• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Senin, 17 Juni 2024

Keislaman

Qadha Sekaligus Puasa Dzulhijjah, Bolehkah?

Qadha Sekaligus Puasa Dzulhijjah, Bolehkah?
Ilustrasi puasa qadha dan puasa Dzulhijjah. (Foto: NU Online)
Ilustrasi puasa qadha dan puasa Dzulhijjah. (Foto: NU Online)

Semarang, NU Online Jateng

Memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, umat Islam sangatlah dianjurkan untuk melaksanakan puasa sebagaimana dijelaskan oleh para ulama berdasarkan hadits Nabi dan Al-Qur’an. Meskipun demikian, menjadi pertanyaan bagi orang yang belum merampungkan utang puasa Ramadhan, apakah harus mendahulukan qadhanya atau melaksanakan puasa Dzulhijjah, atau boleh menjalankan keduanya bersamaan?


Menjawab hal tersebut, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) Ustadz Alhafiz Kurniawan menjelaskan, orang tetap akan mendapatkan keutamaan puasa Dzulhijjah dengan niat membayar puasa di hari yang disunnahkan tersebut.


“Qadha puasa Ramadhannya tetap sah. Sedangkan ia sendiri tetap mendapatkan keutamaan yang didapat oleh mereka yang berpuasa dengan niat puasa sunnah Arafah,” tulis Ustadz Alhafiz dalam artikelnya berjudul Hukum Qadha Puasa Ramadhan Digabung dengan Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah yang dikutip NU Online Jawa Tengah pada Jumat (7/6/2024).


Syekh Zakariya Al-Anshari dalam kitab Asnal Mathalib Juz V, mengutip Al-Barizi, tulis Ustadz Alhafiz, bahwa orang yang berpuasa pada hari Asyura, misalnya, untuk qadha atau nazar puasa, maka ia juga mendapat pahala puasa sunnah hari Asyura. Pandangan ini disepakati oleh Al-Ushfuwani, Al-Faqih Abdullah An-Nasyiri, Al-Faqih Ali bin Ibrahim bin Shalih Al-Hadhrami. Pandangan tersebut merupakan pendapat yang mu’tamad. 


Sayyid Bakri Syatha al-Dimyathi dalam kitab I‘anatut Thalibin juga bahwa orang yang berpuasa pada hari-hari tertentu yang sangat dianjurkan untuk berpuasa di dalamnya akan mendapatkan keutamaan sebagai mereka yang berpuasa sunnah pada hari tersebut, walaupun dengan niat qadha puasa atau puasa nazar.


Lebih lanjut, ia juga menguraikan dengan mendasarkan pada pandangan para ulama, bahwa puasa sunnah pada hari-hari yang sangat dianjurkan untuk puasa memang dimaksudkan untuk hari-hari tersebut. Namun, orang yang berpuasa dengan niat lain tetap memberinya keutamaan puasa sunnahnya.


Senada, dalam kitab Al-I‘ab, Al-Barizi juga berfatwa bahwa seandainya seseorang berpuasa pada hari tersebut dengan niat qadha atau sejenisnya, maka dapatlah keduanya, baik ia meniatkan keduanya atau tidak.


Meskipun demikian, Alhafiz memberikan saran untuk mengqadha utang puasanya terlebih dahulu. Jika itu sudah rampung, orang yang sudah lunas membayar utang puasanya baru boleh mengamalkan puasa sunnah. Namun, jika memang utang puasa Ramadhan itu baru teringat jelang hari Arafah, sebaiknya orang tersebut membayar qadha puasanya di hari Arafah.


Keislaman Terbaru