• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Selasa, 31 Januari 2023

Tokoh

Kiai Dian Nafi Aktivis NU dan Kiprah Sosialnya 

Kiai Dian Nafi Aktivis NU dan Kiprah Sosialnya 
Almaghfurlah KHM Dian Nafi (Foto: istimewa)
Almaghfurlah KHM Dian Nafi (Foto: istimewa)

Nahdlatul Ulama sangat kehilangan dengan berpulangnya KHM Dian Nafi', Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta pada Sabtu (1/10/2022) pukul 18.48 WIB. 


Pria kelahiran Sragen itu mengawali pendidikan pesantrennya di Al-Muayyad Mangkuyudan Surakarta kemudian dilanjutkan ke Pesantren Popongan, Klaten asuhan KH Muhammad Salman Dahlawi yang kemudian menjadi ayah mertuanya setelah memperistri salah satu putria bernama Nyai Hj Murtafiah Mubarokah. 


Kiai Dian wafat dalam usia 58 tahun. Almarhum lahir di Sragen pada 4 April 1964 M. Kota tersebut merupakan tempat ayahnya, KH Ahmad Djisam, mengembangkan Pondok Pesantren An-Najah, tepatnya di Gondang. Kiai Dian Nafi' tidak hanya terjun dalam dunia pesantren. 


Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya, Kiai Haji Ahmad Djisam Abdul Mannan, merintis Pesantren An-Najah, Gondang, Sragen yang kini diasuh kakak iparnya. Sementara kakeknya, Kiai Haji Abdul Mannan, adalah pendiri Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, salah satu Pesantren Al-Qur'an yang terkenal di Solo. 


Sebagaimana dilansir nu.or.id, almarhum aktif dalam menyelesaikan beragam konflik yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Ia terlibat dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara, dan lembaga-lembaga lainnya seperti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjahmada, Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Yogyakarta, Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP) Jakarta, Crisis Centre Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, hingga Common Ground Indonesia. 


Keterlibatannya yang cukup jauh di bidang itu membawanya pernah mengikuti berbagai kegiatan internasional, seperti Disaster Management Training di Africa University Zimbabwe, Education in Religion for Communitiy Consultation di Agia Napa, Siprus (2001), Asia Africa People Forum di Kolombo (2003), Indonesia Pesantren Program di Amherst, Massachusetts, USA (2003), dan Summer Peace Building Institute di Harrisonburg, Virginia, USA (2005).


KH Dian Nafi’ juga sering menulis di kolom berbagai surat kabar. Temanya begitu menyejukkan, tentang Islam rahmatan lil alamin, tentang keadilan. Para pembaca menjadi ikut tercerahkan dan membuat orang menjadi tertarik akan konsep Islam yang damai.


Kontributor NU Online Jateng Ajie Najmuddin suatu ketika berkunjung ke rumahnya di Pesantren Al-Muayyad Windan Makamhaji Kartasura Sukoharjo. Saat ditemui, Pak Dian begitu dia biasa dipanggil baru selesai mengatur kursi yang akan digunakan untuk acara akhirussanah RA Al-Muayyad Windan, esoknya. 


Ditemani suguhan lotis dan segelas teh hangat, mereka memulai pembicaraan. Tulisan anda di media massa, banyak yang bertemakan gagasan Islam yang damai. Dirinya hanya ingin menggambarkan sedikit tentang nilai-nilai yang saya dapatkan di pesantren. Tentang nilai kebenaran, keluhuran, persaudaraan dan sebagainya. Semuanya saya dapatkan dari para guru saya di pesantren. Mengenai nilai-nilai di pesantren, bisa sedikit anda jabarkan? Tentang kebenaran. Kebenaran ini bisa diartikan, yakni kesesuaian dengan 6 hal ini; norma, hukum, ilmu, fakta, realita, dan perikatan. 


Sebagai orang indonesia, kita semestinya juga menyesuaikan diri dengan menerima Pancasila dan UUD, karena itu merupakan sebuah perjanjian atau ikatan dari para pendiri bangsa. Almarhum Kiai Umar Abdul Mannan Pengasuh Pesantren Al-Muayyad Solo, wafat tahun 1980 adalah sosok yang menginspirasi. Pernah suatu ketika Kiai Umar mendapat kiriman surat bertinta hitam. Diperlihatkannya surat tersebut kepada saya (Kiai Dian, red)  isinya begitu keras dan kasar bahasanya. Kiai Umar bertanya, “Saya harus bagaimana?”. Akhirnya Kiai Umar justru sowan ke sang pengirim surat. Meminta klarifikasi atas surat tersebut. dan tidak ada lagi konflik setelahnya. 


Selain aktif di dunia organisasi, Kiai Dian juga mengelola radio tujuannya adalah untuk meraih prestasi vertikal (dapat juga dimaknai mendekat ke Tuhan), kita harus bertindak baik pula ke horizontal (sesama makhluk). Kedua, bertindaklah inklusif jangan eksklusif. Radio ini bisa berkembang dengan bagus, karena kita merangkul semua. Bahkan pendengar kita mayoritas anak muda. Tapi di sisi lain, kita sisipi dengan siraman rohani. Ketiga, apabila terjadi konflik senior-yunior, maka senior mesti melakukan afirmasi kepada yunior. Juga dalam setiap hal, mesti ada sinergitas dan kolaborasi antara keduanya. (bersambung)
 


Tokoh Terbaru