• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Opini

Dari Tarawih Kita Belajar Banyak Hal

Dari Tarawih Kita Belajar Banyak Hal
ilustrasi shalat (Sumber: NU Online)
ilustrasi shalat (Sumber: NU Online)

Shalat tarawih merupakan salah satu amalan ibadah yang hanya ada di bulan Ramadhan. Karena itu tarawih menjadi istimewa. Bagi sebagian masyarakat, mungkin kedudukannya seakan mengungguli shalat sunah rawatib.

Ini bisa kita lihat di masjid sekitar kita. Fenomena tarawih ini menjadi pesona tersendiri, yang mampu menyedot masyarakat untuk berduyun-duyun pergi ke masjid. Orang yang biasanya malas ke masjid jadi ikut terlecut untuk menyambangi rumah Allah.

Hal ini, mungkin tak lepas dari berbagai keterangan yang menyebutkan tentang keutamaan dan pahala tarawih. Mulai dari diampuni dosa seperti bayi baru dilahirkan ibunya, sampai dijanjikan pertemuan dengan Sang Khaliq. Ini tentu akan menjadi motivasi tersendiri bagi seseorang yang akan menjalankannya.

Namun, di balik segala keutamaan tarawih itu, siapa sangka juga terselip ruang pembelajaran untuk memupuk sikap toleransi. Toleransi yang dalam bahasa sederhana bisa kita maknai sebagai sikap menghargai perbedaan. Perbedaan ini acap kali terjadi di lingkungan kita, dan bahkan melibatkan diri kita.

Perbedaan ini mungkin jarang kita temui, apabila kita masih tinggal dalam satu lingkup (ideologi, ormas, suku, dan sebagainya). Namun, ketika kita sudah dihadapkan pada sebuah masyarakat yang majemuk, maka perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seperti yang penulis alami sendiri, ketika dalam sebuah musyawarah persiapan menyambut Ramadhan.

Pada awalnya kami sepakat, tentang perlunya pengadaan tarawih di kompleks perumahan yang kami tinggali. Meskipun kala itu, di perumahan kami belum memiliki masjid, namun panitia kecil yang dibentuk untuk mengurusi hal ini sangat bersemangat untuk menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan. Sampailah pada pembahasan tarawih, dan justru di bagian ini yang paling lama dan alot.

Mulai dari jumlah rakaat (20 atau 8 rakaat tarawih), format shalat (2 atau 4 rakaat salam). Ini pun belum selesai, karena ada yang masih belum sepakat ketika witir mesti 2 rakaat ditambah 1 rakaat, mereka menginginkan 3 rakaat sekaligus. Setelah dicapai kesepakatan, akhirnya diputuskan shalat 8 rokaat, di mana tiap 2 rakaat salam. Dilanjutkan witir 2 rakaat salam, ditambah 1 rakaat salam.

Selesai? Ternyata belum, karena masih ada kelanjutan seperti bagaimana dengan bacaan basmalah pada awal al-Fatihah? lalu apakah memakai bilal atau tidak? dan tak ketinggalan, doa tarawih dan witir. Alhasil, pada malam itu pembahasan menjadi lama, padahal tadinya hanya ingin membahas: apakah ada tarawih atau tidak?


Tarawih Masjid Agung Solo

Hal di atas mungkin lumrah (mungkin pula sudah mentradisi) terjadi di sebuah kampung atau masjid, yang masyarakatnya memiliki beragam latar belakang. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan berbagai perbedaan tersebut, mesti membuat umat Islam terpecah belah, dengan mendirikan jamaah sendiri atau bahkan membangun masjid baru?

Semestinya hal tersebut janganlah terjadi, sebab perbedaan adalah rahmat dan sunnatullah. Bahwa perbedaan tersebut apabila dapat kita kelola dengan baik, justru dapat menjadi khazanah tersendiri. Bukan berarti hendak mencampurkan mazhab, namun cobalah tengok kearifan di Masjid Agung Solo.

Di masjid tersebut sempat terjadi dualisme pendapat tentang pelaksanaan tarawih, yang berujung pada pemisahan jamaah. Dalam waktu yang sama terjadi 2 kubu jamaah tarawih, jamaah 8 rakaat di ruang utama, sedangkan 20 rakaat di ruang samping (pawastren). Bisa kita bayangkan, apabila kejadian tersebut terjadi di masjid lingkungan kita ataupun masjid yang lain, tentu bukan sebuah hal yang baik.

Namun, sejak beberapa tahun yang lalu, dibuatlah sebuah konsensus baru, di mana salat tarawih disatukan di ruang utama, dengan menggunakan 20 rakaat tarawih. Bagaimana dengan yang 8 rakaat tarawih, apakah mereka kemudian harus menyingkir? Tidak, tetapi mereka tetap shalat bersama, bahkan diberi keistimewaan, yakni saat selesai 8 rakaat tarawih, mereka yang akan melanjutkan hingga 20 rakaat, mesti menunggu selesai witir dari jamaah 8 rakaat tarawih.

Pun yang di masjidnya menerapkan 8 rakaat, tentu yang hendak melaksanakan 20 rakaat, juga perlu berbesar hati dengan tetap mengusung asas persatuan. Tidak perlu membuat jamaah sendiri, tetapi ikut bersama shalat dengan jamaah 8 rakaat. Kemudian untuk meneruskan hingga 20 rakaat, dapat meneruskan sendiri ataupun berjamaah.

Kedua kebijakan di atas, menjadikan masalah perbedaan pendapat rakaat salat tarawih, sedikit banyak dapat ditengahi. Bukankah suatu contoh yang indah, apabila dapat diterapkan di kehidupan masyarakat kita? Di mana perbedaan tidak mesti diberangus, tapi dikelola dengan arif dan merangkul yang lain.


Perkuat Persaudaraan

Selain itu, secara tidak langsung, tarawih secara berjamaah mampu memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwah islamiyyah). Bagaimana tidak, hampir setiap hari kita akan bertemu dengan saudara kita. Bagi masyarakat di desa mungkin ini hal yang biasa, namun bagi masyarakat di perkotaan yang memiliki kultur individual, tarawih berjamaah ini akan jadi momentum berharga untuk mengenal tetangga di lingkungannya, atau bahkan mengenal tetangga sebelah rumah yang mungkin belum kenal.

Jangan lupakan pula, tradisi berbagi jaburan (makanan atau minuman) usai tarawih. Tradisi yang dilakukan oleh sebagian masyarakat kita ini, menanamkan karakter untuk saling berbagi. Bukan dilihat dari air teh atau gorengan yang disajikan, tapi nilai tasamuh dan peduli sesama, itulah yang diharapkan.

Pada kesimpulannya, dalam tarawih (mulai dari persiapan sampai pelaksanaannya) kita dapat belajar banyak hal. Di antaranya sikap toleransi, demokratis dan sikap tawasuth. Sikap demokratis terdapat pada musyawarah penentuan rakaat. Toleransi dengan menghargai perbedaan yang ada. Sedangkan sikap tawasuth perlu dalam pelaksanaan tarawih, di mana imam semestinya tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat.

Oleh karena itu, mari kita jaga nilai-nilai tersebut. Jangan sampai perbedaan yang ada, justru menimbulkan bibit perpecahan dan perdebatan yang tak kunjung reda. Jadikanlah perbedaan ini sebagai sebuah rahmat, yang membuat nyaman umat.

Mari kita ramaikan tarawih, di masjid, langgar, atau mushala kita. Jadikan tarawih sebagai ruang pembelajaran shalat bagi anak-anak kita. Terakhir, semoga tarawih yang kita kerjakan semoga dapat menghapus dosa-dosa kita, sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits, sehingga nanti ketika Ramadhan berakhir kita sudah dalam keadaan benar-benar fitrah. Amin.

Ajie Najmuddin, Redaktur NU Online Jateng


Opini Terbaru