• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Senin, 17 Juni 2024

Regional

Haul Ke-2 KH Dimyati Rois: Kenang Perjuangan Bangun Banyak Cabang Pesantren 

Haul Ke-2 KH Dimyati Rois: Kenang Perjuangan Bangun Banyak Cabang Pesantren 
Acara Al Fadlu Wal Fadlilah Bersholawat Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di halaman Pondok Pesantren Al Fadlu 2, Srogo Brangsong, Kendal, Senin, (10/62024).
Acara Al Fadlu Wal Fadlilah Bersholawat Bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf di halaman Pondok Pesantren Al Fadlu 2, Srogo Brangsong, Kendal, Senin, (10/62024).

Kendal, NU Online Jateng

Ribuan umat Muslim menghadiri peringatan Haul ke-2 KH Dimyati Rois dalam acara  Al Fadlu Wal Fadlilah Bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Kegiatan ini digelar di halaman Pondok Pesantren Al Fadlu 2, Srogo Brangsong, Kendal, Jawa Tengah, Senin, (10/62024).


KH Alamuddin, Putra ke-2 KH Dimyati Rois, dalam sambutannya mengatakan bahwa haul abahnya tersebut ini juga bertepatan memperingati hari lahir berdirinya Pondok Pesantren Al Fadlu 2.


"Pada tanggal 10 Juni 2017, Mbah Dim pernah berdoa tepat berada di tempat dimana beliau dimakamkan. Beliau berdoa untuk pendirian Pesantren Al-Fadlu 2. Lima tahun kemudian, yakni di 10 Juni 2022 Syaikhina KH Dimyati Rois wafat. Jadi antara pendirian pesantren dengan wafatnya Mbah Dim, itu plek bersamaan tanggalnya dan jamnya," kata Gus Alam, sapaan akrabnya.


Tanggal 10 Juni 2017 jam 11.23 WIB, Mbah Dim berdoa untuk pendirian pesantren ini. Dan tepat tanggal 10 Juni 2022 jam 11.23 WIB beliau wafat. Oleh karena itu, dua peringatan tersebut disatukan dalam sebuah kegiatan..


Sementara itu Habib Syech menambahkan bahwa dirinya bersyukur malam ini dipanggil oleh Mbah Dim, secara tidak langsung dipanggil melalui putra-putrinya, dan Nyai To'ah.


"Saya ini termasuk murid Mbah Dim, jadi seumur saya insyaAllah sehat akan berangkat diacara ini jadi tidak perlu repot-repot mengundang saya. Saya sudah menyuruh anak saya Abu Bakar untuk menulis setiap tanggal 10 Juni akan kesini, kecuali jika saya budal haji," ucap Habib Syech.


Habib Syech berpesan kepada para santri untuk menjadi santri-santri yang saleh-salehah. Pelajaran yang didapatkan akan menjadi mudah, jika diiringi dengan ketaatan terhadap guru-guru. Tidak hanya itu, ia juga menekankan kepada para santri untuk mencintai mata pelajaran karena dengan mencintai pelajaran dapat mudah dipelajari. "Dengan ketaatan, kesabaran, ketelitian, insyaallah para santri akan sukses dan kesempatan tidak akan datang kedua kali mumpung kesempatan ini datang. Kesempatan ini kita beli sekarang dan buahnya akan kita petik besok," ujarnya,

 

"Beruntung santri Al-Fadlu sebab kalian berada di tempat yang tepat. Dari tempat ini, Mbah Dim itu orang yang mempunyai sanad terus dari gurunya ke gurunya terus sampai ke Rasulullah saw. Kita semua itu orang yang paling beruntung termasuk saya yang bisa hadir dalam acara ini, dan saya membawa jubah yang saya pakai ketika bertemu dengan beliau," lanjut Habib Syech.


Sementara itu, KH Ali Nadhodin, santri kepercayaan keluarga Mbah Dim, menyampaikan bahwa KH Dimyati Rois lahir pada 5 juni 1945 di Tegal Glagah, Bulakamba, Brebes, Jawa Tengah. Anggota Ahlul Halli wal Aqdi pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung ini merupakan putra dari pasangan KH Rois dan Nyai Dusmi. Ia merupakan putra kelima dari 10 bersaudara, di antaranya Nyai Khanifah, KH Tohari Rois, KH Masduki Rois, H Murai Rois, KH Saidi Rois, Nyai Khotijah, KH Syatori Rois, Ny. Mukoyah dan Nyai Daroroh. KH. Dimyati Rois.


Abah Dim adalah asli keturunan petani dan santri, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Pada 1 Januari 1978, Abah melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj. To’ah, putri tunggal dari pasangan KH Ibadullah Irfan dan Nyai Hj Fatimah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai sepuluh putra-putri, yaitu KH Fadlullah, KH Alamuddin, Nyai Hj Lailatul Arofah, KH Qomaruzzaman, Nyai Hj Lama’atus Sobah, KH Hilmi, KH Thoha Mubarok, KH Husni Mubarok, KH Muhammad Iqbal dan KH Abu Khafsin Almuktafa.


Wakil Sekretaris PCNU Kendal ini menambahkan, Abah Dim usai menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR), melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren APIK (Asrama Pelajar Islam Kauman) Kauman, Kaliwungu yang diasuh oleh KH Ahmad Ru’yat pada sekitar tahun 1956 hingga kurang lebih 15 tahun.


Kemudian Abah Dim melanjutkan berguru kepada KH Mahrus Aly di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur dalam waktu sebentar. Kemudian, beliau melanjutkan berguru pada Mbah Imam Pondok Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah selama lima tahun. Kemudian kembali lagi ke Pondok Pesantren APIK Kauman Kaliwungu. Tak berapa lama kemudian, diangkat menjadi Lurah Pondok oleh pengasuh Pondok Pesantren APIK, yaitu KH Humaidullah Irfan (kakak KH Ibadullah Irfan).


"Tahun 1985, Abah mendirikan Pondok Pesantren Al Fadlu Wal Fadlilah di Kampung Djagalan Kaliwungu dan kini berkembang menjadi beberapa cabang Al Fadlu di berbagai wilayah. Kiprah Abah Dim di Nahdlatul Ulama tidak perlu diragukan, mulai dari bawah hingga PBNU," pungkas Kiai Ali.


Regional Terbaru