• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 14 Agustus 2022

Opini

Rais NU Jateng dan Nasib Banser

Rais NU Jateng dan Nasib Banser
Foto: Ilustrasi (dok NU Online Jateng)
Foto: Ilustrasi (dok NU Online Jateng)

Sebagai Nahdliyin dan Pengurus NU saya sering bersentuhan dengan Banser. Pengajian rutin, akbar, karnaval, penanggulangan bencana, mantu sampai parkirpun mereka terlibat. Saya sebagai warga negara merasa kapiran kalau tidak ada Banser. Saya sering iseng menggoda mereka dengan meminta rokok. "Mas minta rokoknya mas," kataku suatu ketika.


Mas Banser inipun meraba-raba kantongnya di baju tebal seragamnya. Satu menit kira-kira dia baru berhasil mengeluarkan bungkusan rokok. Ketika disodorkan padaku ternyata tinggal dua batang yang sudah bengkong hampir putus karena tertekan-tekan dalam kantong sempitnya. Itupun rokok khusus berisi tembakau yang dapat dihisap sampai batas maksimal karena tidak berfilter.


"Aduh.. gagah-gagah demikian rokoknya eceran," Betul juga guyonan almaghfurlah KH Hasyim Muzadi. Mereka hanya mampu membeli rokok eceran. Dalam acara-acara pengajian dan lainnya merekapun diberi konsumsi paling akhir. Yah kalau snak dan makanan besar sudah cukup untuk tamu-tamu dan jamaah tentunya. Kalau tidak ya makan seadanya.


Pernah ketika saya ndereake pak kiai di Kabupaten Semarang dijemput 8 Banser yang menaiki empat motor. Ada yang gendut, gagah tapi motornya bebek kuno. Untuk melancarkan perjalanan kiaiku, empat pembonceng membawa peluit satu-satu. Mereka meniup bergantian untuk menyibak kemacetan jalan. Yah jangankan sirine, sumpritan saja kayaknya sudah berkarat.




Rais PWNU Jateng, KH Ubaidullah Shodaqoh (Dok: NU Online Jateng)


Bayangkan, malam mengawal dan mengamankan acara, pagi mereka harus bekerja mencari nafkah. Ada tukang panggul, buruh tani, buruh pabrik, guru, tukang batu atau kuli batu. Demi khidmah pada guru dan kiai mereka rela berpayah-payahan. Mungkin di rumahnya hanya tersedia beberapa liter beras saja. Tapi juga ada dosen, pedagang, dan bahkan doktor yang golongan ini sebagai pendonor sigaret atau jajan mereka.


Selama ini ke manapun saya blusukan di Jateng selalu bertemu Banser. Setiap keramaian di Pantura maupun Jawa bagian selatan. Dalam penanggulangan bencana, masyaallah tanpa upah tanpa bayaran mereka berkhidmah pada masyarakat di lapisan apapun.


Kalau sejarah perjuangan membela negara janganlah bertanya lagi. Cikal bakalnya Banser selalu aktif melawan penjajah. Apalagi masa revolusi 1965. Betapa besar jasanya meskipun setelah lahir orde baru mereka digencet segencet-gencetnya, namun tak melawan tak mengeluh, tetap berkhidmah pada NU dan masyarakat.


Kini ketika NKRI terancam, merekapun tak mau bertumpang dagu pura-pura dungu. Nahi munkar dengan mencegah provokator kerukunan umat yang berkoar-koar di masjid. Mereka tidak tega ulamanya diperolok-olok dan dijelek-jelekkan sebagai ahli bid'ah. Mereka tidak rela Pancasila sebagai kesepakatan umat dilecehkan. Bukan hanya rokok dua gelintir taruhannya, tapi juga nyawa mereka.


Meskipun ada beberapa tokoh di Jakarta yang tidak simpati pada langkah yang diambil kawan-kawan Banser dan bahkan sinis dan menyebarkannya seantero dunia lewat dunia maya namun bersabarlah kawan-kawan semua bahwa ganjaran Gusti Allah Taala atas keiikhlasamu menjaga NKRI sebagai rumah pengamalan Islam Aswaja NU jauh lebih berharga dan banyak dibanding dengan tepuk tangan riuh dan pujian para politisi di pusat. Tetaplah terukur dan terarah, ikuti komando pimpinanmu dan nasehat para ulama kiai NU. Lillahi Taala, Lillahi Taala, Lillahi Taala. 
 

Semoga amalmu diterima oleh Gusti Allah dan rizqimu dilancarkan sehingga dapat memondokkan atau menyekolahkan anakmu sampai jadi profesor dan yang jelas semoga rokokmu tidak dibeli dengan harga eceran. Wallahu a'lam bis shawab


catatan: tulisan ini dikutip dari laman Face Book Ansor


KH Ubaidullah Shodaqoh, Rais PWNU Jawa Tengah, Pengasuh Pesantren Al-Itqon, Bugen, Kota Semarang
 


Opini Terbaru