• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

HARLAH KE-62 PMII

Senjakala Literasi Kader PMII

Senjakala Literasi Kader PMII
Ilustrasi Harlah ke 62 PMII (Sumber: PB PMII)
Ilustrasi Harlah ke 62 PMII (Sumber: PB PMII)

Pada 17 April 2022 kemarin, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) baru saja memperingati hari lahir (harlah) yang ke-62 dengan mengangkat tema 'Transformasi Gerakan Merawat Peradaban'. Bagi kader PMII seantero jagat ini, tema tersebut dapat dimaknai sebagai aktualisasi dan kontekstualisasi arah gerak PMII untuk mentransformasikan nilai-nilai dan gerakan-gerakan PMII di era kiwari, sebagai sebuah upaya dalam merawat dan meruwat peradaban.

Ini tentu sejalan dengan tema Harlah ke-96 NU 'Menyongsong 100 Tahun NU: Merawat Jagat, Membangun Peradaban'. Yang mana, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyatakan bahwa pemilihan tema tersebut dilatarbelakangi oleh dua hal, yaitu merawat dimensi bumi sebagai tempat kita hidup dan dimensi tatanan kehidupan di atas bumi yang kita tempati bersama-sama dengan seluruh umat manusia umumnya.

Dari kedua konstruksi pemikiran di atas, kita paham bahwa NU dan PMII mempunyai agenda yang sama, yang tentunya sama-sama berat, di mana menjaga peradaban ini merupakan tugas kita bersama sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Terlebih lagi, soal gelombang digitalisasi yang selalu digaungkan guna merespons kemajuan zaman. Digitalisasi peradaban merupakan ihwal yang harus kita hadapi bersama dengan ketangkasan spiritual dan intelektual. Nah, soal intelektual ini lah yang melekat di dalam diri para kader PMII.

Salah satu jalan yang harus ditempuh PMII dalam menjaga peradaban ini adalah dengan literasi. Apalagi, ada agenda literasi digital. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa PMII harus berkontribusi dalam literasi digital sebagai wujud merawat peradaban Indonesia. Namun dibalik itu, ada yang bertanya, termasuk saya sendiri:

“Iya, dari tahun ke tahun, Mapaba ke Mapaba, telah lahir tunas-tunas baru yang siap disemai untuk menyuburkan pergerakan dan meneruskan perjuangan PMII. Dan, perihal itu akan menambah database anggota baru PMII. Tapi, apakah kuantitas itu kemudian berjalan beriringan dengan kualitas anggota dan kader PMII, khususnya dalam ihwal literasi dan intelektual?

Pertanyaan di atas memang patut kita renungkan dan mencari solusinya. Menurut saya, nestapa literasi di tubuh PMII tidak bisa terlepas dari proses kaderisasi yang hanya menuntut anggota dan kader untuk mengisi podium-podium di dalam kampus ataupun tujuan seseorang untuk bergabung di PMII. Namun, di pihak lain perihal itu juga penting untuk menyemai nilai-nilai Aswaja agar terciptanya kampus yang berIslam secara ramah bukan marah-marah. Lalu harus bagaimana?

Dua Tipe Kader

Pembagian pos-pos untuk anggota dan kader PMII mesti dilakukan agar terbentuknya watak dan tipikal anggota dan kader sesuai dengan visi dan misi organisasi. Dalam hemat saya, dalam hal ini haruslah dibentuk dua tipikal. Tipikal yang pertama yakni kader 'tukang pukul' yang andal dalam gerakan-gerakan praktis di ranah internal kampus maupun gerakan aksi massa.

Kader kedua yakni pemikir. Kader yang mempunyai literasi kuat, lihai dalam penulisan dan publikasi, suka menghadiri diskusi-diskusi filsafat, budaya, dan ilmu non-praktis lainnya yang membahas buku maupun pemikiran tokoh gerakan. Kedua tipikal ini haruslah seimbang agar setiap dalam kegiatan maupun gerakan tidak berat sebelah dan fokus kepada kaderisasi.

Namun, kiranya lebih banyak kader PMII yang bertipikal 'tukang pukul' ketimbang tipikal pemikir. Contoh sederhana yang kita dapat jumpai, yaitu apabila ada acara yang mengenai diskusi yang membahas tentang pemikiran tokoh maupun tadarus buku, acara itu sepi peminat dan pesertanya dapat dihitung dengan jari.

Bagaikan langit dan bumi, berbeda halnya jika ada acara konsolidasi yang membahas tentang rencana aksi atau turun ke jalan. Yang mana, hal itu menjadi acara favorit anggota dan kader PMII seantero jagad ini.

Jalan Pena

Begitulah, saya berharap melalui tulisan singkat ini, segenap anggota dan kader beserta segenap pengurus PMII di setiap tingkatannya menjaga peradaban intelektual dengan merawat literasi kita. Memang, literasi dan kepenulisan adalah 'prosesnya proses' dan mengajarkan kepada kita bahwa di semesta raya ini tiada hal yang instan, termasuk mi instan sekalipun yang harus mempersiapkan api untuk memasaknya.

Kita harus yakin, setiap kalimat, paragraf, halaman, dan halaman di telapak kita yang mungkin menyiksa diri dan pikiran, bahkan menyita waktu rebahan kita, akan kita unduh hasilnya di kemudian hari. Kita bisa termotivasi oleh para intelektual-intelektual Islam di zaman dulu, sebut saja: Imam Al-Ghazali, Ibnu Rushd, Imam Suyuti, yang konon mengarang hampir enam ratus kitab sepanjang hidupnya.

Juga, tidak lupa Ketua Umum pertama Pengurus Besar PMII yang pertama, seorang tokoh yang dikenal sebagai kolumnis jago dengan kalimat-kalimatnya yang bernas. Nah, semangat intelektual para tokoh-tokoh yang saya sebutkan tadi dapat kita teladani, jaga dan diskusikan selalu sebagai sebuah upaya melestarikan tradisi literasi dan kepenulisan di PMII

Dengan semangat Harlah ke-62 PMII ini, mari kita tanamkan semangat para pendiri PMII di setiap lubuk hati dan pikiran setiap insan pergerakan yang termanifestasi dalam kegiatan dan gerakan untuk menjadi penggerak peradaban intelektual bagi bangsa Indonesia sebagai usaha dan kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan menggelorakan pentingnya literasi sebagai bekal dalam menyongsong masa depan bangsa Indonesia.

Insan PMII memang menjadi seorang intelektual-religius yang wajib bertanggungjawab atas pengamalan ilmunya dan berkomitmen meneruskan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Wallahu a'lam bis shawab

Fahrul Anam, Pengurus PMII Komisariat Raden Mas Said-Cabang Sukoharjo


Opini Terbaru