• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Senin, 17 Juni 2024

Tokoh

Kiai Hasan Bisri Santri KH Hasyim Asy'ari Tinggal di Kabupaten Tegal

Kiai Hasan Bisri Santri KH Hasyim Asy'ari Tinggal di Kabupaten Tegal
Almaghfurlah KH Hasan Bisri murid KH Hasyim Asy'ari (Foto: Dok)
Almaghfurlah KH Hasan Bisri murid KH Hasyim Asy'ari (Foto: Dok)

Jika berkunjung ke Praban Lintang, sebuah destinasi wisata hutan pinus yang terletak di Kabupaten Tegal bagian selatan atau di kaki gunung Slamet yaitu tepatnya di Desa Danasari, tanpa terasa  sesungguhnya sedang napak tilas ke sebuah desa tua yang memiliki khazanah literasi yang unik. 


Di bagian timur Desa Danasari di kenal dengan nama Kebagusan. Nama Kebagusan ini konon katanya dilekatkan dengan seorang tokoh yang bernama Kiai Bagus. Sampai hari ini masih dalam pencarian siapa sesungguhnya Kiai Bagus itu dan siapa sesungguhnya yang memberi nama desa dengan sebutan Kebagusan. 


Jika singgah ke Kebagusan yang letaknya di sebelah timur Praban Lintang, akan menjumpai sebuah masjid yang berdiri megah diapit oleh berbagai bangunan madrasah. Di bagian halaman masjid terdapat bangunan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan di sebelah selatannya ada bangunan  Madrasah Diniyah Awaliah (MDA) dan Madrasah Diniah Wustha (MDW). Sementara di bagian depan masjid, agak menjorok ke utara ada bangunan Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang masih dalam proses pembangunan. Dan di bagian timur bangunan MI terdapat  baangunan Taman Kanak-Kanak (TK). 


Di awal tahun 1983, bangunan MDA sempat dijadikan sarana pendidikan MTs di pagi hari. Karena kegiatan belajar MDA di siang hingga sore hari. Belakangan gedung MTs dibangun di Desa Pucang Luwuk, di atas tanah wakaf keluarga besar Kebagusan. Atas segala pertimbangan, gedung MTs yang mendapatkan hibah bangunan dari Al-Irysad lengkap dengan fasilitas rumah dinas dan masjid, dibangun di Pucang Luwuk karena jalannya telah beraspal dan lokasinya sangat strategis. Pada mulanya nama MTs menggunakan nama Al-Azhar dan selanjutnya  di probonokan pada pemeritahan dan kemudian menjadi MTs Negeri Bojong. Jadi jika Anda melewati Desa Pucang Luwuk dan menjumpai bangunan MTs Negeri maka itu cikal bakalnya dari Kebagusan. 


Pada tahun 60an, peletak dasarnya ada peran Kiai Hasan Bisri santri Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari Tebuireng, Jombang. Kiai Hasan lahir pada 12 Desember 1917 di Dukuh Kebagusan, Desa Danasari, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal dari pasangan Kiai Nawawi dan Nyai Nawawi. Kemudian Kiai Hasan Bisri menikah dengan Hj Zuhroh salah seorang putri dari Lurah saat itu yaitu H Idris. Dari pernikahannya dikaruniai beberapa orang putra dan putri. 


Sewaktu muda Kiai Hasan Bisri menuntut ilmu di Pesantren Kempek, Cirebon. Kiai Hasan cukup terkenal di kalangan para santri saat itu sebagai santri asal Tegal, santri yang paling menonjol dalam bidang ilmu Al-Qur'an, ilmu alat dan ilmu fiqih. Kiai Hasan muda mengaji di bawah asuhan Almaghfurlah KH Harun Abdul Jalil. Konon karena kepandaiannya sampai diminta menjadi menantu oleh kiainya, namun Kiai Hasan menolak karena masih ingin melanjutkan mondok ke tempat lain. 


Sepulang dari Pondok Kempek, Kiai Hasan minta restu kepada orang tuanya untuk melanjutkan mondok ke Tebuireng, Jombang yang diasuh oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asya'ari. Konon cerita dari masyarakat yang pernah mendengar langsung dari Almaghfurlah Kiai Hasan Bisri, perjalanan ke Pesantren Tebuireng dilalui dengan jalan kaki demikian pula pulang dari pondok. Lelaku jalan kaki sebagai bentuk riyadhah mungkin hal biasa pada zamannya, sebagai saran mengasah jiwa untuk tegak lurus dengan niatnya. 


Di Tebuireng inilah Kiai Hasan bertemu dengan KH Bisri Mustofa. Keduanya sama-sama santri yang mengaji kepada Kiai Hasyim Asy'ari yang juga Pendiri NU. Usia keduanya tidak terpaut jauh, hanya selisih dua tahun. Kiai Bisri Mustofa yang lahir pada tahun 1915, sementara Kiai Hasan Bisri lahir tahun 1917. Kiai Bisri Mustofa adalah seorang Kiai asal Rembang yang terkenal produktif dengan karya tulisnya, salah satu karya utamanya adalah Tafsir Al-Ibriz, sebuah kitab tafsir Al-Qur'an yang di tulis dengan Jawa Pegon. 


Pertemuan kedua kalinya antara dua orang sahabat ini terjadi antara tahun 1955-1960 an saat keduanya menunaikan ibadah haji pertama. Perjalanan haji waktu itu melalui jalur kapal laut dan perjalanan ditempuh selama 3 bulan. Namun ketika ibadah haji selesai dan kemudian jamaah yang lain pulang ke tanah air. Karena kecintaannya kepada ilmu, Kiai Hasan memilih mukim di Makkah untuk menimba ilmu kepada seorang Syekh yang sangat terkenal di tanah air, namanya Syekh Alwi Al-Maliki. Pada saat itu Kiai Hasan dipertemukan kembali dengan Kiai Bisri Mustofa yang juga sedang mukim di Makkah untuk menimba ilmu kepada Syekh Alwi Al-Maliki. 


Selepas dari pondok dan menimba Ilmu di tanah suci, Kiai Hasan memilih menetap di kampung Kebagusan lalu mulai membuka pengajian. Santri berdatangan dari berbagai desa sekitar. Materi ajar mulai dari cara membaca Al-Qur'an hingga kitab kuning juga kitab Tafsir Al-Ibriz.


Sejak itulah masyarakat Kebagusan mulai akrab dengan Tafsir Al-Ibriz, bahkan hampir setiap rumah memiliki kitab tersebut. Sampai saat ini kitab tafsir Al-Ibriz yang warnanya sudah menguning, cetakan tahun 1959 masih tersimpan dengan baik. 


Kedekatan persahabatan antara Kiai Hasan Bisri dengan Kiai Bisri Musthofa juga dapat dilihat dari cerita berikut. Suatu hari KH Bisri Mustofa menikahkan anaknya, maka diundanglah Kiai Hasan Bisri yang tinggal jauh di Tegal untuk hadir dalam acara tersebut. Tidak hanya untuk menghadiri namun juga diminta untuk mengisi ceramah atau tausiyah. Namun karena Kiai Hasan Bisri tidak biasa dakwah di panggung, dirinya hanya berkenan hadir dan untuk penceramahnya untuk diganti oleh kiai yang lain.

Selain sebagai peminat ilmu, Kiai Hasan Bisri dikenal ulet membangun perkebunan dan persawahan. Sehingga dikenal sebagai tuan tanah pada zamannya. Jika tidak ada peraturan land reform, yang membatasi kepemilikan tanah, mungkin Desa Pucang Luwuk sebagian besar sawahnya bakal dimiliki Haji Bisri ini. Karena tanah yang dimilikinya tidak hanya di Kebagusan tapi juga di Pucang Luwuk. Dulu di Kebagusan di kenal sebagai sentra cengkih, jagung, jeruk, bambu, singkong, kayu manis dan kelapa. Sumber utamanya karena lahan yang dimiliki Haji Bisri ini sangat luas dan terdapat berbagai jenis tanaman. 


Tiap musim panen apapun, hampir tidak pernah terputus panenan di setiap musim tanam. Bisa dibayangkan di tahun 1970 an untuk ukuran orang desa dan jalan di kampungnya masih berupa jalan tanah, tapi sudah memiliki sedan Fiat. Karena mobil tidak bisa masuk ke desa Kebagusan, mobil itu dititipkan di Desa Tuwel atau Cirebon di rumah anaknya yang pertama, yang berada di Jalan Tuparev. Atas jasanya, bangunan MTs di Pucang Luwuk berada di atas tanah wakafnya. Demikan pula bangunan Masjid di Kebagusan juga berdiri di atas tanah wakafnya. 


Inspirasi Kiai Kampung


Pelajaran berharga yang bisa diambil dari jasa dan perjuangannya adalah dalam cara menjalani hidup. Bagaimanadirinya bisa meramu antara sukses di bidang Ilmu tapi juga sukses di bidang usaha. Juga pelajaran lain yang bersifat sufistik. Betapapun sangat kaya pada zamanya, bisa dibayangkan untuk berangkat haji hanya butuh dua kwintal cengkeh. Sedangkan tiap panenan cengkeh, bisa menghasilkan 1 hingga 2 ton cengkeh. Belum lagi panenan jagung, bambu, kelapa, jeruk dan kayu manis. 


Namun di tengah melimpahnya harta yang didapat, Kiai Hasan berlaku zuhud. Tiap sore selepas ashar membaca kitab kuning dan tafsir Al-Qur'an. Selepas magrib hingga larut malam, mengajar ngaji dan kemungkinan tidur baru jam 24. Sepanjang waktu malam lebih banyak dihabiskan dengan kitab kuning. Makan dengan lauk sekadarnya dan baju sekadarnya. Rupanya kelezatan ilmu lebih disukai ketimbang hartanya. 


Kisah lain yang menginspirasi adalah wawasan dan seleranya di dunia arsitektur. Orang kebanyakan tentu tidak menyadari betapa literasi arsitekturnya menembus batas. Kiai Hasan membangun rumah tidak lazim, tidak mengikuti bentuk dan corak rumah di pedesaan Jawa. Biasanya rumah di pedesaan untuk kalangan kelas menengah berbentuk limasan atau Joglo untuk kalangan tertentu. Tapi dirinya memilih corak arsitektur kolonial, atau mirip aliran Artdeco. Corak  bangunan rumahnya mirip dengan bangunan rumah rumah di Menteng Jakarta Pusat di era tahun 1970an.  


Konon katanya yang membangun rumahnya di Kebagusan dengan menyewa kontraktor yang biasa membangun rumah rumah corak kolonial. Saat itu truk tidak bisa masuk desa. Pasir yang dibeli di Lebaksiu dipikul oleh puluhan tukang pikul. Bisa dibayangkan jauhnya dari Lebaksiu ke Kebagusan, yang harus melewati gunung tanjung, lewat Desa Ciranggem, Mokaha, Cikura baru sampai ke Kebagusan. Jika dari Lebaksiu pagi maka sampai Kebagusan sore hari. Sayang sekali rumah bersejarah itu, sudah berubah bentuk dan perwajahan. 


Itulah sepenggal kisah Kiai Hasan Bisri yang wafat pada 10 Muharam 1415 H/20 Juni 1994 menjadi inspirasi warga Kebagusan dan sekitarnya. Semoga amalnya terus mengalir dan dapat diteruskan oleh generasi sesudahnya. Lahul Fatihah


Pengirim: Sepullah/Muchlisin


Tokoh Terbaru