontonan, serta kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama walhasil memicu kebiasaan berselancar di dunia maya tanpa mengenal batasan. Pada akhirnya bukan tontonan media sosial menjadi tuntunan, akan tetapi tontonan yang menginspirasi tindakan kriminalitas, kental isu SARA, ujaran kebencian, dan lain-lain. Anak muda mudah saja terjerat kasus-kasus kriminal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Dengan dalih bergaya menunjukkan keberanian sampai-sampai yang seharusnya waktu untuk belajar di sekolah digunakan untuk tawuran dan semacamnya. Disebabkan salah memilih pergaulan sehingga masuk lingkaran pertemanan negatif. Tindak bulliying disertai aksi kekerasan makin menjadi-jadi. Trauma berat yang dialami korban bulliying membuatnya tidak kuat mengahadapi kerasnya kehidupan. Hal yang dikhawatirkan adalah korban trauma nekat melakukan upaya bunuh diri.


Islam melarang keras perbuatan menghilangkan nyawa seseorang tanpa suatu hal yang dibenarkan apalagi tindakan bunuh diri. Keseimbangan hidup dunia dan akhirat sangat dijunjung tinggi. Bagaimana tidak, di samping tujuan utama manusia adalah kehidupan akhirat yang abadi, memperhatikan keadaan kehidupan dunia tidak kalah penting karena menjadi jembatan menuju akhirat. Bunuh diri merupakan tindakan yang termasuk ke dalam dosa besar. Tidak ada pembenaran sama sekali dengan alasan apapun. Islam mengehendaki kemaslahatan umatnya sebagaimana terkandung dalam prinsip maqasidus syari’ah yaitu hifdzun nafs. Allah telah memberikan kesempatan hidup kepada diri kita. Mengabaikan nikmat Allah berarti melanggar perintahnya dan kelak akan dikenai siksa yang pedih. Orang yang sudah masuk liang lahat saja berkeinginan untuk hidup lagi. Ingin memperbanyak amal ibadah untuk bekal di alam kubur. 


Dalam sabda Nabi Saw, setiap anak adam yang meninggal dunia akan terputus semua amalnya.


إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ


“Ketika seorang manusia meningal dunia maka amalannya terputus kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)


Adapun mengenai hidup pastinya akan menemukan permasalahan. Tidak ada satupun manusia yang terbebas tanpa menghadapi problematika hidup. Sejatinya adanya masalah mengharuskan untuk diselesaikan bukannya dipikirkan. Ketika berhasil melewati hal itu menjadikan seseorang bermental baja. Ada hikmah dibalik setiap kejadian apabila manusia mampu membacanya. Namun tidak semudah membalikkan telapak tangan belaka.  Yakin bahwa setiap ujian yang menimpa kita pasti ada jalannya. Semakin tinggi derajat manusia di sisi Allah Swt maka akan semakin berat ujiannya. Seperti halnya pohon semakin tinggi menjulang ke atas semakin kencang terpaan anginnya. Orang awan seperti kita belum seberapa menerima ujian dari Allah Swt jika dibandingkan para Nabi dan Auliya. 


Jadi tidak usahlah merasa sipaling susah sipaling galau dan hanya dirinya sendiri yang diuji. Tiap orang berbeda menjalani proses kehidupan. Kadang mulus tanpa halangan ataupun terjal berkelok-kelok. Pedang saja supaya bisa dibuat tajam untuk berperang harus ditempa di bara api. Yakinlah bilamana ujian menimpa diri kita berarti Allah Swt sedang perhatian dengan kita. Mungkin saja itu cara Allah Swt ingin kita mendekat kepadaNya. Sebelum itu, jiwa kita dibersihkan dulu dari dosa yang mengerak dalam buku catatan malaikat Atid. Atau bisa jadi derajat kita hendak dinaikkan oleh Allah Swt. Maka dari itu pentingnya husnudzan kepada Allah. 


Dalam hadits qudsi Allah Swt berfirman,


يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (رواه البخاري، رقم 7405 ومسلم ، رقم2675


”Sesungguhnya Allah berfirman, “Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim).


Maka dari itu menjaga kesehatan mental penting dimiliki anak muda sekarang di kala menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Islam memberikan bekal bagi manusia ketika menghadapi peliknya ujian. Kunci utamanya adalah senantiasa bersabar. Fase tiap individu berbeda melalui jalan kehidupan. Roda kehidupan selalu berputar. Janji Allah Swt sangat jelas siapa yang mampu bersabar mengahadapi ujian dari-Nya, maka dialah tergolong orang-orang yang beruntung mendapat rahmat dari Allah Swt. Perlu diingat kembali manakala sedang tertimpa kesedihan bahwasanya Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hamba-Nya. Salah satu indikator mengukur iman seseorang adalah kesabaran tatkala dirinya ditimpa musibah.


M Nursutan Indra Mukti mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir


Editor:

Opini Terbaru