• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Senin, 17 Juni 2024

Regional

Santri Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an Kudus Ikuti Sekolah Jurnalistik

Santri Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an Kudus Ikuti Sekolah Jurnalistik
Kegiatan pelatigan jurnalistik Pesantren Yanbuul Quran Kudus (Foto: NU Online Jateng/Dok)
Kegiatan pelatigan jurnalistik Pesantren Yanbuul Quran Kudus (Foto: NU Online Jateng/Dok)

Kudus, NU Online Jateng
Sebanyak 30 santri Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an Muria, Kudus mengikkuti Latihan Dasar Jurnalistik (LDJ) di ruang laboratorum pesantren setempat pada Sabtu – Ahad (18-19/5/2024) lalu.


Kegiatan yang dibuka pengasuh pesantren KH Nur Khamim didampingi Ustaz Ahmad Zainuri  menghadirkan 4 narasumber merupakan pegiat literasi di Kudus itu terdiri atas M Qomarul Adib, M Farid, Ade A Ismail, dan Rosidi (Cak Eros). 


Pengasuh pesantren KH Nur Khamim mengatakan, literasi adalah skill yang sangat penting untuk dikuasai oleh umat Islam. Tidak terkecuali santri yang setiap hari berkutat dengan pelajaran di pesantren.

 
“Literasi berpijak dari ayat suci Al-Qur'an; qara’a dan qiraah. Dan wahyu (ayat) yang pertama kali diturunkan adalah iqra’, yang ini secara eksplisit terkait dengan literasi,” ujarnya. 


Membaca (iqra) sambungnya, memiliki beberapa makna. Membaca katanya, bisa dimaknai membaca tanda-tanda kebesaran Allah melalui ayat-ayat Al-Qur'an dan juga hadits Nabi. 


“Di luar itu, adalah membaca ayat-ayat kauniyah, yakni yang terkait dengan peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Bisa dengan membaca fenomena, melakukan observasi terkait banyak hal, dan juga melakukan riset atau penelitian-penelitian,” ungkapnya. 


Ustaz Ahmad Zainuri menyampaikan, latihan jurnalistik digelar sebagai salah satu ruang untuk mewadahi bakat dan kreativitas santriyah di bidang tulisan dan literasi secara umum. Menurutnya, anak-anak pesantren perlu memahami penting berinformasi menggunakan aturan yang benar.


“Jurnalistik maknanya kurang lebih adalah catatan harian. Nah, catatan harian dalam konteks jurnalistik, tentu harus memiliki makna. Dengan pelatihan ini santri diharapkan bisa membedakan mana berita yang fakta dan yang hoaks,” ujarnya.


Salah satu pemateri pelatihan jurnalistik Qomarul Adib dalam rilisnya yang diterima redaksi NU Online Jateng, Rabu (22/5/2024) menjelaskan, keinginan kalangan pesantren tertarik dengan dunia jurnalistik patut diapresiasi. Pasalnya, tantangan ke depan semakin beragam. 


"Berbagai informasi di dunia maya mengalir dengan deras, maka santri harus antisipasi dan paham mana berita yang benar dan mana yang salah alias hoaks," terangnya.


Oleh karena itu lanjutnya, dirinya menyambut baik atas keinginan Pesantren Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an Muria agar santrinya memahami kejurnalistikan dengan menggelar pelatihan secara khusus.


"Alhamdulillah para santri dengan semangat dan antusias mengikuti sesi latihan hingga selesai," pungkasnya.


LDJ yang digelar PTPYQ 2 Muria tidak hanya diisi dengan paparan materi. Di hari kedua, para peserta terjun langsung untuk praktik wawancara dan membuat bulletin di kompleks wisata religi makam Sunan Muria. (*)
 


Regional Terbaru