• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Tokoh

Mbah Abdul Malik Sesepuh Mursyid Naqsabandiyah Khalidiyah Tanah Jawa (1)

Mbah Abdul Malik Sesepuh Mursyid Naqsabandiyah Khalidiyah Tanah Jawa (1)
Mbah Abdul Malik Banyumas guru Habib Luthfy bin Yahya Pekalongan (Foto: Iatimewa)
Mbah Abdul Malik Banyumas guru Habib Luthfy bin Yahya Pekalongan (Foto: Iatimewa)

KH Abdul Malik atau sering dipanggilnya dengan Mbah Malik adalah sosok ulama yang cukup disegani di Banyumas Jawa Tengah. Mbah Abdul Malik semasa hidupnya memegang dua thariqah besar sebagai mursyid yaitu Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah dan Thariqah Syadziliyah.


Kiai Abdul Malik lahir di Kedung Paruk, Purwokerto, pada hari Jumat 3 Rajab 1294 H (1881). Nama kecilnya adalah Muhammad Ash’ad sedang nama Abdul Malik diperoleh dari ayahnya, KH Muhammad Ilyas ketika ia menunaikan ibadah haji bersamanya. Sejak kecil Mbah Abdul Malik telah memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya yang ada di Sokaraja, Banyumas terutama dengan KH Muhammad Affandi.


Sang ayah adalah KH Muhammad Ilyas bin H Aly Dipowongso. Syekh Muhammad Ilyas trukah berdakwah di wilayah eks Karesidenan Banumas dimulai dari grumbul Kedungparuk sekembalinya dari menuntut ilmu selama puluhan tahun di Makkah. Guru Ilyas demikian nama yang lebih dikenal dilahirkan di Kedung Paruk sekitar tahun 1186 H/1765 M dari seorang ibu bernama Siti Zaenab binti Maseh bin KH Abdussamad (Mbah Jombor). Guru Ilyas mulai menyebarluaskan thariqah naqsabandiyah khalidiyah sesuai tugas dan amanah gurunya yakni Syekh Sulaiman Zuhdi Al-Makki sekitar tahun 1246 H/1825 M pada usia 60 tahun.


Setelah belajar Al-Qur’an dengan ayahnya, Mbah Abdul Malik kemudian mendalami kembali Al-Qur’an kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan Kebasen, Banyumas. Pada tahun 1312 H, ketika Syaikh Abdul Malik sudah menginjak usia dewasa, oleh sang ayah ia dikirim ke Makkah untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mempelajari berbagai disiplin ilmu agama di antaranya ilmu Al-Qur’an, tafsir, Ulumul Qur’an, Hadits, Fiqih, Tasawuf dan lain-lain. Mbah Malik belajar di tanah suci dalam waktu yang cukup lama kurang lebih selama 15 tahun.


Dalam ilmu Al-Qur’an, khususnya ilmu Tafsir dan Ulumul Qur’an, ia berguru kepada Sayid Umar Asy-Syatha’ dan Sayid Muhammad Syatha’ putra penulis kitab I’anatuth Thalibin Hasyiyah Fathul Mu’in. Dalam ilmu hadits, ia berguru Sayid Tha bin Yahya Al-Magribi ulama Hadramaut yang tinggal di Mekkah, Sayid Alwi bin Shalih bin Aqil bin Yahya, Sayid Muhsin Al-Musawwa, Asy-Syekh Muhammad Mahfudz bin Abdullah At-Tirmisi. Dalam bidang ilmu syariah dan thariqah alawiyah ia berguru pada Habib Ahmad Fad’aq, Habib Aththas Abu Bakar Al-Attas, Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi Surabaya, Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas Bogor, dan Kiai Sholeh Darat Semarang.


Sementara itu, guru-gurunya di Madinah adalah Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani, Sayid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki, dan Sayid Ali Ridha. Setelah sekian tahun menimba ilmu di Tanah Suci, sekitar tahun 1327 H Mbah Abdul Malik pulang ke kampung halaman untuk berkhidmat kepada kedua orang tuanya yang saat itu sudah sepuh (berusia lanjut). Kemudian pada tahun 1333 H, sang ayah Syekh Muhammad Ilyas berpulang ke Rahmatullah.


Sesudah sang ayah wafat, Mbah Abdul Malik kemudian mengembara ke berbagai daerah di Pulau Jawa guna menambah wawasan dan pengetahuan dengan berjalan kaki. Ia pulang ke rumah tepat pada hari ke-100 dari hari wafat sang ayah, dan saat itu umur Mbah Malik berusia tiga puluh tahun.Sepulang dari pengembaraan, Mbah Malik tidak tinggal lagi di Sokaraja, tetapi menetap di Kedung Paruk bersama ibundanya, Nyai Zainab. Perlu diketahui, Abdul Malik sering sekali membawa jemaah haji Indonesia asal Banyumas dengan menjadi pembimbing dan syekh. Mereka bekerjasama dengan Syekh Mathar Makkah dan aktivitas itu dilakukan dalam rentang waktu yang cukup lama.


Sehingga wajarlah kalau selama menetap di Makkah, ia memperdalam lagi ilmu-ilmu agama dengan para ulama dan syekh yang ada di sana. Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, mbah Abdul Malik pernah memperoleh dua anugerah yakni pernah diangkat menjadi Wakil Mufti Madzab Syafi’i di Makkah dan juga diberi kesempatan untuk mengajar. Pemerintah Saudi sendiri sempat memberikan hadiah berupa sebuah rumah tinggal yang terletak di sekitar Masjidil Haram atau tepatnya di dekat Jabal Qubes. Anugerah yang sangat agung ini diberikan oleh Pemerintah Saudi hanya kepada para ulama yang telah memperoleh gelar Al-Allamah.


Syekh Ma’shum Lasem, Rembang setiap berkunjung ke Purwokerto, sering kali menyempatkan diri singgah di rumah Mbah Abdul Malik dan mengaji kitab Ibnu Aqil Syarah Alfiyah Ibnu Malik secara tabarukan (meminta barakah) kepada Mbah Abdul Malik. Demikian pula dengan Mbah Dimyathi Comal, Pemalang, KH Kholil Sirampog, Brebes, KH Anshori Linggapura, Brebes, KH Nuh Pageraji, Banyumas yang merupakan kiai-kiai yang hafal Al-Qur’an, mereka kerap sekali belajar ilmu Al-Qur’an kepada Mbah Abdul Malik.


Kehidupan Mbah Abdul Malik sangat sederhana, di samping itu ia juga sangat santun dan ramah kepada siapa saja. Beliau juga gemar sekali melakukan silaturahim kepada murid-muridnya yang miskin. Baik mereka yang tinggal di Kedung Paruk maupun di desa-desa sekitarnya. (bersambung)


Pengirim: Aji Setiawan
Editor: M Ngisom Al-Barony 


Tokoh Terbaru