• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 14 Agustus 2022

Tokoh

KH Zainal Abidin bin Ilyas Rais Pertama PCNU Kota Pekalongan

KH Zainal Abidin bin Ilyas Rais Pertama PCNU Kota Pekalongan
Almaghfurlah KH Zein Ilyas (Foto: Istimewa)
Almaghfurlah KH Zein Ilyas (Foto: Istimewa)

Tokoh yang sering dipanggil dengan Mbah Kiai Zein Ilyas ini nama lengkapnya adalah KH Zainal Abidin Ilyas. Beliau adalah putra pertama KH Ilyas dari enam bersaudara. Secara berurutan putra-putri KH Ilyas adalah (1) KH Zainal Abidin; (2) KH Masdjak Kraton; (3) Kiai Abbas Kraton; (4) Hj Siti Chotijah; (5) Hj Inayah; (6) Umi Kulsum. KH Zein Ilyas mendapat anugerah istri yang taat pada suami, nerimo, sendiko dawuh, dan rendah hati. Namanya Hj Qomaratun. Dari pernikahan ini KH Zen Ilyas dikaruniai putra tunggal bernama H Abdul Aziz Zen yang kemudian menikah dengan Hj Nafisah binti H Ibrohim.


Semasa hidupnya KH Zein Ilyas sangat perhatian terhadap cucu-cucunya. Beliau sering memberikan nasihat, bahkan mengajari ngaji Al-Qur’an dan juga kitab kepada cucu-cucunya dengan penuh ketelatenan. Cucu beliau berjumlah sembilan. Lima laki-laki dan empat perempuan. Nama-nama cucu beliau adalah (1) Ahmad Sanusi; (2) Zamlakani; (3) Machfiyah; (4) Hj Fauziyyah yang diperistri oleh KH Abdul Fattah  Yasran; (5) A Qusyairi; (6) Abdul Mujib; (7) Abdul Hakam; (8) Mirwahati; dan (9) Hanik Rosyidah.


Wirausahawan yang Jujur dan Ulet


Karir wirausaha Kiai Zein dimulai dari bawah. Sewaktu muda KH Zein Ilyas adalah seorang buruh, kemudian menjadi pedagang mori dan akhirnya wiraswastawan yang termasuk sukses. Dalam mengarungi perjalanan hidup ini, beliau lewati dengan penuh keuletan, ketekunan dan tahan banting.


Diceritakan bahwa semasa masih menjadi buruh beliau selalu patuh melaksanakan apa yang diperintahkan oleh majikannya. Karena sifatnya yang jujur dan rendah hati, beliau pun kerap kali dipercaya untuk menjualkan barang-barang dagangan seperti mori, bahan baku batik, juga kain batik. Dinamika kehidupan pun lambat laun berubah. Yang asalnya buruh, Kiai Zein Ilyas kemudian menjadi pedagang mori dan kain batik. Pada saat bersamaan beliau juga mulai mbabar batik (jasa membuatkan batik untuk pengusaha). Dan akhirnya beliau tercatat sebagai usahawan batik yang lumayan sukses. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia usaha dan dagang yang banyak tantangan dan godaan, beliau sangat kuat berpegang pada prinsip dan nilai-nilai luhur amanah dan kejujuran. Semasa hidupnya seringkali beliau bercerita dan menasihati cucu-cucunya di waktu senggang dan santai.
 

“Yen adol batik, batike ono cacate ojo mak tutup-tutupi. Tuduhno bae nek pancen warnane ngeplek, opo suwek neng pinggir. Ojo wedi ora payu. Sebab sing mestekke payu otowo ora payu kuwi Gusti Allah.” (Kalau menjual batik, jika batiknya ada cacatnya jangan kamu tutup-tutupi. Tunjukkan saja jika memang ada warnanya yang flek, ataupun ada sobek di pinggirnya. Jangan pernah takut tidak laku. Sebab yang menentukan laku atau tidak laku adalah Allah SWT)


Di saat lain beliau juga menyampaikan, “Ngertio kowe kabeh berkahe Mbah Ko gawe batik kuwi biso tuku omah sak glondong, biso lungo kaji, mondokke Bapakmu dan kanggo mangan gal dino,” (Kamu semua harus tahu, berkah Mbah Ko membuat batik itu bisa membeli satu bangunan rumah, bisa pergi haji. Memondokkan Bapakmu -H. Abdul Aziz Zen- ke Pesantren dan untuk makan sehari-hari).


Khidmah Dakwah dan Mengajar


Meski sibuk di dunia usaha, namun beliau juga aktif dalam perkhidmatan dakwah kepada umat dan masyarakat. Sebagai Kiai beliau sering mendatangi acara-acara warga walimatul ursy, walimatul khitan, acara tahlilan dan lain-lain. Tidak jarang beliau dimohon untuk mengakad-nikahkan sebagai wakil wali nikah, dan juga sering diminta untuk memimpin doa. Dapat dikatakan hidup beliau banyak diisi dengan aktivitas mengajar ngaji dan khidmah di Jamiyah Nahdlatul Ulama. Mushala Baitul Islah Sampangan Gang 8 merupakan tempat beliau mengajar kepada masyarakat. Mushala ini dibangun di atas tanah yang diwakafkan oleh beliau dan di tengah masyarakat, mushala ini kemudian terkenal dengan nama Mushala 'Baitul Islah-KH Zen Ilyas'. Selain mushala, beliau juga menjadikan rumah beliau di Sampangan sebagai tempat untuk mengajar ngaji. Pada suatu waktu dulu rumah itu juga pernah digunakan untuk kegiatan belajar mengajar Madrasah.


Jadwal mengajar ngaji beliau sangat padat. Pada sore hari, KH Zein Ilyas mengajar ngaji Al-Qur’an dan kitab kuning di rumahnya untuk anak-anak tetangga dan cucu- cucunya dengan telaten dan penuh kesabaran. Setiap malam Jumat, beliau mengisi pengajian di mushala yang diikuti oleh warga sekitar dan dilanjutkan dengan shalat tasbih berjamaah. Di sela-sela hari yang ada KH Zein Ilyas juga sering diminta untuk mengajar ‘manasik haji’ oleh para calon haji yang hendak menunaikan rukun Islam yang kelima.


Pengabdian di NU


Waktu malam beliau banyak dihabiskan untuk kegiatan Jamiyyah NU. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan keagamaan yang diajukan warga, Kiai Zein menelaah kitab-kitab kuning untuk mencari ibarah yang dapat digunakan sandaran untuk menjawab permasalahan tersebut. Jawaban tersebut kemudian dimusyawarahkan dalam kegiatan bahtsul masail yang rutin dilakukan. Kiai Zein juga sangat aktif menghadiri dan memberikan nasihat serta arahan dalam kegiatan Lailatul-Ijtima NU yang dilaksanakan di mushala-mushala di Kota Pekalongan secara bergiliran. Keaktifan beliau di NU tidak diragukan lagi. Tercatat beliau pernah menjabat sebagai Rais Pengurus Cabang NU Pekalongan antara tahun 1940-1960 sebelum periode KH Nahrawi Khasan Landungsari (wafat 1996).
 

Perjuangan Membela NKRI


Selain mengambil peran di bidang pendidikan dan pengabdian di masyarakat, Kiai Zein Ilyas juga terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Perjuangan ini beliau lakukan melalui wadah keorganisasian NU dengan menggerakkan anggota kepemudaannya terutama Ansor dan Banser. Barisan Ansor Serbaguna telah didirikan sejak tahun  1937 sebelum Indonesia merdeka.  Pada masa Kiai Zein Ilyas, Banser di  Kota Pekalongan mempunyai peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan  Indonesia. Atas arahan Kiai Zein, kebun di belakang rumah beliau yang penuh dengan pohon pisang sering menjadi tempat latihan Banser pada malam hari. Pada saat-saat tertentu digunakan untuk latihan bela diri dan ilmu kanuragan yang sesekali mendatangkan guru dari Cirebon atau Banten. Salah satu yang pernah diundang adalah Gus Nawawi.


Belum genap tiga bulan paska proklamasi kemerdekaan, terjadi peristiwa besar di Pekalongan, tepatnya anggal 3 Oktober 1945. Kiai Zein aktif menggerakkan masyarakat untuk berjuang mempertahankan Pekalongan dari upaya penguasaan Jepang. Pada peristiwa itu kiai-kiai dan santri di Pekalongan bersatu dengan tentara untuk  merebut kembali Pekalongan yang dikuasai Jepang yang bermarkas di Gedung Kempetai (sekarang menjadi Masjid Syuhada). Dari arah selatan para santri dan pemuda berkumpul di bawah komando KH Syafi’i dengan bersenjata bambu runcing. Doa dan takbir dipekikkan menggetarkan jiwa mengiringi penyerbuan ke arah utara menuju markas tentara Jepang. Sementara dari arah barat, utara dan timur para santri, pemuda dan Banser digerakkan oleh para kiai seperti Kiai Siradj dan termasuk Kiai Zein  Ilyas bersama-sama tentara menekan tentara Jepang agar menerima perundingan diplomasi yang sedang berlangsung. Perundingan berjalan sangat alot dan pihak Jepang bersikukuh tidak mau mengosongkan markasnya dan juga tidak mau meninggalkan Pekalongan. Akhirnya gedung Kempetai diserang oleh para pejuang.  


Pertempuran sengit terjadi, meskipun pejuang dari warga Pekalongan hanya bersenjatakan ala kadarnya namun atas izin Allah, doa para kiai, dan semangat juang yang membara, tentara Jepang yang bersenjatakan bedil dan senapan akhirnya angkat kaki dari Pekalongan. Banyak santri, pemuda, dan tentara pejuang yang gugur pada pertempuran tersebut. Untuk mengenang perjuangan ini dibangun Monumen Perjuangan 3 Oktober 1945 dan juga Masjid Syuhada.


Pada masa keributan Partai Komunis Indonsia (PKI) tahun 1965, Kiai Zein juga berperan aktif. Depan rumah Kiai Zein Ilyas yang menghadap ke jalan raya (Jalan Hayam Wuruk)  dijadikan posko keamanan untuk menjaga situasi dan kondisi dari keributan. Kisah heroik ini menunjukkan bahwa perjuangan Kiai Zein adalah perjuangan yang total baik waktu, ilmu, harta, dan juga jiwa demi untuk kemaslahatan umat dan bangsa.


Kisah Keteladanan beliau mempunyai hubungan yang baik dengan saudara-saudaranya. Adik beliau yang bernama KH Masdjak sering bersilaturahim dan berbincang dengan beliau. Sering Kiai Masdjak meminta penjelasan masalah-masalah keagamaan kepada Kiai Zein, dan uniknya Kiai Masdjak menggunakan bahasa yang halus (kromo inggil) ketika berbicara dengan kakaknya, dan ketika salaman pun Kiai Masdjak mencium tangan kakaknya. 


Hubungan silaturahim yang indah dan juga sekaligus bentuk penghormatan Kiai Masdjak terhadap ilmu dan kealiman kakaknya. Setiap hari raya Idul Fithri, KH Zein Ilyas menampung dan menerima zakat fitrah dari beberapa orang. Namun zakat itu tidak digunakan untuk dirinya. Pada pagi hari sebelum pelaksanaan shalat Id KH Zein membagikan kembali semua beras zakat fitrah tersebut kepada orang- orang yang memang sangat membutuhkan.


Kisah yang masih diingat oleh para cucu adalah setiap shalat Jumat di Masjid  Al-Jami Kauman KH Zein Ilyas selalu berangkat lebih awal yaitu pukul 11.00 untuk menempati shaf paling depan sebelah utara mimbar khutbah dan selalu bersebelahan dengan Mbah KH Ghozali Kraton.


Dalam  usia  yang  sudah  udzur, setiap  bada Mghrib Kiai Zein Ilyas tidak pernah melewatkan membaca surat Yasin. Jika malam Jumat ditambah dengan surat al-Mulk secara hafalan. Sementara itu di pagi hari beliau bangun pada sekitar pukul 03.00 untuk melakukan shalat tahajjud. Setelah selesai shalat Subuh beliau membaca secara hafalan surat al-Waqiah dan surat al-Hasyr.


Berpulang ke Rahmatullah


Kiai Zein Ilyas wafat pada bulan  Dzulqa’dah 1435 H/September 2014 dan dimakamkan di pemakaman Sapuro tepatnya di sebelah utara bangunan Masjid Auliya Sapuro. Sewaktu pemakaman KH Najmuddin Ata Imam Masjid al-Jami Kauman Pekalongan dan Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya menyempatkan diri untuk  menyambangi dan menziarahi makam  Kiai Zein Ilyas yang letaknya cukup berdekatan. Ketika Habib Luthfi melihat kondisi makam Kiai Zein yang tampak sudah rusak, beliau  menyampaikan pesan kepada keluarga melalui H Bahrul Ulum kiranya makam KH Zein Ilyas dapat diperbaiki. Atas nasihat Habib Luthfi tersebut kemudian keluarga (cucu dan buyut) Kiai Zein bersepakat memperbaiki makam tersebut. Pada waktu itu Habib Luthfi juga menyampaikan bahwa sewaktu muda beliau mengenal Kiai Zein Ilyas. Beliau kerap bertabarruk kepada Kiai Zein ketika hendak berangkat mondok. Menurut Habib Luthfi, KH Zein Ilyas adalah sosok Kiai yang alim dan sangat ikhlas dalam perjuangan, menuntun umat dengan penuh kesabaran dan ketawadhuan. Lahul Fatihah



Sumber: Jejak Dakwah Ulama Nusantara, Menelusuri Perjuangan, Keteladanan dan Hikmah Ulama Pekalongan diterbitkan PCNU Kota Pekalongan Tahun 2020


Tokoh Terbaru