• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Opini

Menjadikan Doa Bagian dari Ibadah

Menjadikan Doa Bagian dari Ibadah
Foto: Ilustrasi (nu online)
Foto: Ilustrasi (nu online)

Berdoa kepada Allah Taala termasuk bagian dari ibadah. Dalam doa, kita mengakui kelemahan dan kekurangan diri kita dan mengakui Allah Taala Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, dan seterusnya sebagaimana dijelaskan ulama ahlussunnah wal jamaah. 

 

Doa juga merupakan senjatanya orang-orang mukmin. Doa yang dilantunkan seorang mukmin, Insyaallah dikabulkan oleh Allah Taala, manakala disertai perubahan sikap dan perilaku ke arah yang lebih baik, akhlakul karimah.

 

Oleh karena itu, dalam doa diawali dengan taubat, sampai pada tingkat yang lebih lanjut seperti khauf (takut) dan roja (berharap kepada Allah Taala), sampai pada derajat berikutnya mohon ridha Allah Taala.

 

Setiap orang mukmin memiliki pengalaman spiritual yang tidak sama, tergantung pada ilmu, amal, dan tingkat keikhlasannya. Namun setiap mukmin, Insyaallah mendapatkan ampunan atau maghfirah dan kasih sayang atau rahmat dari Allah Taala. 

 

Untuk memperkuat keimanannya, seorang mukmin menjalankan rukun Islam (syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu), yang disebut dengan muslim. Setelah itu mencapai tingkat yang lebih tinggi, yakni menjalankan ihsan, atau dalam beribadah seolah-olah melihat Allah Taala (ma'rifat). Kalau belum bisa sampai pada ma'rifat, maka kita yakin Allah selalu memperhatikan kita. Jika sudah bisa sampai pada tingkat ini, maka akan selalu ada kontrol dari dalam diri sendiri untuk selalu berbuat baik. Mereka akan malu kepada Allah Taala jika tidak berbuat baik. 

 

Meskipun demikian, semua orang yang sudah sampai pada derajat tersebut, mereka tetap merasa hina, merasa bodoh, merasa lemah, dan merasa belum baik, sehingga selalu berusaha untuk belajar supaya baik.

 

Karena itu seringkali kita dengar nasehat dari guru-guru sepuh: "Ojo rumongso biso. Biso-o rumongso", atau jangan merasa bisa, namun bisalah merasa".

 

Para auliya seperti Simbah Sunan Kalijaga memberikan nasehat supaya umat menjalankan lima hal pokok. Pertama, manembah, atau selalu menghambakan diri kepada Allah Taala. Kedua, mengabdi atau selalu berbakti kepada orang tua, bangsa, dan negara. Ketiga meguru, atau mengaji kepada guru yang waskita, memiliki ilmu, sanad, dan akhlak yang terpuji. Keempat, makaryo atau bekerja mencari nafkah yang halal dan thayibah. Dan kelima, mertopo atau menjalankan tasawuf, thariqah, mencari ridha Allah Taala.

 

Sebagaimana dijelaskan para ulama, jika berdoa seyogyanya dalam keadaan suci dari hadats dan najis. Ada beberapa waktu dan tempat yang barakah untuk berdoa. Misalnya waktu antara adzan dan iqamah, waktu setelah shalat, sepertiga malam yang akhir, atau waktu tertentu dalam bulan Ramadhan dan bulan-bulan yang mulia (dzulqa'dah, dzulhijjah, Muharam, Rajab). Adapun beberapa tempat yang barakah untuk berdoa seperti di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjidil Aqsha, dan tempat-tempat lainnya yang diberkahi Allah Taala.

 

Kalimat-kalimat dalam doa, yang utama adalah doa-doa para nabi dan Rasulullah SAW, baik tertuang dalam Al-Qur'an maupun Al-Hadits. Doa-doa tersebut sudah banyak ditulis oleh ulama terdahulu yang shalih seperti dalam Ratib dan hizib, sehingga kita tinggal mohon diajari oleh ulama dan habaib yang terdekat di sekitar tempat tinggal kita.

 

Berdoa dengan bahasa apapun juga boleh, sepanjang isinya untuk kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, baik untuk diri sendiri maupun saudara, kerabat, teman-teman, dan orang-orang mukmin pada umumnya. Semoga terkabul, amin. Wallahu a'lam.

 

 

Mohamad Muzamil, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Mantan Ketua Korcab Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Tengah 


Opini Terbaru