• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 12 April 2024

Sosok

Kiai Sartoni yang Tak Lelah Mengabdi untuk Negeri

Kiai Sartoni yang Tak Lelah Mengabdi untuk Negeri
Keluarga besar Kiai Sartoni (Foto: Dok)
Keluarga besar Kiai Sartoni (Foto: Dok)

Raut bahagia tampak jelas di wajah Kiai Sartoni Wakil Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Wonosegoro, Kabupaten Boyolali saat menceritakan putra keduanya Zulfa yang baru saja lulus S2 di Universitas Padjajaran, Sumedang (15/05/2023). Dengan berpegang teguh pada sebuah prinsip ‘syubbanul yaum rijalul ghod’ dirinya berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga perguruan tinggi. Sebelum Zulfa, putra sulungnya Arif Wibowo sudah lulus S2 di IAIN Salatiga pada tahun 2019 dan putri bungsunya Dewi Azizatul sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Semarang (Unnes).


“Saya memiliki prinsip bahwa masa mendatang adalah diri kita sendiri yang menentukan sebagaimana sabda Rasul Syubbanul yaum rijalul ghod. Dengan prinsip tersebut alhamdulillah Allah SWT mengabulkan doa saya hingga bisa menyelesaikan kuliah. Prinsip tersebut kemudian saya tanamkan juga kepada anak-anak saya. Alhamdulillah dua anak kami bisa lulus S2,” cerita Kiai Sartoni, tokoh masyarakat di Dusun Krangkeng, Desa Karangjati, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali. 


Perjuangan Semasa Kuliah


Sosok kharismatik berusia 61 tahun itu bercerita, setelah lulus dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Wonosegoro pada tahun 1976 ia sempat nyantri di Jawa Timur. Namun karena tidak kerasan, sebulan kemudian pindah ke Pesantren An-Nibros, Reksosari, Suruh, Semarang. Saat itu ia hanya fokus mondok dan sekolah di madrasah diniyah. Baru setahun kemudian berdirilah MAN Suruh yang sekarang sudah menjadi MAN 1 Semarang. Selama 3 tahun selanjutnya ia mengenyam Pendidikan di MAN tersebut.


Setelah lulus dari MAN Suruh, Sartoni muda melanjutkan pendidikannya di IAIN Walisongo Salatiga yang saat ini sudah menjadi UIN Salatiga. Ia mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), yakni satu-satunya jurusan yang ada pada saat itu. Agar lebih dekat dengan kampus, ia menetap di Pesantren An-Nida yang berjarak 2 KM dari kampus. Ia harus berjalan kaki pulang-pergi ke kampus karena belum banyaknya kendaraan saat itu. 


Kiai Sartoni mengaku bahwa ia dari keluarga tidak mampu. Oleh karena itu ia harus bekerja sambilan dengan mengajar TPQ untuk menambah biaya kuliah. Tak hanya dirinya, teman-temannya juga bekerja sambilan seperti berjualan koran. Dengan berprinsip bahwa masa depannya adalah dirinya sendiri yang menentukan, maka ia harus bekerja keras hingga berhasil lulus S1 pada tahun 1990. Keberhasilannya pantas dibanggakan karena kawan-kawannya banyak yang tidak bisa menyelesaikan kuliahnya. Diceritakan, peraturan yang ada pada saat itu jenjang S1 hanya ditempuh selama 4 semester dan jika ada mahasiswa dengan IP di bawah 2 dari 40 SKS maka akan dikeluarkan. 


Ia menyampaikan, kuliahnya dulu berbeda dengan sekarang. Mahasiswa yang sudah menyelesaikan perkuliahannya harus menunggu beberapa tahun lagi untuk diwisuda. “Saat itu IAIN Salatiga masih menjadi bagian dari IAIN Walisongo Semarang. Maka wisudanya masih satu di Semarang bersama IAIN Walisongo yang ada di Semarang, Salatiga, Kudus, Pekalongan, dan yang lainnya,” ujarnya mengenang masa-masa indah puluhan tahun silam. 


Mengabdi untuk Negeri


Menurut penjelasannya, semua lulusan S1 saat itu bisa mengajar di mana saja dari tingkatan dasar, menengah sampai perguruan tinggi. Namun, pengabdiannya untuk negeri sudah diawali sejak ia belum lulus kuliah, yaitu sejak berdirinya SMA Sudirman di Wonosegoro sekitar tahun 1988. Karena belum banyaknya sarjana pada saat itu, ia diminta untuk ikut mengajar di SMA tersebut. Pada tahun 1990 ia mulai mengabdi di SMP Negeri Wonosegoro hingga belasan tahun lamanya. Pada tahun 1994 ia sempat ikut tes CPNS namun tidak lulus. Meski begitu ia tetap semangat dalam berjuang dan mengabdi untuk negeri sambil mengelola usaha fashion. 


Perjuangannya belum berhenti sampai di situ. Pada tahun 2002 ada kekosongan pamong di dusun Krangkeng. Dengan adanya kesempatan tersebut ia ikut kompetisi pamong dan terpilih menjadi Kepala Dusun (Kadus) Krangkeng. Dalam memegang kepimpinan dirinya sangat tegas, arif, ramah, dan bijaksana. Warga masyarakat di Krangkeng sangat menyegani dan menghormatinya. Tak hanya di Krangkeng, namanya juga harum di Wonosegoro. 


Meski sudah menjadi pamong ia juga masih tetap aktif dalam mengabdi di SMP. Bahkan Camat Wonosegoro Karsino saat itu mendukung penuh kepada Kiai Sartoni. “Saya sangat bangga kepada pamong-pamong seperti kalian. Sudah, lanjut mengajar saja tidak apa-apa,” ucap Karsino saat itu.


Lebih lanjut disampaikan, dalam kurun waktu yang panjang akhirnya pada tahun 2014 ia lulus CPNS dan pensiun pada tahun 2022 kemudian. “Tahun 1990 saya mulai mengabdi, pada tahun 2014 saya lolos CPNS. Jadi saya itu menjadi PNS setelah mengabdi menjadi guru selama 24 tahun,” ceritanya dengan santai dan ramah. 


Mengabdi untuk NU


Selain sibuk mengabdi untuk negeri, Kiai Sartoni juga sangat aktif dalam kegiatan NU. Sebenarnya saat menjadi mahasiswa dulu sudah aktif di PMII. Namun karena NU di Wonosegoro baru berkembang pada sepuluh tahun terakhir ini, khidmahnya di NU langsung di tingkatan Majelis Wakil Cabang (MWC). 


Saat ini ia sedang menjabat sebagai Wakil Ketua MWCNU Wonosegoro dan Wakil Ketua Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Wonosegoro. Dalam beberapa kesempatan Kiai Sartoni sering kali menyampaikan taushiyah atau sekadar sambutan mewakili MWC pada kegiatan ke-NUan baik di Ansor, Fatayat, Muslimat, dan banom-banom lainnya. Tak hanya Kiai Sartoni, istrinya juga turut memperjuangkan NU dengan aktif mengikuti kegiatan Muslimat. Kedua putranya juga aktif di Ansor dan putrinya di Fatayat. Sedangkan kegiatan sehari-harinya sekarang adalah mengelola sawah dan mengajar ngaji anak-anak di dusun Krangkeng.


Pengirim: Sulistyawan


Sosok Terbaru