• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 23 Mei 2024

Nasional

Habib Luthfi Sampaikan Pentingnya Latihan Bersihkan Hati dengan Kebiasaan Baik

Habib Luthfi Sampaikan Pentingnya Latihan Bersihkan Hati dengan Kebiasaan Baik
Habib Luthfi bin Yahya hadiri acara di Boyolali (Foto: NU Online Jateng/Siswanto AR)
Habib Luthfi bin Yahya hadiri acara di Boyolali (Foto: NU Online Jateng/Siswanto AR)

Boyolali, NU Online Jateng
Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya menyatakan, apa sebenarnya thariqah itu? Dia menjelaskan, thariqah khusus di sini bukan ditembak tidak mempan, bukan bisa berjalan di atas air, dan bukan bisa mengobati orang, melainkan litashfiyatil qulub (untuk membersihkan hati). 


"Bagaimana caranya kita mengganti sifat yang kurang baik atau penyakit yang ada di hati menjadi hiasan," ujarnya dalam pengajian Haul Masyayikh dan Tahlil Massal Pesantren Darussalaam Desa Bandung, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali pada Sabtu (29/7/2023).


Disampaikan, untuk mengubah yang kurang baik menjadi baik harus bertahap, sedikit demi sedikit yang kemudian akan mengukir dan menggantikan ukiran dan sifat yang tidak terpuji, lebih-lebih (mengubah sifat) yang akan membahayakan iman Islam kita yang terkadang menarik kepada perjalanan su'ul khatimah.


"Di sini maksud thariqah, ialah thariqatil wushul ila hadhratil maqbul, jalan menuju kepada Allah SWT," tegasnya. 


Habib Luthfi yang juga Ketua Ulama Sufi Dunia itu mencontohkan amalan dhahiriyah keseharian yang biasa dilakukan. Semisal setiap orang yang akan menjalankan shalat pasti mengambil air wudhu dahulu. "Yang menjadi pertanyaannya apakah wudhu kita sudah mencapai batiniyah atau tidak? Apa sekadar lahiriyah?" katanya. 


Dijelaskan, misalnya setiap wudhu kita membasuh muka 3 kali, sehari 15 kali (dalam 5 waktu shalat), dan sebulan 450 kali. "Sebagian kita hanya mendapat bersih saja tapi tidak menyentuh pada batiniyahnya. Apakah kita semakin tawadhu? Apakah kita semakin andhap asor (rendah hati)? Apakah kita semakin menengadah kepala (sombong), siapa saya?," ucapnya. 


Lantas Habib Luthfi mengutip sabda Nabi Saw, 'Barangsiapa yang membasuh mukanya dalam berwudhu maka keluarlah beberapa dosanya'. Menurutnya, kalau keluar beberapa dosanya (mestinya) bukan semakin menengadah tapi semakin menunduk dan pelan-pelan akan hilang keakuannya. 
 


Diterangkan, apabila manusia meresapi dan benar-benar merasakan bahwa mata bagian dari yang disucikan, mulut kita bagian yang disucikan saat membasuh muka, pasti kita akan menjaga kesucian tersebut. 


"Apakah mata kita (masih) selalu mencari kesalahan orang yang menimbulkan suuzon, prasangka yang jelek kepada siapa pun? Apalagi sebentar lagi 2024 ada pemilu," katanya. 


Anggota Dewan Pertimbangan Presiden itu mengajak manusia menjaga mata dan mulut sehingga tidak mencari-cari kejelekan dan aibnya orang untuk dijual demi kepentingan sesaat. 


Dikatakan, kalau seseorang sudah biasa menjaga mata, mulut, dan tindakan secara refleks tidak mau kalau diajak maksiat atau menyebar aibnya orang. "Kalau orang sudah belajar bela diri, berlatih setiap hari, Insyaallah orang itu punya gerak refleks yang luar biasa. Mulut ini juga sama, kalau mulut sudah biasa terkena air wudhu dan kita tahu sebagai kebersihan dan (ada) hikmah dari wudhu, mulut kita akan terjaga dengan baik," ungkapnya. 


Habib Luthfi menegaskan, jika terbiasa mengucapkan laailahaillallah atau subhanallah, ketika kena batu kakinya (tersandung) langsung dari lisannya keluar laailahaillallah atau subhanallah. 


"Yang biasa mengucapkan 'kaki empat' ya yang keluar dari lisan juga kaki empat. Karena menurutnya yang keluar dari lisan berdasar kebiasaan yang terlatih," pungkasnya. 


Pengasuh Pesantren Darussalam Kiai Khumaidi bersyukur alhamdulillah, malam ini penuh berkah. "Semoga kehadiran jamaah semua serta berkah Maulana Habib Luthfi, malam ini Allah menurunkan rahmatnya, menurunkan berkahnya kepada masyarakat Boyolali, khususnya Desa Bandung," pungkasnya. 


Pengajian yang juga dalam rangka santunan yatim piatu, khataman kitab jalalain, peringatan 1 Muharram 1445 Hijriah, dan khalwat Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah dihadiri ribuan jamaah dari Wonosegoro dan sekitarnya. 


Penulis: Siswanto AR


Nasional Terbaru