• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Selasa, 31 Januari 2023

Opini

Agama dan Sains

Agama dan Sains
Foto: Ilustrasi (nu online)
Foto: Ilustrasi (nu online)

Diskursus agama dan sains memang menarik untuk dibahas. Agama sendiri memiliki dua wajah, yang satu merupakan agama 'langit' atau agama wahyu yang diterima para Nabi dan utusan Allah SWT, kemudian diajarkan kepada umat manusia. Dan yang kedua, agama 'bumi' yang merupakan bikinan tokohnya. Agama wahyu memiliki ruang lingkup yang luas, bukan saja menjelaskan kehidupan manusia di dunia, namun juga kehidupan setelah manusia meninggal dari alam dunia, atau yang dikenal dengan akhirat. 


Karena itu agama wahyu menyebutkan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT yang menciptakan semua makhluk-Nya yang ada di langit, di bumi, dan antara keduanya serta yang terdapat di akhirat. Agama ini mengajarkan jalan yang harus dilalui oleh manusia agar dapat selamat dan bahagia dunia akhirat. 


Pokok bahasan agama bukan saja tentang hal-hal yang nyata, yang dapat ditangkap panca indera dan akal manusia, namun juga membahas hal-hal yang batin dan bahkan membahas hal-hal yang ghaib, yang di luar jangkauan akal dan panca indera manusia. Sementara itu pokok bahasan sains meliputi hal-hal yang dapat dijangkau oleh akal pikiran dan panca indera manusia dengan metodologi yang terdapat dalam sains dan diuji hasilnya oleh hasil penelitian ilmiah.


Apakah agama dan sains tersebut saling bertolak belakang atau berlawan? Ataukah antara agama dan sains tersebut terdapat titik temu? Dalam ajaran agama Islam, mislanya Nabi Muhammad Saw yang merupakan Nabi dan utusan Allah di penghujung zaman, atau Nabi terakhir yang tiada Nabi dan utusan Allah setelahnya mengisyaratkan agar umatnya tidak memikirkan dzat Allah SWT, namun menyuruh umatnya untuk memikirkan ciptaan-Nya.


Jika manusia memikirkan dzat Allah, maka sudah barang tentu akal manusia tidak akan dapat mencapai-Nya, karena akal manusia terbatas. Meski dalam persoalan ini ada perbedaan pendapat, seperti Mu'tazilah yang sangat mengagungkan akal, dan Jabariyah yang fatalistik. Pendapat yang diterima kalangan ulama secara mayoritas adalah ahlussunnah wal jamaah yang intinya manusia mengenal Allah Taala karena adanya wahyu yang kemudian dibuktikan dengan akal. Apabila manusia memikirkan makhluk ciptaan-Nya, maka manusia akan mendapatkan ilmu yang luas dan mendalam bukti kekuasaan Allah SWT.


Karena itu, objek kajian agama wahyu tidak hanya terbatas pada hal-hal yang dijangkau akal dan panca indera manusia seperti semua hal yang secara nyata ada di dunia seperti langit dan seisinya, namun juga hal-hal yang ghaib, tentang hal-hal yang tidak dapat dijangkau akal dan indera manusia, seperti malaikat, jin, dan syaitan. Sementara itu objek kajian sains adalah makhluk ciptaan-Nya yang dapat dijangkau indera dan dapat dipikirkan oleh akal secara empiris, metodologis, logik, dan sistematis.


Agama wahyu memang menganjurkan umatnya untuk memperhatikan semua makhluk-Nya dengan pengamatan yang teliti, kemudian dianjurkan pula agar manusia mempergunakan akal pikirannya. Bahkan agama wahyu hanya untuk orang yang mau berpikir dan tidak untuk orang yang kehilangan akalnya. Dengan aktivitas berpikir dan penelitian terhadap alam jagat raya ini akan menghasilkan sains. Karena itu dalam ajaran agama Islam, antara agama dan sains terdapat titik temu dan tidak saling bertentangan, karena agama memiliki objek yang lebih luas daripada objek kajian sains. Namun sebaliknya sains memiliki keterbatasan objek kajian yang hanya dapat digunakan sebagai pendukung dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam. 


Para pemikir Muslim pada abad pertengahan seperti Al-Kindi, Ibnu Rusyd, Ibnu Shina, Ibnu Khaldun, Al-khawarijmi, Al-Ghazali menghasilkan banyak cabang sains yang kemudian dikembangkan dunia barat. Karena itu ulumu syariah sebenarnya tidak terbatas pada ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf, melainkan juga meliputi filsafat, kedokteran, ilmu teknologi, dan ilmu-ilmu alam dan sosial yang sekarang berkembang pesat. 


Syariat secara bahasa artinya jalan yang harus dilalui. Sedangkan secara istilah, syariat adalah hukum agama yang menetapkan peraturan hidup manusia, hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan manusia dan alam sekitar berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits. Jadi syariat Islam tersebut sangat luas, bukan semata ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf, melainkan juga hukum alam atau sunatullah. 


Siapa saja hamba Allah Taala yang menekuni kajian hukum alam tersebut akan mendapatkan hasilnya atau ilmu pengetahuan dan teknologi karena Alloh SWT bersifat Ar-Rahman, memberikan kasih sayang kepada semua makhluk-Nya di dunia. Jadi banyak sarjana, terlepas apa pun agamanya, jika sungguh-sungguh melakukan kajian ilmiah maka ia akan mendapatkan teori yang dapat digunakan untuk mempermudah kehidupannya di segala bidang. Meskipun sarjana tersebut beragama Islam, namun tidak sungguh-sungguh dalam melakukan kajian ilmiah maka ia tidak akan berhasil mendapatkan teori ilmu pengetahuan dan teknologi.


Memang benar Allah juga bersifat Ar-Rahim, yang hanya memberikan kasih sayang kepada semua umat Islam, namun ini akan dinikmati di akhirat kelak. Untuk itu jika umat Islam menghendaki bahagia dunia akhirat maka selain harus menghaji dan mengamalkan ajaran agama juga harus mengkaji hukum alam sehingga umat Islam dapat juga mencapai kebahagiaan dan kebaikan di alam fana ini.


Dalam kajian ilmu, ada yang bersifat fardhu ain dan fardhu kifayah. Ilmu-ilmu yang termasuk fardhu ain dipelajari adalah untuk beribadah kepada-Nya, sedangkan yang bersifat fardhu kifayah seperti ilmu ekonomi, politik dan ilmu sosial lainnya,  kedokteran, kimia, fisika, mesin dan ilmu alam lainnya. Wallahu a'lam (*)


H Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, alumni UIN Walisongo Semarang 


Opini Terbaru