• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 19 April 2024

Opini

Meluruskan Makna Khidmah di Nahdlatul Ulama

Meluruskan Makna Khidmah di Nahdlatul Ulama
Foto: Ilustrasi
Foto: Ilustrasi

Sudah lama kita mengenal dan mengikatkan hati kita pada Nahdlatul Ulama (NU), sebagai jamiyah terbesar yang ada di negara Indonesia dan bahkan hingga sampai ke mancanegara. Di sini penulis tertarik mengambil tema tentang berkhidmah di NU. Ada yang berkhidmah melalui NU secara struktural ada juga yang berkhidmah secara kultural. Baik secara struktural ataupun kultural NU sudah puluhan tahun kita bisa mempunyai ikatan batin dan perasaan yang kuat dengan NU, ada yang di baiat di NU, Muslimat, GP Ansor, Fatayat NU dan IPNU-IPPNU. 

 

Sering kali kita ucapkan kata 'khidmah' khususnya kepada NU. Namun sebenarnya apa itu arti kata khidmah. Berkhidmah dalam NU secara sederhana berarti mengikuti. Mengikuti di sini berarti mengikuti segala kegiatan yang diadakan oleh NU dan mengamalkan sikap dalam kehidupan sehari-hari. Sikap pengamalan pemahaman keagamaan NU yaitu: tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), dan amar ma’ruf nahi munkar. (mencegah dari perbuatan yang tidak terpuji). Maka dari itu, warga NU seyogyanya harus terus berpegang teguh pada sikap keagamaan yang sudah menjadi ciri khas dari NU.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata khidmah adalah kegiatan, pengabdian, dan pelayanan. Jadi pada dasarnya sikap khidmah pada NU bisa kita tuangkan dari berbagai sisi dan bidang, misalnya bidang keagamaan, bisa melalui pesantren dan madrasah diniyah, bidang ekonomi, bisa juga membuka dan mendirikan kios atau toko halalmart, aswaja toko, dll. Dan pada bidang kepenulisan atau jurnalistik, kita bisa berikan opini tentang pemikiran yang moderat sesuai dengan paham keagamaan yang ada di NU. 

 

Bukan sebatas yel-yel saja, siapa kita ?? NU… Siapa Kita ?? NU.. NKRI Harga Mati. Seakan-akan ucapan itu sudah melekat pada diri warga NU. Akan tetapi lebih jauh daripada itu yel-yel yang sering kita ucapkan itu bukanlah sebuah identitas yang hanya terikrarkan saja. Tapi ada hal yang harus di wujudkan dalam pengamalan dalam tindak dan laku di organisasi atau banom-banomnya. Sebagai wujud dari pengamalan tersebut, maka kader IPNU-IPPNU yang bersifat keterpelajaran maka harus bisa membuktikan bahwa dalam setiap langkah yang di laluinya mampu mengamalkan budaya ilmiah kreatif melalui diskusi dan dialog ala pelajar NU milenial sesering mungkin dan interatif guna mengasah pemikiran dan wawasan kita tentang keaswajaan. 

 

Serta yang bersifat kepemudaan di NU juga ada Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fatayat NU harus mampu menjadi garda terdepan dalam upaya dan segala bentuk pelemahan terhadap tradisi dan amaliyah NU baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Contohnya banyak faham dan aliran radikal yang kian merebak di sekitar kita. Selain itu juga harus mampu berfikir kritis atas segala betuk sikap yang telah kita lakukan selama ini dan terus sadar dengan beragam fenomena yang ada dan berkembang di masyarakat.

 

Setelah semuanya kita lakukan, kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan para sesepuh dan ulama NU, salah satu pesan yang di sampaikan oleh KH Ridwan Abdullah: Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU. Yakinlah! kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati maka tagihlah kebatu nisanku. Dan juga ada pesan  dari KH Hasan Genggong: Barang siapa yang menolong NU, maka dia akan hidup beruntung di dunia dan di akhirat. Siapa yang memusuhi NU dia akan hancur. Inilah beberapa pesan yang di sampaikan ulama NU kepada Nahdliyin agar bisa memberikan keberkahan dan kemaslahatan bersama. 

 

Jadi dengan kita ber-NU bukan hanya sekadar bisa qunut dan tahlilan saja, akan tetapi harus mau juga mengaji pada para ulama untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kita, karena kegiatan ngaji dengan para ulama sudah sejak dahulu menjadi ciri khas santri NU. Dan semoga kita semua dapat diakui sebagai santrinya Mbah Hasyim Asy’ari sehingga doa kita bisa terkabul karena lantaran kita mau mengurusi NU. Dan yang terpenting yaitu kita yakinkan pada diri masing-masing untuk selalu mengurus NU dengan ikhlas dan seluruh program yang kita buat di NU selalu mendapatkan ridha dan berkah dari para sesepuh dan muassis NU. Aamiin Wallahu a’lam bisshawab 

 

"Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan husnul khoatimah beserta keluarganya" (Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari) 


 

A’isy Hanif Firdaus, mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Sekretaris Umum IKAF Babakan-Tegal, Sekretaris PR IPNU Dukuh Kedawon, Larangan-Brebes 
 


Opini Terbaru