• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Rabu, 18 Mei 2022

Opini

Tradisi Luhur Syawalan di Kaliwungu Kendal yang Sangat Memprihatinkan

Tradisi Luhur Syawalan di Kaliwungu Kendal yang Sangat Memprihatinkan
Makam Kiai Asyari di Kaliwungu Kendal (Foto: liputan6.com)
Makam Kiai Asyari di Kaliwungu Kendal (Foto: liputan6.com)

Sehari setelah shalat Idul fitri ta'mir Masjid desa penulis, datang sambil membawa surat edaran dari Ta'mir Masjid Besar Al-Mutaqin Kaliwungu sebagai pemberitahuan atas akan diselenggarakannya sema'an Al-Qur'an sebagai bentuk menyemarakkan jalannya tradisi syawalan di Kaliwungu Kendal. 


Penulis sekadar mengiyakan atas permohonan tersebut sebagai orang yang dituakan di Masjid desa pinggiran Kota Kaliwungu. Tetapi dalam benak membatin sampai pikiranpun melayang membayangkan 40 tahun yang lalu, maraknya tradisi syawalan dengan berbondong bondong dari pagi sampai malam hari selama 3 sampai 4 hari berturut turut datang berduyun duyun pada makam para ulama untuk berziarah. 


Kerlap kerlip sinar terang dari kejauhan terlihat berjajar menyusuri jalan seolah bintang tiban, berjalan berurutan, itu semua datang dari pelosok pelosok desa Kecamatan Kaliwungu, Brangsong, Kendal, orang datang dengan kelompok anggota jamiyah tahlil RT-RW pada desa sekitarnya saat malam hari. Sedang masyarakat dari luar yang berjauhan datang berombongan dengan mobil dan bus dari siang sampai malam. 


Tradisi syawalan yang telah ada sejak sebelum merdeka sebagai bentuk penghormatan terhadap para guru (ulama) Kaliwungu dengan cara mengunjungi makam atau berziarah untuk kirim doa dan juga bersilaturahim memohon doa pada kiai sebagai guru ngajinya adalah sebagai bentuk adab yang ditanamkan oleh salafushaleh (ana abdu man allamani walau harfan) saya hamba seseorang yang mengajarkanku walau satu huruf. 


Alaqah keilmuan dari guru terhadap muridnya sangatlah kuat dan tidak ada kata beliau mantan guru karena kiai di samping menjadi muaalim juga sebagai mursyid para santri, maka tradisi ini tidak akan pernah punah selagi pesantren masih berdiri kokoh mengajarkan adab atau tatakrama.


Tradisi yang Mulai Bergeser


Kota Kecamatan di kawasan paling timur Kabupaten Kendal yang tidak pernah tidur selalu ramai selama 24 jam penuh Kaliwungu yang terkenal dengan 'Kota Santri' tidak pernah sepi dari lantunan pengajian baik kitab kuning (turast) atau indahnya lantunan ayat Al-Qur'an pada pojok-pojok bilik kamar santri dan gelapnya pojok serambi masjid membuat suasana adem tentram setiap kali singgah pada kota ini. Tiap waktu di bulan Ramadhan penuh terisi pengajian semua mushala bahkan emperan rumah para kiai dipenuhi santri baik dari luar kota atau kampung sekitarnya. Tetapi susana itu sudah mulai hilang menjadi riuh ramai suara ponsel dan berjejernya konter penjual HP android atau para penjual seluler pada sepanjang ruas jalan di Kaliwingu. Tergesernya tradisi itu berimbas pada tradisi syawalan. 


Para pedagang mainan dan pedagang makanan yang sedianya diperuntukan peziarah yang datang dari jauh juga mengajak anak kecil untuk sekedar mampir menghilangkan penat atau sekadar membawa oleh-oleh keluarga di rumah. Kini para pedagang itu berjejer untuk disuguhkan bukan pada para peziarah tetapi para pengunjung syawalan untuk melihat tontonan yang digelar.


Usaha Meluruskan Tradisi


​​​​​​​Takmir masjid besar Al-Muttaqin Kaliwungu membuat surat edaran agar kesakralan tradisi syawalan masih terjaga dengan melayangkan surat pemberitahuan pada seluruh takmir masjid dan mushala untuk dapat menyekenggarakan syawalan sebagai penghormatan dan kirim doa pada para masyayikh utamanya kepada Almarhum almaghfurlah simbah KH Asyari dan para guru kiai di Kaliwungu yang tradisi ini mulai tergeser dengan maraknya tontonan seperti dangdutan dan lainnya. Pergeseran nilai-nilai luhur tradisi syawalan ini tidak lepas dari hilangnya tradisi pengajian oleh para kiai karena sedikitnya para peminat pengajian kitab kuning, sehingga para penerus pengajian tidak sedikit kehilangan santri. 


Maraknya berdirinya pesantren modern yang menyajikan sekolah berbasis pesantren tidak akan dapat mendorong para santri untuk mengaji kitab kuning peninggalan para sesepuh, tetapi justru semakin menjauhnya tradisi pengajian, ini karena tidak sedikit pesantren salafiyah/tradisional yang beralih menjadi boarding school, dengan memasukkan pesantren ke dalam lembaga formal. Menjadi sangat memprihatinkan ketika kesakralan tradisi syawalan hanya sekadar keramaian yang menyuguhkan berbagai macam tontonan dan jajanan. Tetapi hilangnya nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para Ulama.


Penutup


Tradisi syawalan yang sedianya merupakan kebiasaan yang sangat luhur warisan para santri dan kiai terdahulu, yaitu sebagai bentuk penghormatan terhadap guru yaitu Haul Kiai Asyari yang di kenal dengan Kiai Guru. Ajang silaturahim antara para guru dan santri untuk berkunjung dan meminta doa pada guru, kini mulai tergeser keberadaannya. 


Tradisi ini di Kaliwungu sebagai kota santri yang banyak menelurkan tokoh-tokoh besar berskala nasional sebagai ikon santri di Jawa Tengah sudah seharusnya para ulama/kiai/intektual duduk bareng memikirkan bersama para generasi penerus agar tidak terjebak dengan pragmatisme belaka. 


Budaya konsumerisme dan hidonisme yang disuguhkan akan membuat semakin memperparah tergerusnya tradisi luhur peninggalan para ulama dan santri terdahulu. Belum lagi industrialisasi yang marak terjadi dan ekspansi berdirinya perumahan-perumahan di sekitar Kaliwungu makin menambah parahnya tradisi luhur dengan dikotori oleh para pendatang yang  tidak paham dengan dunia pesantren. 


H Munif Abd Muchith, Katib PWNU Jateng tinggal di Kaliwungu pinggiran


Opini Terbaru