• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 12 April 2024

Opini

KONFERWIL NU JATENG

PWNU Jateng dan Kepemimpinan Visioner

PWNU Jateng dan Kepemimpinan Visioner
Foto: Ilustrasi (nu online)
Foto: Ilustrasi (nu online)

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah akan menyelenggarakan kegiatan Konferensi Wilayah (Konferwil) XVI NU tanggal 5-6 Maret 2024 di Gedung Aswaja Jalan Sriwijaya 2 Kota Pekalongan. Sebagaimana anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ( AD/ART ), forum ini selain membahas program kerja dan laporan pertanggungjawaban juga akan melakukan proses suksesi kepemimpinan untuk masa khidmat 5 tahun mendatang.
    

Secara historis, NU Jateng melalui para tokohnya memiliki andil besar dalam proses lahirnya jamiyah yang didirikan para ulama tahun 1926 M. Dalam sejarah selanjutnya, menjadi soko guru jamiyah diniyah ini, selain Jawa Timur, sebagai episentrum pengkhidmatan. Ini berarti NU Jateng memiliki nilai strategis dalam memajukan NU dalam berbagai bidang dan jenis. Setidaknya, tampil sebagai basis kedua, syukur bisa setara dengan basis utama, yaitu Jawa Timur. Pertanyaannya, seperti apa potret PWNU Jateng secara umum?. Kepemimpinan model apa yang dibutuhkan agar bisa menjadi setara, syukur unggul?


Kepemimpinan Visioner


Gambaran umum NU, termasuk NU Jateng sekarang ini tentunya berbeda dengan gambaran pada masa awal kelahirannya, juga masa kemarin. Dulu, jumlah sarjana NU sebagaimana dikatakan KH Wachid Hasyim sangat sedikit, bahkan diibaratkan susahnya mencari sarjana hampir sama dengan susahnya mencari penjual es pada malam hari (saat itu penjual es kebanyakan siang hari). Sekarang ini, jumlahnya sangat banyak meliputi strata 1, strata 2 dan strata 3. Mereka tidak saja alumni pesantren dan pendidikan agama, tetapi  non pesantren dan perguruan tinggi non agama, baik alumni nasional maupun Timur Tengah, Eropa, Amerika dan negara asia lainnya. Demikian pula populasi guru besarnya sangat besar. 


Berdasarkan pengamatan penulis, banyak sarjana plus di NU. Artinya, selain fasih membaca kitab kuning, juga menguasai literatur populer, klasik dan menguasai teknologi mutakhir, termasuk ahli IT. Sebab, mereka selain alumni perguruan tinggi di Indonesia juga mendapat gelar akademik di berbagai negara, termasuk Eropa dan Amerika. Ini yang barangkali tidak dimiliki organisasi keagamaan lainnya. Selain sumber daya manusia ( SDM ) yang maju pesat, juga bidang sosial dan ekonomi mengalami perubahan signifikan. Jumlah orang NU yang kaya mengalami peningkatan luar biasa. Pada waktu bersamaan jumlah politikus mengalami booming, tersebar di semua partai politik, pada semua level. Di luar itu juga banyaknya petani yang semakin kritis, akibat dinamika yang melilitnya,  para buruh yang semakin melek hukum dan perubahan pola pikir kiai kiai kampung, kiai muda yang selalu beririsan dengan politik praktis. Tidak ketinggalan, lahirnya generasi milenial yang memiliki paradigma kekinian.


Mau tidak mau, NU harus memperhatikan generasi milenial yang secara demografi mengalami peningkatan. Generasi milenial yang juga dikenal sebagai generasi Y adalah kelompok demografi setelah generasi X (Gen - X). Mereka memiliki karakter melek digital, memiliki keinginan tinggi, suka kebebasan, idealis dan berwatak progresif. Perubahan perubahan tersebut membutuhkan sosok atau figur pemimpin yang kuat (strong leader), yang antisipatoris dan visioner. Perubahan alamiah dan revolusioner yang dipicu ilmu pengetahuan dan teknologi akan bisa dijawab dengan baik oleh tipe kepemimpinan visioner.
    

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, jauh hari telah mewacanakan kepemimpinan gagasan untuk membawa peran NU dalam kancah global. Menurutnya, NU memiliki modal sosial ketika ingin menggarap peradaban global. Modal itu, antara lain keberhasilan NU mencitrakan Islam sebagai agama rahmatan lil alamiin, inklusif, toleran, humanis dan berwatak Nusantara. Gus Yahya sudah melakukan itu dan dampaknya sangat positif. Prakarsa prakarsa global telah dilakukannya, antaranya, R-20 dan diplomasi lainnya berhasil membawa nama harum NU.
     

NU Jawa Tengah, sepertinya cukup membutuhkan sosok pemimpin visioner. Menurut KBBI, visioner adalah orang yang memiliki pandangan atau wawasan ke masa depan. Kepemimpinan visioner (visionary leadership) adalah kemampuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan, mensosialisasikan, mentransformasikan dan mengimplementasikan pikiran pikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus dicapai melalui komitmen semua personil. Seorang pemimpin visioner biasanya cenderung berfikir kreatif demi masa depan organisasi yang dipimpinnya dan didapat melalui proses pembelajaran dan pengalaman pendidikan formal maupun informal.
 

    
Secara konsep, pemimpin visioner memiliki kemampuan khusus, yaitu, pertama difficult learning, kemampuan mengidentifikasi problem problem yang belum diketahui dan belum ada pemecahannya. Dua, maximizing energy, yaitu memaksimalkan energi dalam usaha untuk mengambil keputusan yang berkualitas melalui mindset yang kompromistis. Tiga, multiple focus, yaitu memiliki fokus pada kegiatan yang strategis maupun non strategis. Empat, mastering inner sense, yaitu memiliki prediksi tidak sekadar berdasarkan logika dan rasio, juga melalui intuisi dari inner sense yang menuntut pada keputusan yang cepat dalam keadaan tertentu. Dengan kata lain, pemimpin visioner seperti kahin yang ( merasa) tahu, sedangkan orang lain tidak tahu. Lalu dirumuskannya sebagai ide cemerlang.


Stok Melimpah


Secara demografi, populasi generasi milenial dan generasi X yang memiliki kualifikasi akademik unggul sangat banyak yang tersebar di semua level kepengurusan. Sehingga kebutuhan pemimpin visioner bisa dicukupi, karena stok yang melimpah. Bahkan, di sejumlah MWC dan ranting NU dipimpin seorang dokter dan profesor.
     

Pemimpin NU visioner, setidaknya memiliki tiga kompetensi dasar. Pertama, memiliki ilmu pengetahuan, kedua, menguasai teknologi dan ketiga memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Dengan ilmu pengetahuan yang baik akan mampu menjawab perubahan yang terkait dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, ekonomi, perubahan orientasi pendidikan, sosial, budaya dan teknologi mutakhir. Perubahan perubahan tersebut akan mampu dibaca cermat dan tepat. Dan kemampuan membaca itu merupakan keniscayaan bagi pemimpin.
    

Demikian pula, dengan kemampuan komunikasi yang baik, pemimpin NU mampu mengkoordinasikan dan mentransformasikan ide, program, dan cita-cita besar jamiyah ke eksternal, internal, vertikal, dan horizontal. Pimpinan PWNU selevel dengan Gubernur, Pangdam dan Kapolda, sesuai dengan kapasitas dan konteksnya. Mereka punya anggaran yang jelas dan program yang jelas pula. Karena itu tugas pimpinan PWNU adalah mengkomunikasikan, menselaraskan dan bekerja sama untuk kepentingan jamiyah.


Dalam konteks politik, pimpinan PWNU bisa dikatakan levelnya di atas pimpinan parpol propinsi, minimal setara. Mereka punya dana, punya akses program dan anggaran, punya kegiatan dan punya kepentingan elektoral. Tugas pemimpin PWNU membangun komunikasi,  bersinergi, berkolaborasi dan pada titik tertentu menggiring mereka untuk kepentingan jamiyah.
    

Bendera NU sangat gagah dan mahal harganya. Banyak pihak berkepentingan  dengan NU untuk mendapatkan barakahnya, secara politik mikro maupun makro, ekonomi, sosial SDM. Siapapun yang mendapatkan amanah memanggul panji panji bendera, sangat dihormati dan diperhitungkan. Semuanya ingin dekat dan mendapatkan barakahnya, tidak terkecuali para bupati/walikota, gubernur, dan para menteri. Apalagi, kalau panji panji bendera NU tersebut berada di pundak ulama yang intelek, memiliki pesantren yang menjadi rujukan, memiliki relasi level nasional, memiliki kualifikasi pendidikan yang moncer dan berkualitas serta memiliki nasab dan sanad keNUan yang kuat, PWNU Jateng akan menjadi magnet yang sangat kuat. Pemimpin PWNU Jateng dengan kriteria seperti itu, sangat dimungkinkan, akan naik peringkat secara nasional. Insyaallah, posisinya tidak akan digeser oleh PWNU lainnya yang sekarang ini mengalami peningkatan kemajuan di berbagai bidang, fisik dan non fisik.
    

Sangat ironis jika di banyak hal PWNU Jateng tertinggal dari PWNU yang masuk katagori tidak basis. Sangat memprihatinkan ketika PWNU lain berpacu membangun perguruan tinggi dan rumah sakit standar nasional, juga memiliki program unggulan di sektor pertanian, UMKM, kemandirian dan pendidikan unggul, kita masih bicara pemetaan potensi dan rencana rencana gradual.
   

Konferwil NU Jateng sangat strategis dijadikan momentum untuk lahirnya pemimpin visioner, yang diharapkan mampu mengejar ketertinggalan di berbagai sektor dengan PWNU lainnya.
Di saat stok kader potensial yang melimpah, rasanya tidak terlalu sulit mendapatkan pemimpin visioner yang strong, yang alim dan intelek, yang memiliki jejaring luas, memiliki pengalaman di level tinggi, memiliki kemampuan diplomasi komunikasi yang baik, berakhlak mulia dan memiliki sanad dan nasab yang bagus.
    

5 tahun mendatang, bisa terasa melelahkan dan membosankan jika dipimpin oleh orang yang tidak tepat dan tidak visioner. Sebaliknya, akan terasa cepat jika dipimpin oleh orang yang tepat dan visioner, karena keberhasilan demi keberhasilan akan menjadi kebanggaan bersama.
Semoga Konferwil NU Jateng kali ini bukan sekadar rutinitas 5 tahun, tetapi menjadi strategis dengan semangat kolektif untuk menuju NU Jateng yang lebih unggul.


H Mufid Rahmat, mantan Ketua PW GP Ansor Jateng tinggal di Boyolali


Opini Terbaru