• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Opini

Ketika Nahdlatut Tujjar Menjelma Jadi Lembaga Perekonomian NU

Ketika Nahdlatut Tujjar Menjelma Jadi Lembaga Perekonomian NU
Foto: Ilustrasi
Foto: Ilustrasi

Ketika Rasulullah di tanya "pekerjaan apa yang paling baik? Dawuhnya : pekerjaan dengan hasil tangannya sendiri, dan setiap jual beli (bisnis) baik/benar." Kutipan hadits ini mendorong selalu berusaha untuk membangkitkan ekonomi kesejahteraan umat dengan secara sungguh-sungguh menumbuhkan lapangan pekerjaan dari bentuk usaha untuk memenuhi kebutuhan. 


Pentingnya peningkatan kesejahteraan ummat sebagai wujud perjuangan ekonomi untuk menjauhkan sifat madhmumah terhadap warga NU, seperti didawuhkan Rasulullah 'kadal faqru anyakunal kufra'. Tengara hadits ini memberi gambaran bahwa kekurangan yang tidak di menej akan mendekatkan pada sifat kekufuran, minimalnya yang terjadi pada kekurangan (kemiskinan) tersebut akan mendorong seseorang sifat tama', kalau dalam tataran jam'iyah tidak akan adanya kemandirian organisasi. 


Sikap skeptis yang memandang pentingnya peningkatan, pergerakan atau membangkitan perekonomian terhadap warga karena kurang memahami persaingan masyarakat global sehingga melihat dunia sebagai ladang untuk kesejahteraan akhirat dengan hanya sebelah mata. Warga NU dengan berbagai macam potensi usaha yang berbagai macam bentuk umumnya bergerak di bidang UMKM sangat diperlukan penanganan dengan secara ekstra khusus dalam bentuk advokasi, pendampingan, penghimpunan, dan pembinaan sehingga mampu mengimbangi persaingan global.


Pergerakan Ekonomi


NU yang berdiri dengan penuh semangat para kiai langit membangkitkan semangat menyongsong zaman embrio berdirinya NU berasal dari tiga organisasi. Masing-masing bergerak dalam bidang yang berbeda, Nahdlatut Tujjar pada tahun 1918 yang bergerak dalam bidang ekonomi, Taswirul Afkar yang bergerak dalam bidang keilmuan dan budaya pada tahun 1922, dan Nahdlatul Wathan yang bergerak dalam bidang politik melalui bidang pendidikan pada tahun 1924. Tiga hal ini merupakan pilar NU yang meliputi wawasan ekonomi kerakyatan, wawasan keilmuan, sosial budaya, dan wawasan kebangsaan. NU menjawab tantangan zaman berdiri tegak sebagai wadah para ulama pada eranya yang akan memberi kemanfaatan, mensejahterakan pada warga dan membatengi NKRI.


Mewadahi Pengusaha


Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) yang berdiri untuk menjembatani para ekonomi warga bukan hanya lembaga papan nama atau Event Organizer (EO) dari program pemerintah terhadap rakyatnya, tetapi harus mampu menggerakkan dan membangkitkan ekonomi  warganya. Semangat itu harus dibangun dan secara kontinyu selalu diingatkan agar pengurus yang diamanati untuk mengemban Lembaga tidak bermental rekanan atau makelar belaka, tetapi mampu menghimpun menggerakkan dan mensuport ekonomi itu ruang kerja nyata LPNU. 


PWNU Jawa Tengah lewat LPNU siap menata dan melakukan terobosan itu dengan berbagai macam risiko adalah kewajiban yang harus dipikulnya, maka bergerak pelan sedikit demi sedikit LPNU akan mewujudkan itu semua lewat bimbingan para masyayih.


Terobosan yang sangat di butuhkan LPNU bukan menjadi pesaing usaha warga Nahdliyin, tetapi mewadahi para UMKM sebagai bentuk khidmah terhadap pergerakan ekonomi untuk meningkatkan daya saing, maka munculah gagasan wadah tersebut yaitu Koperasi Tajaga (Tali Jagat) yang menjadi wadah, menampung, memasarkan, dan membina juga melakukan pendampingan. 


Sebagai upaya peningkatan kinerja secara profesional dan untuk  mewujudkan kemandirian PWNU maka pembentukan usaha yang bergerak di semua sektor baik konstruksi, peternakan dan pertanian, PWNU mendorong berdirinya PT Jagat Kasih Kamulyan (JKK). Ini membuktikan kesungguhan bahwa PWNU Jateng akan dapat bergerak tanpa membutuhkan uluran tangan seperti kebiasaan. Pergerakan ini didorong oleh PBNU untuk membuat BUM-NU dan Jawa Tengah telah memulainya.


Penutup


Perjuangan tidak ada kata terlambat, tetapi kemauan maju adalah wujud bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah untuk selalu maju bergerak secara dinamis. Kebangkitan ekonomi untuk meningkatkan harga dan martabat jam'iyah sebagai implentasi dari menyongsong satu abad berdirinya NU untuk sebuah kemandirian. 


Sebagai usaha merawat jagat agar warga NU bukan hanya obyek dari para pelaku bisnis tetapi sebagai subyek yang akan mewarnai kemajuan dan kemandirian ekonomi atas bimbingan para kiai dengan berlandaskan Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdhiyah. 


Warga NU yang menjadi mayoritas rakyat Indonesia dengan anggota yang berada di pinggiran hanya sebagai obyek dari para penguasa dan pelaku bisnis, bukan menjadi pelaku yang mampu melindungi diri sendiri dan yang lainnya. 


Mulai Tahun ini PWNU Jawa Tengah lewat LPNU dan Holding Companynya harus mampu mewujudkan cita-cita para muasis dan masyayih, hal ini tetunya harus didukung dan di bimbing terus menerus oleh para masyayih sehingga betul-betul berjalan terus sampai pada akhirnya NU bukan hanya mampu membentengi dalam ruhaniyah semata tetapi membentengi ekonomi ummat dalam persaingan global. 


H Munib Abd Muchith, Katib Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng 


Opini Terbaru