• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 14 Agustus 2022

Fragmen

Inilah Kitab yang Dikaji Hadratus Syekh di Bulan Ramadhan

Inilah Kitab yang Dikaji Hadratus Syekh di Bulan Ramadhan
Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari (Sumber: NU Online)
Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari (Sumber: NU Online)

Sudah menjadi semacam tradisi yang turun temurun sampai sekarang, pada bulan Ramadhan di beberapa pesantren besar ramai didatangi orang-orang untuk ikut mengaji kitab tertentu. Tradisi ini dalam kalangan pesantren, biasa disebut ngaji pasanan atau pasaran.

Tak terkecuali pesantren besar macam Tebuireng Jombang, sejak zaman dahulu, ketika bulan Puasa tiba, para santri dari berbagai pelosok Tanah Air berduyun-duyun ke Tebuireng untuk ikut mengaji kitab Shahih Bukhari kepada Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari yang memang juga dikenal sebagai salah seorang ulama ahli hadits.

Salah satu tokoh NU dan mantan Menteri Agama RI KH Saifuddin Zuhri mengatakan bahwa ketika KH Hasyim Asy’ari membaca kitab Shahih Bukhari, membaca dengan cermat tetapi cepat, seolah sedang membaca kitab karangannya sendiri.

“Orang yang pernah melihat sendiri, cara Hadratus Syekh membaca Bukhari mengatakan bahwa beliau sebenarnya telah hafal seluruh isi kitab ini. Seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri!” (Saifuddin, 1974: 152)

Aboebakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup KH A. Wahid Hasyim (2015) memaparkan sedikit gambaran suasana ngaji pasanan di Tebuireng kala Hadratus Syekh masih hidup. Menurut dia, pada zaman itu, lumrahnya di bulan Ramadhan pesantren menjadi sepi, sebab para santri diliburkan untuk diberikan kesempatan pulang ke kampungnya masing-masing. Namun, sebaliknya di Tebuireng, suasana justru bertambah ramai, karena kedatangan oleh para santri yang ingin menghabiskan Ramadhan bersama sang guru tercinta.

“Ia (hadratus syekh, red) selama bulan Puasa memberi kuliah istimewa mengenai ilmu hadits karangan Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadits yang penting ini harus khatam dalam sebulan puasa itu dan oleh karena itu, jadilah bulan ini suatu bulan yang penting bagi kiai-kiai bekas muridnya di seluruh Jawa," tulisnya.

"Dalam bulan puasa, bekas murid-muridnya yang sudah memimpin pesantren di mana-mana, biasanya memerlukan datang tetirah ke Tebuireng, tidak saja untuk melanjutkan hubungan silaturahim dengan gurunya, tetapi juga untuk mengikuti seluruh kuliah istimewa mengenai hadits Bukhari dan Muslim guna mengambil berkah atau tabaruk,” (Atjeh, 105-106).

Pengajian tersebut biasanya diselenggarakan di pendopo masjid. Tempat ini dalam kesehariannya juga digunakan untuk mengajar para santri. Biasanya beliau mengajar bahkan sampai tengah malam. Sebagai tempat duduk, digunakan alas sepotong kasur yang ditutupi dengan sepotong tikar atau sepotong kulit biri-biri, dan di sampingnya terdapat sebuah bangku untuk meletakkan beberapa kitab.

Sampai sekarang, tradisi pengajian Kitab Shahih Bukhari di Tebuireng pada bulan Ramadhan masih berjalan. Setelah Hadratus Syekh wafat, pengajian ini dilanjutkan oleh Kiai Idris Kamali dan Kiai Syamsuri, dan kemudian dilanjutkan Gus Ishom Hadzik. Sempat vakum beberapa tahun, akhirnya dari berbagai pertimbangan ditunjuklah Kiai Habib Ahmad, seorang alumni Pondok Tebuireng yang pernah mendapatkan ijazah kitab ini dari Kiai Syamsuri.

Kemudian semenjak Kiai Habib Ahmad wafat pada September 2020 lalu, Qari Kitab Shahih Bukhari dan Muslim diamanahkan kepada KH Kamuli Chudlori. Hingga bulan Ramadhan tahun ini, Kiai Kamuli Chudlori inilah yang menjadi Qari Kitab Shahih Bukhari dan Muslim.

Kini pengajian Kitab Shahih Bukhari dan Muslim ini bisa diikuti di channel Youtube Pesantren Tebuireng. Rekaman penuh sejarah yang pada bulan Ramadhan disiarkan langsung lewat live streaming pengajian Pesantren Tebuireng.

Penulis: Ajie Najmuddin


Fragmen Terbaru