• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Rabu, 21 Februari 2024

Opini

MUKTAMAR KE-34 NU

Perjalanan terpilihnya Gus Yahya Jadi Ketua Umum PBNU

Perjalanan terpilihnya Gus Yahya Jadi Ketua Umum PBNU
Rais aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf (Foto: Dok)
Rais aam KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf (Foto: Dok)

Waktu itu dalam perjalanan bersama Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah (Jateng) KH Ubaidullah Shodaqoh. Beliau bertanya, Mas Zamil sudah pernah dihubungi Gus Yahya? Belum kiai. Beliau dawuh, segera telp beliau. Atau saya telponkan? Mbah Ubaid lalu telepon, setelah nyambung, ponselnya beliau dikasihkan kepada saya, saya matur, bagaimana khabarnya Gus? Dijawab, Alhamdulillah, baik-baik saja. Beliau mengatakan, Kang, ini ada beberapa Wilayah ingin bertemu. Baiknya Jateng tuan rumah ya? Ya siap Gus. 


Kemudian waktu bergulir, Gus Yahya telepon lagi. Kang, karena PPKM diperpanjang, pertemuan wilayah sebaiknya di Jakarta, namun Jateng tetap jadi tuan rumahnya ya? Saya jawab, siap Gus. Kemudian kami melaporkan kepada Rais, beliau setuju.


Kemudian waktu pertemuan bersama pengurus beberapa wilayah, Alhamdulillah dihadiri 23 wilayah. Ada 18 Ketua PWNU dan selebihnya mengirimkan wakil. Dalam pertemuan, saya ditugasi untuk menjadi moderator. Kami memohon Gus Syaifullah Yusuf sebagai Ketua PBNU untuk menjadi moderator, namun beliau mempersilahkan saya jadi moderator.


Diskusi diawali dengan pengantar oleh Rais PWNU Jateng KH Ubaidillah Shodaqoh, kemudian oleh Gus Yahya. Dalam pengantar KH Ubaidullah memaparkan seputar kondisi NU menjelang Muktamar ke-34 serta kondisi ideal yang dikehendaki. Seharusnya Muktamar ke-34 dilaksanakan tahun 2020. Namun karena adanya pandemi Covid-19, PBNU mengadakan Konferensi Besar secara virtual yang memutuskan muktamar dilaksanakan tahun 2021. Namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda persiapan serius untuk menjalankan Muktamar. Kemudian Gus Yahya menyampaikan seharusnya bulan Agustus ini sudah harus ditentukan langkah-langkah persiapan pelaksanaan muktamar, namun belum juga ada rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU yang akan memutuskan waktu penyelenggaraannya.


Setelah itu, saya sedikit mengulas inti sari pengantar dari mbah Kiai Ubaid dan Gus Yahya. Kemudian kami persilahkan para pengurus wilayah yang hadir satu persatu menyampaikan pandangan-pandangannya. Tak terduga, para pengurus wilayah menyepakati perlunya Muktamar ke-34 diselenggarakan pada tahun 2021 sebagaimana keputusan Konbes virtual.


Waktu terus berjalan, kemudian PBNU mengadakan rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah di Pasuruan. Anehnya PBNU tidak memutuskan waktu pelaksanaan Muktamar, melainkan memutuskan pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU tanggal 25-26 September 2021.


Menjelang Konbes, terjadi tarik ulur waktu pelaksanaan muktamar. Akhirnya 23 Wilayah tersebut kembali bertemu dan kembali mengukuhkan niat agar muktamar dilakukan tahun 2021. Kemudian waktu berjalan, tibalah saatnya Munas dan Konbes. Pada saat laporan PBNU, Ketua Umum PBNU  Prof Dr KH Said Aqil Siroj menegaskan adanya pertemuan Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Katib Aam KH Yahya Cholil Tsaquf, Ketua Umum Prof Dr KH Said Aqil Siroj, dan Sekretaris Jenderal Dr Hilmi Faisal Zaini yang telah menyepakati waktu pelaksanaan Muktamar ke-34 tanggal 23-25 Desember 2021.


Dengan tanpa ditawarkan kepada para peserta musyawarah terlebih dahulu, akhirnya pimpinan sidang menetapkan pelaksanaan Muktamar ke-34 diselenggarakan pada tanggal 23-25 Desember 2021. Di tengah persiapan pelaksanaan oleh panitia, kemudian pemerintah mengumumkan akan diberlakukan ppkm level 3 pada saat perayaan natal dan tahun baru (nataru). Tiba-tiba Sekjen PBNU Dr Hilmi Faisal Zaini menyatakan melalui media massa bahwa banyak pihak yang setuju Muktamar ke-34 akan diselenggarakan akhir Januari 2022 bersamaan pelaksanaan hari lahir NU. 


Kemudian musyawarah terbatas antara Rais Aam dan Katib Aam dengan Ketua Umum dan Sekjen. Namun diviralkan pertemuan tidak dapat mengambil keputusan. Setelah itu dilakukan kembali pertemuan terbatas tersebut pada hari berikutnya. Namun Ketua Umum dan Sekjen tidak hadir, dengan alasan ada peresmian masjid. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, akhirnya Rais Aam PBNU mengeluarkan perintah, guna menghormati keputusan pemberlakuan pemerintah, panitia ditugaskan melaksanakan muktamar dalam tenggat waktu 17 Desember 2021, karena kalau diundur lagi, masa khidmat PBNU yang diperpanjang oleh keputusan Konbes akan berakhir tahun 2021.


Setelah itu ada demonstrasi dua kali di Kantor PBNU. Ada juga gugatan terhadap keputusan Rais Aam PBNU tersebut dari Rais dan Katib PWNU Lampung.  Kemudian perwakilan PWNU kembali bertemu. Pertemuan yang semula diikuti oleh 23 Wilayah bertambah hingga menjadi 27 Wilayah yang mendukung keputusan Rais Aam. Kemudian juga dilanjutkan dengan bertemu dengan Rais Aam di Kantor PBNU.


Waktu terus merangsek, pemerintah mencabut pemberlakuan PPKM level 3, perwakilan 27 Wilayah kembali bertemu meminta PBNU menggelar Konbes. Detik-detik terakhir menjelang Konbes yang digelar tanggal 7 Desember, perwakilan 27 Wilayah kembali sowan kepada PBNU. Akhirnya diumumkan oleh PBNU bahwa Muktamar ke-34 akan diselenggarakan pada tanggal 23-25 Desember 2021.


Sepekan sebelum Muktamar, undangan resmi PBNU baru kami terima. Juga ada undangan dari panitia untuk mengikuti sosialisasi pendaftaran online. Waktu itu kami mengharapkan agar pendaftaran dilakukan secara offline dengan menunjukkan dokumen resmi berupa Surat Keputusan PBNU tentang pengesahan PWNU, PCNU, dan PCINU, surat mandat, dan Surat Calon Anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).


Sekitar dua pekan setelah Munas dan Konbes NU tanggal 25-26 September, PWNU Jateng mengundang Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Jateng di Semarang, dengan agenda sosialisasi hasil Munas dan Konbes, serta merumuskan agenda persiapan Muktamar.  Acara ini diikuti oleh Pengurus harian Wilayah, Rais dan Ketua PCNU, juga dihadiri Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Tsaquf.


Dalam acara tersebut terdapat 9 poin kesepakatan, diantaranya adalah perlunya penguatan peran Syuriyah, pemberdayaan kepengurusan NU hingga MWCNU, Ranting dan Anak Ranting NU, perlunya penyelesaian masalah organisasi sesuai ketentuan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga NU, serta perlunya kaderisasi dan regenerasi dalam jajaran PBNU. Dengan bekal kesepakatan tersebut, kami menjadikannya sebagai dasar dalam berkomunikasi dengan PBNU dan PWNU di seluruh Indonesia. Dengan bekal tersebut pula kami menentukan pilihan, yakni regenerasi, karena di antara bakal calon yang ada, yang kami pandang relatif mampu menjalankan regenerasi adalah Gus Yahya.


Tak menduga sama sekali bahwa dalam pertemuan ucapan selamat datang di Lampung, kami ditugasi PWNU yang hadir untuk membacakan naskah ikrar di hadapan PCNU dan PCINU yang sempat hadir. Pernyataan tersebut berisi tiga hal penting. Pertama, mendukung pelaksanaan Muktamar ke-34 dengan damai, tertib, dan bermartabat. Kedua, mendukung pelaksanaan muktamar dengan protokol kesehatan. Dan Ketiga, mendukung Gus Yahya sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2021-2026.


Penulis menyadari bahwa di NU bersifat hiterogen, baik dari sisi latar belakang pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya. Keragaman ini merupakan keniscayaan yang tidak terelakkan. Dengan keragaman ini juga memunculkan banyak pendapat, namun masih dalam batas koridor ahlussunnah wal jamaah, seperti sikap tawasuth, tawazun, i'tidal, dan tasamuh. Dalam hal memilih, penulis sepakat dengan pendapat Rais PBNU KH Afifuddin Muhajir bahwa jika pilihan seorang pemilih benar maka mendapatkan dua pahala, dan apabila salah, maka mendapatkan satu pahala.


Kini Muktamar ke-34 NU telah berakhir, kami mendapatkan keteladanan yang baik dari Prof Dr KH Said Aqil Siroj dan Gus Yahya yang tetap saling menghormati dan menghargai. Dengan keteladanan yang baik tersebut, Insyaallah NU akan dapat berkhidmat kepada masyarakat, bangsa dan negara dengan cara yang lebih baik.


Kami mengucapkan terima kasih khidmah PBNU masa khidmat 2015-2021, semoga menjadi amal jariyah yang dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Taala. Kami juga ucapkan terima kasih kepada pemerintah dan segenap warga NU sehingga Muktamar ke-34 NU dapat berjalan lancar, dinamis, dan menggembirakan. Selamat dan barakah kepada Rais Aam terpilih KH Miftahul Ahyar dan KH Yahya Cholil Tsaquf sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2021-2026.


Muktamar NU ke-34 yang berlangsung dinamis tersebut merupakan sarana menuju abad kedua Nahdlatul Ulama, untuk berperan lebih maksimal lagi dalam berkhidmat kepada masyarakat, bangsa, dan negara dengan iman, ilmu, dan amal shaleh oleh segenap pengurus dan warga NU.


Terpilihnya Mbah Kyai Miftahul Ahyar dan Gus Yahya tidak terlepas dari proses regenerasi yang alami yang merupakan kehendak para peserta muktamar atau muktamirin. Visi Gus Yahya yang berkehendak menghidupkan Gus Dur merupakan tawaran perubahan yang positif dalam kehidupan organisasi NU. Kita semua rindu Gus Dur mengenai ide dan spiritualitasnya serta suri tauladannya yang penuh makna bagi kehidupan dalam segala aspeknya. Wallahu a'lam bis shawab



HM Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) jawa Tengah


Opini Terbaru