• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Sabtu, 24 Februari 2024

Tokoh

KH Dimyati Ihsan, KIai Alim Pendiri Pesantren At-Taslim Lasem Rembang

KH Dimyati Ihsan, KIai Alim Pendiri Pesantren At-Taslim Lasem Rembang
Almaghfurlah KH Dimyati Ihsan Lasem (kiri) (Foto: Dok)
Almaghfurlah KH Dimyati Ihsan Lasem (kiri) (Foto: Dok)

Sosok yang akan kita bahas kali ini bernama KH Dimyati Ihsan, atau akrab disapa Mbah Dim merupakan pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren At-Taslim Soditan Lasem hingga wafat. Selain mengasuh pesantren, juga aktif di strukural Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lasem menjabat sebagai Rais Sturiyah dan Pembina Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) PCNU Lasem.


Mbah Dim lahir di Dukuh Waru, Desa Sidorejo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang. Ayahnya merupakan kiai kampung yang bernama Kiai Ihsan, satu angkatan saat mondok di Tremas Pacitan dengan KH Bisri Mustofa ayahanda Gus Mus. Kiai Ihsan memberi nama Dimyati Ihsan dengan nama 'Dimyati' karena tafa’ulan dengan kiai atau gurunya di Tremas yang bernama Kiai Dimyati. Tentunya ini dilakukan oleh Kiai Ihsan agar mendapat berkah dan Kiai Dimyati Ihsan kecil berilmu seperti Kiai Dimyati Tremas. 


Ternyata doa Kiai Ihsan dikabulkan oleh Allah SWT. Kiai Dimyati Ihsan kecil sudah terlihat alimnya. Diceritakan, masa kecil Kiai Dimyati Ihsan seperti anak-anak kecil pada umumnya. Masih suka bermain dan lain sebagainya. Suatu ketika Kiai Ihsan pernah menguji Dimyati Ihsan kecil. Ternyata Dimyati Ihsan kecil hafal nadzom Alfiyah Ibnu Malik (kitab dalam fan nahwu yang popular di kalangan pesantren) dari depan ke belakang dan dari belakang ke depan alias wolak-walik. Dan yang lebih mengherankan, tidak ada yang tahu kapan Dimyati kecil menghafalkannya termasuk keluarganya, tau-tau sudah hafal.


Walaupun berasal dari keluarga sederhana, niat dan semangat Dimyati Ihsan muda untuk menuntut ilmu agama sangatlah kuat. Meskipun tanpa bekal finansial, sejak baligh, Dimyati Ihsan mengaji dan memperdalam ilmu agama berpindah-pindah. Dirinya pernah belajar kepada KH Mansyur Kholil (ayahanda Gus Qoyyum) dan KH Masduqy Lasem. Saat nyantri di bawah asuhan KH Masduqy, salah satu teman seperguruannya ialah KH Miftahul Akhyar yang sekarang menjadi Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekarang.


Setelah mondok di pesantrennya KH Masduqy, kemampuan Dimyati muda dalam ilmu agama semakin terasah dan mendalam. Dimyati Ihsan diberi tanggung jawab untuk membantu mengajar di pesantren gurunya, KH Masduqy. Setelah boyong mondok, hari-harinya digunakan untuk mengajar ngaji di mushala peninggalan buyutnya yang bernama Kiai Taslim. Letaknya tidak jauh dari pesantren KH Masduqy, yang beralamat lengkap di Desa Soditan, RT 02/RW 01, Kecamatan Lasem, Rembang. Hingga akhirnya Dimyati Ihsan mengembangkan mushalanya menjadi Pesantren At-Taslim sampai saat ini.


Mbah Dim mendirikan Pesantren At-Taslim atas saran isyarah KH Hamid Pasuruan saat sowan ke sana. Mungkin KH Hamid melihat potensi emas dari Kiai Dimyati muda untuk mengajar dan mendirikan pesantren. Kesaksian dari teman Mbah Dim yang menemaninya sowan kepada Kiai Hamid, saat tiba ndalem KH Hamid Pasuruan, Kiai Dimyati Ihsan disambut dengan ucapan ja'a rojulun alimun (telah datang seorang yang alim). Tidak hanya di situ, Mbah Hamid Pasuruan juga menikahkan Kiai Dimyati Ihsan muda dengan kerabatnaya yang bernama Ainun Nafi’ah binti H Abdul Muhith dari Sumbergirang, Lasem, Rembang yang baru saja meninggal kemarin pada Senin, 20 November 2023. 


Dalam merintis pesantren, Kiai Dimyati sangat gigih dan telaten, hingga sekarang Pesantren At-Taslim tetap eksis di Kota Lasem yang terkenal gudangnya santri dan kiai alias Kota Santri. Padahal keluarga beliau sempat meragukan. Kesehariannya tidak luput dari mengajar dan mendidik santri, melayani umat (salah satunya seringkali masyarakat sowan kepadanya), mengisi pengajian atau taushiyah di kampung-kampung, dan bercengkrama dengan keluarga. Kiai Dimyati orang yang selalu mengutamakan kepentingan umat dulu daripada kepentingan pribadi, seperti yang telah penulis jelaskan di atas. Bahkan keluarganya cukup prihatin, dengan kondisi fisiknya yang digerogoti penyakit dan berusaha menutupinya dari orang lain. 


Mbah Dim merupakan kiai dan ulama yang terkenal humble dan grapyak. Banyak sekali santri dan masyarakat yang tidak mengaji kepadanya yang sekadar kenal namun merasa sangat dekat dengannya. Kiai Dimyati mempunyai keistimewaan lain berupa ingatan yang tajam. Saat dirinya bertemu seseorang sekali saja dan baru bertemu lagi orang tersebut beberapa tahun kemudian, pertemuan itu masih melekat di memorinya. Mbah Dim juga mempunyai ciri khas tersendiri saat bersalaman dengan orang lain. Ketika bersalaman dengan orang lain, Mbah Dim menjabat erat tangannya dan tidak akan melepaskannya sebelum orang tadi melepasnya. Dan tauladan yang penting yang diajarkan yaitu saat melayani tamu, meskipun dirinya adalah kiai dan ulama yang disegani di wilayah Lasem dan Rembang, Mbah Dim meladeni (seperti mengeluarkan suguhan atau wedang teh) sendiri. Padahal ada santri yang siap 24 jam mengabdi. 


Mbah Dim termasuk kiai yang membatasi kegiatan di luar pesantren demi mengajar atau mendidik para santri di pesantrennya. Dirinya sangat hati-hati dan mempertimbangkan untuk menerima mengisi acara di luar bila manfaatnya lebih besar. Mbah Dim merupakan kiai yang istiqamah dalam beribadah kepada Allah SWT. Bahkan dirinya tetap menjalankan shalat sunnah tahajud, meskipun baru tidur sebentar, seperti sewaktu habis mengisi pengajian. Selain itu, karena saking istiqamahnya, meskipun dalam keadaan sakit, Mbah Dim tetap menjalankan shalat sunnah, meskipun minta dibopong untuk berjalan, karena amalan tersebut sudah dijalaninya sejak muda.  


KH Dimyati Ihsan wafat pada Sabtu malam Ahad, bulan April 2013 dan meninggalkan tujuh putra dan putri, di antaranya KH Miftahun Niam, Ning Mamluatur Rohmah, Ning Badiatul Hikmah, Ning Faizatu Ulya, Gus Rofiqul Anwar, Ning Aliyyatul Himmah dan Ning Durrotun Nihayah. Mohon bantuan bacaan suratul fatihah untuk Mbah Dim dan Bu Nyai Na’fiah. Alfatihah.


Pengirim: Ahmad Solkan


Tokoh Terbaru