• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Selasa, 31 Januari 2023

Tokoh

Meneladani KH Abdullah Isa Pendiri Masjid Kajiwatu Banyumas 

Meneladani KH Abdullah Isa Pendiri Masjid Kajiwatu Banyumas 
Almaghfurlah KH Abdullah Isa (Foto: Dok)
Almaghfurlah KH Abdullah Isa (Foto: Dok)

KH Abdullah Isa merupakan tokoh pendiri Masjid Kajiwatu, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas yang lahir pada tahun 1851. Saat masih kecil bernama Darsan bin Praya Wecana atau Mbah Bogel bin Mbah Jembluk. Mbah Jembluk merupakan keturunan dari kerabat Raja Kediri Jawa Timur. Darsan merupakan anak kesembilan dari sembilan bersaudara. Praya Wecana ayah dari KH Abdullah Isa memiliki 9 (sembilan) anak, di antaranya:
1. Singayasa
2. Praya Diwangsa
3. Candrayasa
4. Arsa Dikrama
5. Singa Dikrama
6. Walam
7. Dati
8. Ibrahim
9. Darsan (Abdullah Isa)


Darsan atau KH Abdullah Isa sejak kecil senang bertirakat dan laku prihatin. Hal ini  karena keluarganya hidup pada zaman penjajah Belanda yang kebetulan juga Kiai Isa merupakan anak bontot dan saudaranya cukup banyak, begitu pun orang tuanya yang hidup dengan kesederhanaan.


Pada masa mudanya, Kiai Isa banyak menimba ilmu agama dan ilmu kekebalan sampai dirinya menemukan jati dirinya. Kemudian menemukan ide ingin mencari orang-orang pintar yang dapat menambah wawasannya tentang apa sebenarnya hidup ini. Di tengah perjalanannya dalam mencari ilmu, Isa kecil bertemu dengan seorang tokoh agama bernama Kiai Raji Musthofa. 


Kiai Raji Musthofa adalah tokoh yang menghantarkan KH Abdullah Isa kepada Kiai Abbas Buntet Cirebon. Ketika berusia 26 tahun, Isa muda mempunyai ide atau gagasan untuk mendirikan masjid yang di sekitarnya terdapat mata air. Setelah berikhtiar mencari tempat untuk menuangkan idenya, akhirnya ditemukan tempat yang sesuai, yaitu sebuah hutan yang terdapat batu besar yang disebut batu lancip atau batu mancung. Karena batu tersebut berbentuk seperti perahu yang mana atasnya terlihat kecil namun ternyata bawahnya besar. Di sana juga terdapat banyak mata air di sekitarnya yang dibutuhkan sebagai sarana kelangsungan sebuah masjid. Namun, tempat tersebut penuh misteri yang dihuni banyak jin dan setan. Karena tekad KH Abdullah Isa sangat kuat, dirinya bersikeras tetap dalam pendiriannya untuk mendirikan masjid di tempat itu.


Setelah bekerja keras dan mengerahkan kemampuannya, akhirnya ia berhasil mendirikan sebuah langgar atau tajug atau mushala berukuran kecil. Suatu hari bagian samping tajug atau langgar terkubur ke dalam tanah, tapi anehnya tajug tersebut tidak miring ataupun roboh. Untuk mengatasi hal tersebut, KH Abdullah Isa meminta bantuan kepada Kiai Abbas untuk mengembalikan ke posisi semula, dan juga menetralisir makhluk halus penghuni tempat itu.





KH Abdullah Isa membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan tenaga yang tidak sedikit untuk membongkar batu besar di tempat tersebut. Dari kerja kerasnya hari demi hari, bulan demi bulan, akhirnya Kiai Isa dapat mendirikan sebuah masjid berukuran kecil dengan lantai bekas bongkaran batu yang tidak habis digali/tunggak dan dinding masjid terbuat dari lembaran batu yang sudah dipahat. Sedangkan bagian atap dan pilar-pilarnya memakai bahan kayu dan bambu serta genting.


Setelah membangun masjid ini, untuk menghidupkannya Kiai Abdullah Isa mengajak anak-anak yang ada di desa tersebut untuk bermain kasti, sepak bola, dan sebagainya di halaman masjid. Setelah bermain, karena kotor anak-anak diminta mandi atau bersih-bersih di sumur lalu mengajak mereka untuk mengaji di masjid. Itulah salah satu metode penyebaran agama Islam yang digunakannya untuk membuat anak-anak di sana belajar agama setiap harinya.


Masjid pertama ini berdiri pada tanggal 6 Desember 1877. Merasa belum puas dengan membangun masjid pertama ini, Kiai Abdullah Isa menginginkan masjid dibangun lebih besar lagi dan diharapkan juga didirikan sebuah sekolah, madrasah atau pondok pesantren di sana. Sehingga penggalian atau pembongkaran batu diteruskan untuk membuat lokasi yang memadai. 


Kiai Isa berdoa memohon kepada Allah SWT dan terus berusaha untuk sowan dan mahabbah tabarukan kepada kiai-kiai yang dikenalnya dengan harapan agar dirinya mempunyai keturunan yang dapat melanjutkan usaha dan jerih payah dan pekerjaannya menjadi berkah. Kemudian Kiai Abdullah Isa menikah dengan Nyai Dawen penduduk asli setempat dan melahirkan beberapa anak sebagai penerus perjuangannya. Lahir seorang anak laki-laki terakhir dari Nyai Dawen pada tahun 1929 yang diberi nama Narsim Nuruddin atau KH Anwar.


Kiai Abdullah Isa menaruh harapan yang besar kepada Anwar untuk dapat meneruskan perjuangannya membina masyarakat Tamansari dan setempat untuk belajar agama. Oleh karena itu, Kiai Abdullah Isa menyekolahkan anaknya di SD 5 tahun terus melanjutkan di Mambaul Ulum (sekarang Al-Irsyad Purwokerto) 6 tahun, kemudian melanjutkan di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, Pondok Pesantren Campursari Solo kurang lebih 6 tahun, dan melanjutkan mondok di Buntet Cirebon. 



Masjid Kajiwatu, Karang Lewas, Banyumas (Foto: Dok) 

Baru 1 tahun di Buntet Cirebon, KH Anwar diminta pulang oleh ayahnya supaya menikah dan dijodohkan dengan putrinya Kiai A Bisri Kedungwuluh. Namun, setelah  menikah Kiai Anwar balik lagi ke Pesantren Buntet sampai sudah kurang lebih satu tahun. Selama di pesantren Kiai Anwar sering dijenguk oleh ayahnya yang tak lain adalah Kiai Abdullah Isa dan saat itu diminta pulang saja meneruskan pengabdiannya di Tamansari untuk mengajak dan membina masyarakat di Tamansari yang sudah menanti dirinya.


Pada tahun 1947-1948 setelah Indonesia merdeka selang 2-3 tahun, Belanda yang sudah diusir dan kalah kembali lagi datang ke Indonesia ingin menguasai dan menduduki kembali NKRI ini. Kebetulan rumah KH Abdullah Isa ini dijadikan sebagai markas Tentara Republik Indonesia di bawah pimpinan Bondoyudo. Kemudian ada mata-mata yang memberitahukan kepada Tentara Belanda bahwa di rumah KH Abdullah Isa menjadi tempat bersembunyi Tentara Republik Indonesia. 


Sejak itulah tentara Belanda mencari dan menanyakan letak rumah Haji Batu. Sampai-sampai KH Abdullah Isa ditanyakan langsung oleh Tentara Belanda yang menanyakan di mana rumah Haji Batu. Lalu dijawab dan menunjukkan ke arah utara, arah Karang Lewas. Akhirnya selamatlah Kiai Isa dan Tentara Republik Indonesia serta masyarakat di sekitarnya dari tentara Belanda. Sehingga sampai saat ini Kiai Abdullah Isa terkenal dengan nama Kaji Watu (Haji Batu). Kiai Abdullah Isa banyak berjasa di desa dan di negara ini, karena melindungi TRI dan masyarakat sekitar.


KH Abdullah Isa wafat pada Jumadil akhir atau pada Mei 1955. Perjuangannya dilanjutkan oleh KH Muhammad Anwar alias Nursin Nuruddin bin Darsan. Kiai Anwar haji pada tahun 1964, kemudian menikah dan memiliki 13 anak. Satu anak dari Ibu Syamsiah (Kedungwuluh) dan 12 anak dari Ibu Siti Rumiyah dari (Karang kemiri). KH Anwar wafat pada tahun 2001.


Semasa pengabdiannya, Kiai Anwar banyak meluluskan santri-santrinya yang sampai sekarang masih eksis mengikuti jejaknya. Masjid Kajiwatu selanjutnya dikelola oleh putra terakhirnya yaitu Makhtum dan Hadi Musthofa. keduanya yang meneruskan pengabdian ayahnya mengembangkan agama Islam di Tamansari. Wallahu a'lam bis shawab 


Penulis: Ita Fatia, Abdul Aziz, Intan Liana Putri,Laeli Nurfadilah


Tokoh Terbaru