• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Sosok

Perjalanan Umroh Kontributor NU Online Jateng; Masjidil Haram, Umroh, dan Jabal Rahmah (2-habis)

Perjalanan Umroh Kontributor NU Online Jateng; Masjidil Haram, Umroh, dan Jabal Rahmah (2-habis)
Kontributor NU Online Jateng Khairul Anwar saat berada di Kota Suci Makkah (Foto: Dok)
Kontributor NU Online Jateng Khairul Anwar saat berada di Kota Suci Makkah (Foto: Dok)

Setelah empat hari berada di Madinah, saya (Khairul Anwar kontributor NU Online Jateng, red) dan rombongan kemudian berangkat ke Kota Makkah. Perjalanan kami dari Madinah ke Makkah terasa sangat menyenangkan. Sebab kami dapat melihat pemandangan sepanjang jalan. Tampak dari jendela bus, saya melihat hotel-hotel, masjid, dan seringnya adalah melihat pemandangan gurun pasir yang diselingi oleh perbukitan yang gersang, jalanan sangat mulus dan lebar. Tidak terbayang saat Nabi Saw berjalan dari Makkah menuju Madinah saat proses hijrah.


Selain melihat pemandangan gurun pasir dan perbukitan yang gersang, perjalanan kami juga terasa amat menyenangkan karena dipandu secara langsung oleh seorang muthawif atau tour guide. Muthawif ini duduk di kursi depan sembari bicara tentang sejarah tempat-tempat yang ada di tanah suci dan mengingatkan para jamaah agar senantiasa memanfaatkan waktu untuk beribadah selama di tanah yang mulia ini.


Saat perjalanan menuju ke Makkah, kami sudah berpakaian ihram dari Madinah dan mengambil miqat di Bir Ali. Sebagai pengetahuan saja, Bir Ali merupakan salah satu tempat kaum Muslimin yang hendak menunaikan ibadah haji atau umroh untuk memulai ihram. Tempat-tempat ini disebut sebagai miqat. Bir Ali dahulu dikenal sebagai Dzul Hulaifah, sebuah desa yang berjarak 6 atau 7 mil dari Kota Madinah.


Pembimbing kami, yakni Gus Sholah memimpin niat ihram dan berkali-kali mengajak jamaah untuk melantunkan kalimat talbiyah selama berada di bus. Labbaika-llâhumma labbaîk, labbaika lâ syarîka kalak. Innal ḫamda wan ni‘mata laka wal mulk. Lâ syarîka lak(a) Artinya, 'Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sungguh, segala puji, nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.


Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan selama enam jam, bus yang kami tumpangi akhirnya sampai di Kota Makkah. Kami diinstruksikan untuk menuju kamar hotel yang sudah disiapkan oleh panitia. Seperti biasanya, saya satu kamar bersama bapak, ibu, dan seorang jamaah lain plus dua orang muthawif yang mendampingi kami selama di Madinah dan Makkah. Setelah menaruh barang-barang di kamar hotel, berikutnya kami langsung melaksanakan umroh yang pertama, atau umroh wajib. Saya kala itu tidak bersama rombongan, karena saya harus mendorong kursi roda ibu saya, dan juga menemani bapak saya yang didorong pakai kursi roda oleh petugas dari sana, untuk thawaf dan sai di lantai ketiga Masjidil Haram.


Ketika umroh yang pertama itu dilakukan pada malam hari, sekitar pukul 24.00 waktu Arab Saudi. Dalam kondisi belum makan malam, saya tetap optimis bisa melakukan umroh wajib dengan baik dan lancar. Saya, yang baru pertama kali ikut umroh, hanya bisa mengikuti petugas yang mendorong kursi roda bapak saya. Pasalnya, saya belum paham akan kondisi dan situasi yang ada di Masjidil Haram. Di lantai 3 Masjidil Haram, Hajar Aswad ditandai dengan lampu hijau. Dari sinilah titik untuk memulai tawaf yang dilakukan selama tujuh putaran itu. 



Khairul Anwar (laing kanan) saat berada di Masjidil Haram Makkah (Foto: Dok)

Sambil mendorong kursi roda ibu saya, saya mencoba mengikuti apa yang diucapkan oleh petugas pendorong kursi roda yang ternyata orang Indonesia itu. 'Bismillahi Allahu akbar,' ucapnya sambil tangan kanan menyapa hajar aswad. Dan pada akhirnya berkat rahmat Allah SWT saya, bapak, dan ibu dapat menuntaskan umroh yang ditandai dengan pemotongan rambut atau tahalul. “Alhamdulilah ya Allah,” batinku.


Setelah semua proses umroh selesai, saya, bapak dan ibu kembali ke kamar hotel untuk beristirahat. Hari-hari di Makah, saya isi dengan beribadah di Masjidil Haram, khususnya shalat rawatib. Di tempat inilah, kata Nabi Muhammad SAW ketika orang melakukan satu kali shalat, pahalanya adalah 100.000 kali dari shalat di masjid yang lain. 


Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW berkata, “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama dari 1.000 kali shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram, lebih utama 100 ribu kali lipat pahalanya dari shalat di masjid lain.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).


Oh ya, sama seperti di Masjid Nabawi, selepas shalat rawatib, di Masjidil Haram juga diadakan shalat jenazah. Jarak setelah salam sampai dilaksanakannya shalat jenazah, berkisar sekitar 5 menit. So, setelah menunaikan shalat fardhu, jangan terburu-buru untuk pergi ya, karena melaksanakan shalat jenazah di tanah suci pahalanya juga besar.
Bisa shalat berjamaah di Masjidil Haram merupakan sebuah kebangaan tersendiri. Banyak kenangan yang tak terlupakan selama berada di sini. Empat hal yang pasti bikin saya ingin kembali ke Makkah adalah melihat Ka’bah, mendengar suara adzan yang merdu, minum air zam-zam dan merasakan dinginnya lantai Masjidil Haram.


Di Masjidil Haram, saya juga bertemu dengan para Askar. Merekalah Polisi yang selama 24 jam menjaga keamanan, kenyamanan, dan ketertiban di Masjidil Haram. Mereka ditempatkan di titik-titik di masjid terbesar di dunia tersebut. Saat sholat fardhu tiba misalnya, jika ada barisan yang kosong di depan, mereka (askar) akan menyuruh jamaah maju ke depan. Sebaliknya mereka juga melarang jika ada jamaah yang memaksa menerabas ke tempat-tempat yang tidak diperuntukan untuk shalat. Terkadang ada jamaah yang nekat masuk ke dalam Masjidil Haram, padahal askar sudah melarang, artinya di dalam sudah penuh.


“Ya Allah Ya Haj! Ya Allah Ya Hajj! Hariq, Hariq (bergerak)!” teriak seorang askar. Di Kota Makkah saya dan rombongan juga mengunjungi beberapa tempat bersejarah. Jabal Rahmah adalah salah satunya. Dalam sejarahnya, tempat ini disebut sebagai pertemuan antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Dari dalam bus, Jabal Rahmah sudah terlihat, dengan tugu berwarna dominan biru yang berada di atas bukit menjadi sebuah penanda akan keberadaan Jabal Rahmah.


Waktu rombongan kami tiba, kondisi dan situasi di Jabal Rahmah cukup padat oleh jamaah lain dari berbagai negara. Saya dan rombongan menuju naik ke Jabal Rahmah, sementara bapak dan ibu saya tidak ikut turun dari bus karena kondisi badan yang atidak memungkinkan untuk menghadapi teriknya sinar matahari dan keramaian. 


Jabal Rahmah ini bukitnya bebatuan. Saat saya sampai di atas, saya melihat banyak sekali coretan di batu-batu dan di tugu. Coretan-coretan di tugu setinggi 4 meter ini umumnya ditulis oleh para jamaah umroh dan haji dari berbagai negara. Selain ada kalimat bahasa Arab, bahasa Inggris, Prancis, ada juga bahasa Indonesia. Tapi sebagian besar adalah coretan nama. Mereka mengabadikan nama mereka sendiri, juga pasangan mereka. Banyak orang meyakini bahwa jika menuliskan nama mereka dan pasangan mereka di Jabal Rahmah maka perjodohan mereka akan kekal seperti Adam dan Hawa.


Selain melihat keindahan Jabal Rahmah, selama di Makkah saya dan rombongan juga diajak untuk mengunjungi Masjid Quba, masjid pertama yang didirikan oleh Nabi aMuhammad SAW. Kemudian juga mendatangi Masjid Ji’ronah untuk melaksanakan miqat umroh yang kedua (sunnah), serta berziarah ke Jannatul Ma’la, sebuah makam dimana para keluarga Nabi SAW di makamkan. Di Ma’la juga terdapat makam Ulama Kharismatik asal Indonesia, KH Maimun Zubair. Wallahu a'lam bis shawab  (*)
 


Sosok Terbaru