• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 9 Desember 2022

Opini

Berkah Ramadhan dan Fenomena Pedagang Musiman

Berkah Ramadhan dan Fenomena Pedagang Musiman
Ilustrasi pedagang takjil (Sumber: NUO Jatim)
Ilustrasi pedagang takjil (Sumber: NUO Jatim)

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Tentu, tanpa musyawarah desa sekalipun, semua orang sepakat soal ini. Orang-orang, khususnya yang muslim akan berlomba-lomba menabung kebaikan demi mendapatkan pahala. Sebab, beribadah di bulan Ramadhan bakal diganjar pahala berlipat-lipat oleh Allah SWT. Kalau toh ada orang yang berbuat maksiat, itu soal lain. Dan itu biar jadi urusan si orang tersebut dengan tuhannya. Tak perlu saya bahas di sini.

Ramadhan bulan di mana kita biasa melakukan puasa, tarawih, sahur, dan buka bersama (bukber), akan menjadi bulan yang sangat berharga bagi kita jika diri kita senantiasa mengerjakan amal kebaikan. Mengisi waktu luang di bulan Ramadhan, tidak melulu dengan rebahan atau perang sarung, tapi bisa kita isi dengan baca Al-Qur’an, berdzikir hingga berbagi takjil kepada kaum papa. Jadi, jangan sampai kita rugi karena menggunakan waktu di bulan Ramadhan dengan sia-sia.

Di bulan Ramadhan kita diwajibkan untuk berpuasa, serta sangat dianjurkan untuk melaksanakan bentuk ibadah lainnya, seperti shalat sunah rawatib, tahajud, hingga bersedekah. Namun demikian, bulan Ramadhan tak hanya soal ibadah saja, ibadah kita kepada Sang Khaliq, tapi juga soal perekonomian atau hubungan manusia dengan manusia lainnya (muamalah).

Sisi perekonomian tersebut bisa kita lihat dengan maraknya pedagang atau pelaku usaha kecil yang tersebar di pasar-pasar hingga di pinggir jalanan. Biasanya, kita akan menemukan banyak pedagang pada waktu sore menjelang berbuka puasa. Para pedagang ini memperjualbelikan aneka makanan dan minuman, meski ada yang berjualan selain kedua hal tersebut.

Dagangan yang dijajakan oleh para pedagang ada banyak jenisnya. Tak perlu saya sebutkan satu persatu, saya kira pembaca sudah paham soal ini. Dengan demikian, masyarakat yang membutuhkan sesuatu tak perlu bingung, karena segala jenis makanan dan minuman (insyaallah) tersedia di pasaran. Tinggal dipilih mau beli apa, tentunya membelinya harus pakai uang sendiri, jangan pakai uang korupsi.

Sore hari di bulan Ramadhan adalah waktu yang berharga bagi pelaku usaha atau pedagang. Sebab, di waktu sore hari, dagangan mereka sedang diburu oleh banyak orang. Dengan banyaknya orang yang membeli, keuntungan yang bisa didapat pun bisa berlipat-lipat.

Pedagang yang bertebaran di bulan Ramadhan juga didominasi oleh pedagang musiman, yakni orang yang melakukan transaksi jual beli atau melakukan pertukaran, baik berupa barang dan jasa yang dilakukan pada waktu atau tempat tertentu. Saya kasih contoh pedagang bendera merah putih, yang biasanya banyak bertebaran saat bulan Agustus, atau pedagang terompet yang muncul jelang tahun baru.

Nah, waktu tertentu yang dimaksud dalam konteks tulisan ini tentu saja adalah Ramadhan, bulan yang sangat istimewa. Pedagang musiman di bulan Ramadhan ini, adalah mereka yang di hari-hari biasa tidak melakukan transaksi jual beli, tapi tiba-tiba melakukannya di bulan Ramadhan. Tentu, mereka melakukannya selain untuk meramaikan khazanah Ramadhan, juga untuk memburu cuan.

Mereka memanfaatkan momen Ramadhan untuk menambah rezeki. Ngalap berkah, kalau orang Jawa bilang. Mereka tak mau ketinggalan momen yang penuh berkah ini. Dengan modal yang mungkin seadanya, mereka berlomba-lomba mendirikan warung (red: lapak), entah di depan rumahnya sendiri atau ikut nimbrung di tempat yang agak ramai oleh lalu lalang umat manusia.

Sama seperti pedagang pada umumnya, pedagang musiman ini juga menjajakan berbagai aneka barang atau jasa. Kalau di bulan Ramadhan, acapkali pedagang musiman ini identik dengan pedagang barteh (timun suri), kolak, sop buah, hingga krico. Selain itu, terdapat pula pedagang aneka sosis bakar, es degan, es kopyor, kurma, dan lain-lain, yang mencari keuntungan dengan datangnya bulan Ramadhan.

Orang-orang yang berjualan di bulan Ramadhan, merupakan orang-orang yang mengadu nasib, tentu saja sebagai upaya memperkuat perekonomian keluarga. Kadang untuk bertahan hidup memang butuh kerja keras. Dengan berdagang, akhirnya mereka punya uang. Dengan adanya uang, mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya, dan yang terpenting bisa membeli bahan makanan untuk berbuka puasa.

Kita perlu apresiasi para pedagang musiman ini. Tidak ada yang salah dari apa yang mereka lakukan. Yang terpenting dagangan yang mereka jual belikan adalah sesuatu yang halal. Mereka tidak jualan barang haram atau sesuatu yang mudharatnya lebih banyak ketimbang maslahatnya.

Para pedagang musiman sangat jeli melihat peluang. Mereka tahu bahwa tingkat konsumsi masyarakat muslim di bulan Ramadhan cukup tinggi. Kebutuhan akan makanan dan minuman, demi melepas dahaga, setelah 13 jam menahan lapar dan haus, menjadi sesuatu yang dicari oleh masyarakat. Tingkat konsumsi yang amat tinggi dari masyarakat membuat mereka akhirnya aktif berjualan.

Oleh karenanya, jangan kaget ketika melihat di tempat-tempat tertentu terjadi kemacetan. Biasanya di jalan-jalan khusus (jalan utama menuju suatu desa atau jalan dekat alun-alun). Sebab di tempat tersebut sedang terjadi transaksi jual beli oleh masyarakat. Entah berburu takjil atau sekadar jalan-jalan cuci mata.

Kita sebagai orang yang ikut mengonsumsi, patut berterimakasih kepada para pedagang musiman. Dengan adanya mereka, kita punya banyak pilihan sesuatu yang ingin dibeli, sehingga hidangan di meja makan saat berbuka puasa dapat penuh warna. Meskipun begitu, kita tidak boleh berlebihan dalam mengonsumsi segala sesuatu. Karena segala sesuatu yang berlebihan (al-ghuluw) adalah tidak baik.

Khairul Anwar, mahasiswa Pascasarjana IAIN Pekalongan Prodi Ekonomi Syariah, Kontributor NU Online Jateng


Opini Terbaru