• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 14 Agustus 2022

Regional

Pesan Kiai Ulin Nuha Arwani Ke Santri Al-Badriyyah Mranggen Demak

Pesan Kiai Ulin Nuha Arwani Ke Santri Al-Badriyyah Mranggen Demak
Acara silaturahim santri Al-Badriyah Mranggen Demak di Pesantren Yanbu'u' Qur'an Kudus (Foto: NU Online Jateng/Wildan)
Acara silaturahim santri Al-Badriyah Mranggen Demak di Pesantren Yanbu'u' Qur'an Kudus (Foto: NU Online Jateng/Wildan)

Demak, NU Online Jateng
Pengasuh Pesantren Tahfidh Yanbu'ul Qur'an Kudus KH Ulin Nuha Arwani Alhafidz berharap para santri selalu bersyukur kepada Allah SWT karena telah diberi nikmat menghatamkan Al-Qur’an, apalagi sampai ada santri yang dapat mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz Wi 


"Setidaknya memuji Allah SWT dengan membaca ‘Alhamdulillah wa syukru lillah’ atau dengan kalimat sejenisnya. Inilah maksud dari syukur bil lisan," ujarnya.


Hal itu disampaikan dalam kegiatan silaturahim dan sowan ngalap berkah atau tabarukan keluarga besar Pesantren Putra-Putri Al-Badriyyah Suburan Mranggen Demak kepada KH Ulin Nuha Arwani Alhafidz pada Kamis (23/6) di Aula Pesantren Yanbu'ul Qur'an Kudus.


Menurutnya, syukur adakalanya juga bil-janan, syukur dalam hati. Artinya hati kita berkeyakinan dengan sesungguhnya bahwa yang kita terima itu merupakan murni fadlal, anugerah, bukan karena kepintaran dan kecerdasan kita.


"Lalu ada syukur bil-arkan, yakni mensyukuri nikmat dengan anggota tubuh kita, baik lahir maupun batin. Semuanya kita gunakan untuk beribadah kepada Allah SWT," terangnya. 


Disampaikan, tidak hanya itu, mulut juga membaca Al-Qur’an, telinga mendengarkan Al-Qur’an, tangan membawa Al-Qur’an, menghormati Al Qur’an, tadabbur, memikirkan ayat-ayat yang dibaca, hati menyerap beragam ilmu yang dipelajari dari sana. Sehingga semua anggota tubuh kita gunakan untuk beribadah.

 
“Dan juga ada syukur bil-bancakan. Maksudnya bersedekah kepada sesama. Karena dengan bersyukur nikmat akan ditambah, sebaliknya jika tidak justru akan membawa bencana,” imbuhnya.


Mustasyar PBNU ini melanjutkan, menjadi penghafal Al-Qur’an saja tidaklah cukup. Pun demikian, membaca Al-Qur’an memiliki etika dengan tahqiq atau haqqa tilawatih, yakni an-yasytarika fihi al-lisan wa al‘aql wa al-qalbi (kombinasi antara mulut, akal dan hati)


“Lisan membacanya dengan hukum kaidah ilmu tajwid, akal mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dan hati memahami dan mengaplikasikan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. 


Putra KH Arwani Amin ini mewanti-wanti jangan sampai dalam mengaji Al-Qur'an, setelah khatam lalu dibiarkan begitu saja. Mushafnya digantungkan dalam lemari, tidak pernah dibaca kembali. 


"Maka Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat dengan keadaan menggantung pada orang tersebut seraya berkata kepada Allah ‘Ya Tuhan, sesungguhnya hamba-Mu ini telah mencampakkanku. Maka berilah keputusan antara aku dan dia (siapa sebenarnya yang lebih benar dan siapa yang salah?)," ucapnya sebagaimana dalam hadits riwayat Anas bin Malik.


Pengasuh Pesantren Al-Badriyyah Mranggen KH Muhibbin Muhsin Alhafidz menegaskan pesan-pesan Kiai Ulin Nuha tersebut agar para santri rutin istiqamah dengan terus mengkaji, menghayati, mengamalkan isi Al-Qur’an. "Dan memiliki akhlak seperti dalam ajaran Al Qur’an, selalu tawadhu, dan mengabdi kepada guru atau kiyai supaya mendapat keberkahan dalam hidupnya," ungkapnya.


Salah satu pendamping kegiatan Ahmad Dliya’uddin Zabidi menjelaskan, santri yang ikut dan diajak sowan kepada KH Ulin Nuha Arwani Alhafidz adalah mereka yang telah menghatamkan Al-Qur’an binnadzri dan bilhifdzi pada 28 Mei kemarin.


“Sengaja kita ajak sowan berharap doa pangestu dan keberkahan dari guru Al-Qur’an yang sanad keilmuannya sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW sehingga dimudahkan dalam melanjutkan belajar dan mendapatkan ilmu yang manfaat dan berkah,” pungkasnya.


Turut hadir Pengasuh Pesantren Al-Badriyyah KH Muhibbin Muhsin Alhafidz dan para ustadz-ustadzah, di antaranya KH Ahmad Ghozali Ihsan Mustasyar MWCNU Mranggen, KHM Hafidz Al-Ma’zy, Ning Zahrotun Muniroh, dan Ning Lublubatus Sa’diyyah.


Pengirim: Wildan Ali Zuhri  


Regional Terbaru