• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Rabu, 28 Februari 2024

Nasional

Halaqah Falakiyah PBNU di Pekalongan: Pentingnya Kalender NU

Halaqah Falakiyah PBNU di Pekalongan: Pentingnya Kalender NU
Kegiatan halaqah falakiyah PBNU di Kota Pekalongan (Foto: Dok)
Kegiatan halaqah falakiyah PBNU di Kota Pekalongan (Foto: Dok)

Pekalongan, NU Online Jateng
Persoalan kalender hijriah sebagai pedoman umat Islam dalam menjalankan ibadah ternyata hingga sekarang belum tuntas. Di mana kemunculannya dimulai ketika Khalifah Umar bin Khattab dan diputuskan sistem penanggalan Islam dengan nama hijriah.


Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid Pekalongan KH Hasan Su'aidi mengatakan persoalan penanggalan hijriah dalam tataran fiqih para ulama menyepakati polanya jika tidak rukyat ya istikmal.


"Maka, jika melakukan rukyat harus tanggal 29 pada bulan qamariyah, tidak bisa tanggan 28 atau tanggal 30, ujarnya.


Hal itu disampaikan Kiai Hasan panggilan akrabnya yang juga Katib Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan pada acara 'Halaqah Falakiyah PBNU' di Gedung UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, Sabtu (11/11/2023).


Disampaikan, NU menggunakan 2 metode yakni rukyat dan istikmal sebagaimana hadits Rasulullah SAW. Persoalannya adalah sudah terjadi hilal tapi tidak bisa dilihat karena faktor cuaca sehingga bulan istikmal.


"Maka halaqah ini menjadi sangat penting untuk mencari titik temu dan bisa menjadi pedoman tunggal NU dalam menentukan kalender hijriah," ucapnya.
 


Menurutnya, dalam menentukan awal bulan misalnya awal puasa atau awal syawal bukan berdasarkan demi kehati-hatian atau karena faktor lain tidak seperti itu. "Untuk kepastian, maka tetap harus dilakukan observasi atau rukyatul hilal," tegasnya.


Persoalan kepastian hukum lanjutnya, harus ada kejelasan pasti. Kapan mulainya dan kapan berakhirnya dengan hilal nampak secara jelas. "Maka untuk kepastian adanya bulan baru, dasarnya adalah hilal," terangnya.


Ahli astronomi jebolan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta KH Muarif Sudbyo menyampaikan, meski dalam hitungan (hisab) sudah terjadi wujudul qamar di seluruh wilayah Indonesia, namun masih di bawah garis ketentuan yakni minimal 3 derajat. 


"Maka di awal puasa akan terjadi perbedaan dalam memulai puasa," ungkap Kiai Muarif yang juga Pengurus Falakiyah PBNU itu.


Dikatakan, jika saat ini populasi penduduk Indonesia yang mengaku NU ada 59 persen, akan tetapi ternyata yang berpedoman pada hasil rukyatul hilal dalam mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan ada lebih dari 64 persen atau setara dengan 152 juta jiwa.


"Oleh karena itu, apa yang terjadi dalam kalender hijriah NU menjadi sangat penting. karena masyarakat banyak yang membutuhkan," jelasnya.


Ketua Lembaga Falakiyah NU Kota Pekalongan yang juga shahibul bait halaqah falakiyah Idham Arif kepada NU Online Jateng, Ahad (12/11/2023) menjelaskan, kegiatan halaqah yang berlangsung di Kota Pekalongan diikuti oleh pengurus falakiyah NU se-Jateng dan delegasi dari Falakiyah NU Jawa Timur.


"Alhamdulillah, kami mendapat amanat dari Falakiyah PBNU menjadi tuan rumah halaqah. Terima kasih atas kehadiran delegasi selama 2 hari di Kota Pekalongan. mohon maaf jika ada hal-hal yang kurang berkenan, semoga hasilnya bermanfaat untuk NU," pungkasnya.


Penulis: M Ngisom Al-Barony 


Nasional Terbaru