• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 23 Februari 2024

Nasional

Haul Ke-51, Ini Tiga Wasiat Simbah Kiai Ma'shum Lasem Rembang

Haul Ke-51, Ini Tiga Wasiat Simbah Kiai Ma'shum Lasem Rembang
Gus Zaim menyampaikan pesan dan teladan dari KH Ma'shum (Sumber: NU Online)
Gus Zaim menyampaikan pesan dan teladan dari KH Ma'shum (Sumber: NU Online)

Rembang, NU Online Jateng
Peringatan haul ke-51 KH Ma’shum Ahmad Lasem digelar, Kamis (15/4) siang, bertempat di kompleks makam Masjid Jami’ Lasem, Rembang. Dalam kesempatan itu, Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Zaim Ahmad Ma'shum, mengungkapkan beberapa wasiat dari Kiai Ma'shum.

“Sebelum meninggal, beliau meninggalkan beberapa wasiat. Yang pertama, jangan sampai anak cucu dan murid-muridnya ada yang menolak ketika ada orang yang meminta-minta,” ungkapnya.

Dikisahkan oleh Gus Zaim, dua hari sebelum mbah Ma’shum meninggal pernah memberikan sarung sutra yang baru kepada putranya yakni KH Syakir. Berpesan jika ada yang meminta sarung itu maka harus diberikan.

“Hingga akhirnya dua hari setelah mbah Ma’shum meninggal, ada orang yang datang meminta sarung yang baru dari KH Syakir, dan diberikanlah sarung itu. Orang tersebut pergi begitu saja, saat dicari sudah tidak terlihat jejaknya,” terang cucu Mbah Ma’shum itu.

Menurut Gus Zaim, kakeknya itu pernah memberi nasihat: Lamuna kowe ora duwe, tapi duwe cadangan, ke'ono senajan ora sesuai karo penjalukane (Seandainya kamu sedang mengalami kekurangan, akan tetapi masih memiliki cadangan, berikanlah sesuatu kepada peminta-minta kendati tidak sesuai permintaannya).

“Jika memintanya banyak kalau kita tidak punya maka diberikan saja sedikit. Sampai Mbah Ma’shum bilang kalau tidak punya maka disuruh untuk hutang-hutang,” terang Pengasuh Pesantren Kauman Lasem itu.

Wasiat kedua, lanjut Gus Zaim, Mbah Ma’shum tidak ridha jika ada anak cucunya tidak mengikuti Nahdlatul Ulama. “Karena ajaran yang disampaikan oleh NU adalah ajaran yang benar,” ungkapnya.

Ia melanjutkan, wasiat ketiga Mbah Ma’shum berkaitan dengan menghormati tamu yang datang. Sehingga tidak pernah ada tamu yang tidak bertemu dengan beliau.

“Meskipun di malam hari, wajib bagi santri yang berjaga untuk membangunkan Mbah Ma’shum ketika ada tamu datang. Kecuali tamu itu berkata bahwa tidak perlu membangunkan Mbah Ma’shum karena besok pagi akan datang kembali,” pungkasnya.

Kontributor: Afina Izzati


Nasional Terbaru