• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 7 Oktober 2022

Nasional

PBNU Ajak Nahdliyin Perangi Hoaks dengan Narasi Positif di Media Sosial

PBNU Ajak Nahdliyin Perangi Hoaks dengan Narasi Positif di Media Sosial
Kegiatan lokakarya literasi digital 'tangkal hoaks' dihelat LTN PBNU kerja sama LTNNU Jateng di Semarang ( Foto: NU Online Jateng/Rifqi)
Kegiatan lokakarya literasi digital 'tangkal hoaks' dihelat LTN PBNU kerja sama LTNNU Jateng di Semarang ( Foto: NU Online Jateng/Rifqi)

Semarang, NU Online Jateng
Wakil Ketua Lembaga Taklif wan-Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Rozali meminta para kader Nahdlatul Ulama (NU) dan nahdliyin untuk memerangi hoaks dengan narasi-narasi positif di media sosial (Medsos)


"Kalau ada banyak yang mengatakan amaliah dan ubudiyah NU itu salah, maka harus segera diklarifikasi karena kalau didiamkan dan semakin banyak tersebar akan diyakini sebagai kebenaran," ujarnya.


Rozali mengatakan hal itu saat menjadi narasumber 'Lokakarya Literasi Digital' yang digelar di Gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Semarang, Jl. Puspogiwang I/47, Semarang Barat, Kota Semarang, Kamis (14/7).


Dia mencontohkan adanya paham atau aliran agama Islam yang begitu massif menyebarkan narasi menyalahkan amaliah Nahdlatul Ulama (NU) di media sosial (Medsos). Menurutnya, narasi tersebut tidak memiliki referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu dia meminta agar narasi tersebut harus dilawan dengan tulisan dari media online yang kredibel sesuai dengan isu yang dilempar.


"Kalau di NU Online itu ada penulisnya, ada editornya, ada adminnya. Semua sudah dibekali ilmu jurnalistik yang memadai," jelasnya.


Rozali menilai, NU memiliki kiai dan santri yang berpotensi memerangi paham Wahabi di media sosial. Oleh sebab itu ia mengingatnya Wahabi akan semakin diterima dan kuat sebab massifnya gerakan digital.


"Kalau kita tidak membuat konten, maka akan banyak orang akan jadi Wahabi, lalu kalau ini (berhasilnya gerakan digital wahabi) dikatakan dosa maka dosa siapa?," ingatnya.





Rozali pun mengingatkan pesta demokrasi pemilihan umum (Pemilu) yang bakal digelar pada 2024 mendatang. Berdasarkan data yang ia paparkan pada pemilihan presiden (Pilpres) dan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, kabar bohong dan ujaran kebencian begitu massif di media spsial, terutama dalam aplikasi percakapan Whatapp (WA).


"Sebentar lagi Pemilu, sebentar lagi WAnya akan semakin aktif dengan informasi yang tidak jelas dan itu tidak kita inginkan," tegasnya.


Lebih jauh dia menerangkan ada hoaks yang berhenti pada kebohongan saja, juga ada hoaks dengan rekayasa ujaran kebencian sehingga memicu dampak yang membahayakan orang lain. "Semakin banyak informasi yang tidak benar, maka akan diyakini sebagai kebenaran," ingatnya.


Pemimpin Redaksi (Pimred) NU Online Jateng M Ngisom Al-Barony yang menjadi salah satu narasumber menegaskan, memerangi hoaks dengan mengimbangi informasi-informasi yang positif kepada masyarakat melalui media.


"Jangan kita biarkan hoaks atau ujaran kebencian yang tidak berdasarkan dengan cara mendiamkan saja. LTNNU sebagai ujung tombak NU harus membantu menyampaikan informasi-informasi yang positif kepada masyarakat melalui media sosial," ucapnya.


Menurutnya, salah satunya adalah dengan mengelola media online yang baik, profesional, dan bisa dipertanggungjawabkan. "Dari 36 PCNU se-Jateng tidak ada separohnya yang memiliki website, padahal ini sangat penting di era digital saat ini," ungkapnya.


"Apa yang telah dilakukan NU Online bersama subdomainnya selain bertujuan menginformasikan kegiatan-kegiatan interna NU, media online yang dimiliki PBNU juga bertujuan untuk menangkal informasi-informasi yang salah tentang NU termasuk amaliyahnya yang sering dianggap bid'ah oleh kelompok sebelah," tegasnya.


Ketua LTNNU Jawa Tengah H Mahlail Syakur menerangkan adanya nabi palsu serta hoaks dalam naskh Al-Qur'an dan hadits. Hoaks yang tidak kalah parahnya lanjut dia, ketika tersebar kabar bahwa Al-Qur'an sehingga muncul sastrawan (Nabi palsu) yang membuat surat Al-Fiil dan lainnya


"Kalau masih ragu kalau Al-Qur'an ini dari Allah, maka buatlah satu surat saja. Ini kontennya jauh," katanya menerangkan.


Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang ini pun menerangkan Al-Qur'an menyebut hoaks dengan istilah bohong, pada redaksi juga terdapat pula orang yang hatinya sakit. Dia lantas mengingatkan hoaks yang terjadi pada diri Siti Aisyah yang tertinggal dari rombongan. "Kisah ini memang sangat terkenal," pungkasnya.


Lokakarya yang dihelat LTN PBNU Kerja sama LTN PWNU Jateng dan Kota Semarang digelar secara offline dan online diikuti oleh pengurus LTNNU se-Jateng berlangsung gayeng dan dihadiri Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah KH Yasir Alimi.


Penulis: Ahmad Rifqi Hidayat


Nasional Terbaru