• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Tokoh

Mbah Gareng, Buyut Gus Dur yang Makamnya di Desa Ngroto Grobogan

Mbah Gareng, Buyut Gus Dur yang Makamnya di Desa Ngroto Grobogan
makam Mbah Gareng (buyut Gus Dur) di Desa Ngroto, Gubug, Kabupaten Grobogan (Foto: Istimewa)
makam Mbah Gareng (buyut Gus Dur) di Desa Ngroto, Gubug, Kabupaten Grobogan (Foto: Istimewa)

Dahulu, di Pesantren Pedukuhan Ngroto, Gubug, Kabupaten Grobogan ada seorang santri yang sangat cerdas dan menojol berkat ketekunannya mengaji. Ia bahkan lebih pandai di antara santri-santri yang lain yang belajar di pesantren tersebut. Beliau adalah Khoiron atau Choiron, pemuda asal Tingkir Salatiga yang nyantri di pesantren yang saat itu diasuh oleh Kiai Sirajudin.


Setelah menamatkan mengajinya di pesantren Ngroto, Khoiron kemudian dipercaya oleh Kiai Sirajudin untuk ikut membantu mengajar di pesantren Ngroto. Kemudian jadilah ia seorang kiai dan menetap di Ngroto. Banyak masyarakat yang mengaji kepada Kiai Khoiron. Konon, karena tubuhnya yang kecil dan pendek, banyak warga yang memanggil beliau dengan sebutan Kiai Gareng atau Mbah Gareng.


Kiai Khoiron atau Mbah Gareng menikah dengan seorang gadis Ngroto. Dari pernikahannya itu, ia mempunyai dua orang putra, bernama Asngari dan Asyari. Sejak kecil, kedua kakak beradik itu dididik sendiri oleh Kiai Khoiron dengan harapan kelak keduanya juga menjadi seorang kiai atau ulama.


Salah seorang putranya yang bernama Asy’ari, setelah mendalami agama dari ayahnya, ia meneruskan mengaji ke luar daerah. Pesantren di daerah Jawa Timur yang menjadi tujuannya. Saat itu Jawa Timur memang sudah dikenal sebagai gudang pesantren di tanah Jawa. Adapun Asngari tetap bertahan di Ngroto.


Mengenai hal ini, seorang pengkaji sejarah asal Gubug bernama Heru Hardono menyatakan, saat itu Asy‘ari merantau untuk memperdalam ilmu agama ke daerah Tuban dan lalu menetap di Jombang. Dari putra Kiai Khoiron alias Mbah Gareng yang bernama Asy’ari inilah, kemudian menurunkan Kiai Hasyim Asy'ari yang dikenal sebagai tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan kakek dari KH Abdurahman Wahid atau biasa dipanggil Gus Dur.


Silsilahnya berlanjut dari Kiai Hasyim Asy'ari menurunkan Kiai Wahid Hasyim yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama RI dan selanjutnya Kiai Wahid Hasyim menurunkan KH Abdurahman Wahid alias Gusdur. Sedangkan Asngari, putra Kiai Khoiron yang lain, yang tetap tinggal di Ngroto menurunkan Baedlowi (Kades Ngroto pertama). Kemudian Baedlowi menurunkan Kiai Sukemi dan Kiai Sukemi menurunkan Kiai Zuhri atau Mbah Zuhri, yang kelak dikenal sebagai seorang ulama kharismatik yang mukim di Kuwaron, Gubug.


Kiai Khoiron sendiri mengabdikan hidupnya berdakwah di Ngroto hingga wafatnya. Saat ini, makam Kiai Khoiron masih bisa dijumpai di pemakaman Desa Ngroto, Kecamatan Gubug. Semasa hidup, Gus Dur pernah berzirah ke makam leluhurnya tersebut.


Belum lama ini, sekitar akhir bulan September 2019 lalu, putri Gusdur Yenni Wahid juga berziarah ke makam Kiai Khoiron selepas acara pengajian akbar di Alun-alun Purwodadi yang dihelat PC Muslimat NU Grobogan.


Sumber: laduni.id


Tokoh Terbaru