• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Selasa, 31 Januari 2023

Nasional

Lakpesdam PBNU: Ada yang Berubah Orientasinya Orang Pergi Haji

Lakpesdam PBNU: Ada yang Berubah Orientasinya Orang Pergi Haji
Kegiatan halaqah pesantren di kampus UIN Walisongo Semarang (Foto: NU Online Jateng/Insan Al-Huda)
Kegiatan halaqah pesantren di kampus UIN Walisongo Semarang (Foto: NU Online Jateng/Insan Al-Huda)

Semarang, NU Online Jateng
Ketua Lembaga kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PBNU KH Ulil Abshar Abdalla menyampaikan, pada abad ke-19 dan abad ke-20, jamaah haji ke Haromain selain beribadah haji juga sekaligus mengaji.  


"Waktu itu Syekh Abdurrouf Assinkiki, Mbah Kiai Hasyim Asy'ari, Mbah Mahfudz Atturmusi, dan Mbah Kiai Abdul Wahab Hasbullah, selain beribadah juga mengaji", ujarnya dalam Halaqah Pesantren yang diselenggarakan kerja sama Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, dan PWNU Jateng di Semarang, Kamis (1/12/2022).


Karena itu jelas menantu KH Ahmad Mustofa Bisri itu, kiai-kiai waktu itu merupakan ulama yang memiliki jaringan hubungan guru dan murid secara internasional dengan menggunakan bahasa Arab.


"Berbeda dengan sekarang dalam era digital, ulama sekarang bisa kembali berhubungan dengan ulama lain secara internasional. Bahkan ada tren baru jika dulu orang pergi haji sekaligus ngaji, sekarang selain pergi haji juga belanja," ujarnya.


Dijelaskan, misalnya Sayyid Umar Hafidz yang mengaji kitab al-Muwatha. Disiarkan live secara internasional. Dirinya juga ngaji istifadah kepada ulama melalui digital. "Ngaji digital barakahnya memang agak berkurang. Namun digital dapat sebagai sarana menghubungkan tradisi keilmuan kosmopolitan. Karena itu kiai-kiai kita dapat mengaji kitab-kitab muktabarah dengan berbagai bahasa internasional, seperti Arab dan Inggris," jelasnya.


Lebih lanjut ia menjelaskan, kalau ngaji digital itu santri yang mengaji bukan hanya sekarang namun juga yang akan datang, karena jejak digital bisa ditelusuri sampai kiyamat. "Tentang barakah, asalkan mengaji dengan niat yang baik, terus menerus dan menjaga adab, tentu akan menambah kebaikan-kebaikan," terangnya.


Disampaikan, dengan ngaji digital setiap tahun sekali dapat dilakukan pertemuan langsung sehingga guru dan murid dapat bertemu dan meminta ijazah.


Ketua PWNU Jateng HM Muzamil menjelaskan, halaqah pesantren adalah tradisi keilmuan di lingkungan NU. Dirinya menyampaikan terima kasih kepada Gus Ulil dan UIN Walisongo yang menyambut baik kegiatan yang diinisiasi PWNU Jawa Tengah.


"Kami berharap halaqah pesantren bisa berdampak positif bagi umat khususnya nahdliyin di lingkungan kampus dan pesantren," pungkasnya.


Nampak hadir dalam halaqah tersebut Rais PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh, Rektor UIN Walisongo Prof Imam Taufik, Ketua M Muzamil, jajaran PWNU dan PCNU se-Jateng.


Pengirim: Insan Al-Huda


Nasional Terbaru