• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Nasional

Gus Yusuf Chudlori Sarankan, Jika Ingin Berkah Harus Berkhidmah

Gus Yusuf Chudlori Sarankan, Jika Ingin Berkah Harus Berkhidmah
KH Yusuf Chudlori (Foto: Istimewa)
KH Yusuf Chudlori (Foto: Istimewa)

Rembang, NU Online Jateng
Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang KH Yusuf Chudlori mengatakan, salah satu cara seseorang agar mendapatkan berkah yaitu harus merasakan khidmah dan pengabdian kepada guru-guru. 


"Jika mendapatkan keberkahan dari para alim ulama, Insyaallah segala sesuatunya terasa cukup lahir dan batin. Barang siapa yang ingin diberikan hati dan keluarga yang tenang dan tentram, maka mendekat dan pasrahlah kepada Allah swt,” kata Gus Yusuf.


Penegasan itu disampaikan dalam Haul Akbar Simbah KH Ma’shoem Ahmad Lasem, Rembang pada Ahad (2/10/2022) malam. 


Dalam siaran pers yang diterima NU Online Jateng, Senin (3/10/2022) disampaikan, jka seseorang tidak bisa merasa menjadi orang yang banyak salah dan dosa, maka bersandarlah kepada orang-orang yang diyakini dekat dengan Allah. 


"Itu adalah wasilah agar mendapatkan petunjuk dan pertolongan Allah,” ucapnya.



Almaghfurlah KH Ma'shum Lasem Rembang (kiri) (Foto: Dok)


Gus Yusuf menambahkan, seseorang yang dekat dengan Allah swt adalah kekasih-Nya, yaitu Rasulullah Muhammad saw. Oleh karena itu, perlu memperbanyak membaca shalawat sebagai wasilah dan berharap mendapat pertolongan serta syafaatnya Nabi Muhammad saw baik di dunia maupun akhirat. 


“Karena kita tidak hidup di zaman Nabi sehingga kita bisa mendekatkan diri juga kepada para alim ulama sebagai pewaris Nabi. Termasuk acara haul ini dalam rangka mendekatkan diri dengan kekasih Allah swt, yaitu Mbah Ma’shoem Ahmad, yang kita yakini beliau adalah orang yang dekat dengan Allah dan Rasulullah,” ungkapnya. 


Dijelaskan, khidmah juga dapat dilaksanakan dengan meneruskan perjuangan guru-guru, termasuk seperti yang dilakukan Mbah Ma’shoem Ahmad yaitu ikut mendeklarasikan Nahdlatul Ulama (NU). 


"Oleh karena itu, perlu secara bersama-sama menghidupkan apa yang menjadi program NU dengan niat khidmah kepada para muassis dan para guru. Para ulama juga meninggalkan pesantren, maka cara berkhidmahnya adalah dengan cara merawat dan mengurusnya dengan baik. Sebagai orang tua maka dapat mengembalikan anaknya ke pesantren di mana pun sebagai wujud khidmah, asal pesantren yang dipilih jelas NU,” ujarnya.


Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng HM Muzamil menyampaikan, kalau membaca sejarah NU, Mbah KH Ma'shum Achmad termasuk pendiri Jam'iyyah NU. Almarhum Almaghfurlah Mbah Ma'shum termasuk santri Syaikhona Kholil Bangkalan Madura.


"Setelah menyelesaikan pendidikannya di Bangkalan, almaghfurlah Mbah Ma'shum gigih dalam melakukan dakwah mensyi'arkan Islam ala ahlussunah wal jamaah," terangnya kepada NU Online Jateng.


Dikatakan, waktu dirinya bertemu salah seorang dzuriyahnya, yang menjadi Pengasuh Pesantren At-Taslim Demak Mbah KH Nur Huda, beliau meriwayatkan bahwa dulu Mbah Ma'shum pernah dawuh sebagaimana dawuhnya Mbah Hasyim Asy'ari.


"Siapa saja yang mau berkhidmah pada NU, Insyaallah akan diakui sebagai santrinya. Jika diakui sebagai santrinya maka akan didoakan kalau meninggal dalam keadaan husnul khatimah," ujarnya menirukan.


Selain mendidik para santri di Lasem lanjutnya, Almaghfurlah Mbah Ma'shum juga rajin berusaha mencari nafkah yang halal, dengan cara berdagang pakaian. "Semoga kita bisa mendapatkan limpahan barakah ilmu dan perjuangannya, amin," pungkasnya.


Penulis: Samsul Huda


Nasional Terbaru