• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Jumat, 7 Oktober 2022

Nasional

Wakil Rais PWNU Jateng Berharap Santri Teladani Pahlawan Negeri

Wakil Rais PWNU Jateng Berharap Santri Teladani Pahlawan Negeri
Wakil Rais PWNU Jateng, KH Chalwani Nawawi (Foto: NU Online Jateng/Siswanto)
Wakil Rais PWNU Jateng, KH Chalwani Nawawi (Foto: NU Online Jateng/Siswanto)

Boyolali, NU Online Jateng
Wakil Rais pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Achmad Chalwani Nawawi mengatakan, sejarah peran kiai dan santri dalam perjuangan bangsa menggapai kemerdekaan adalah hal yang perlu terus ditanamkan bagi segenap anak bangsa, lebih-lebih bagi santri sendiri. 


"Peran kiai dan santri dalam perjuangan membela negara nyata dan tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Oleh karena itu para santri wajib meneladani pahlawan dan pejuang negeri," tegasnya.


Hal itu disampaikan Kiai Chalwani dalam pengajian umum peringatan haul masyayikh dan pejuang kemerdekaan Republik Indonesia di Pesantren Darussalam Bandung, Wonosegoro, Boyolali, Selasa (9/8/2022) malam.


Disampaikan, Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi yang dikirim Belanda untuk turut menjajah nusantara, malah bergabung dalam perjuangan kemerdekaan setelah kenal dan memahami usaha kiai dan santri menghadapi penjajah. 


"Kalau tidak ada kiai dan pesantren, gereget (semangat) bela bangsa (nasionalisme) rusak," kata KH Chalwani mengutip pernyataan Douwes Dekker.





Pengasuh Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo itu melanjutkan, yang paling berani menentang Belanda itu kiai dan santri. Misalnya Raden Mas Ontowiryo, santri yang dimakamkan di Makassar, lebih dikenal dengan Kiai Abdul Hamid atau Pangeran Diponegoro, itu adalah seorang santri, guru ngaji, dan guru thariqah.


"Namanya diabadikan di antaranya sebagai nama Universitas Diponegoro dan Kodam Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta," sebut Kia Chalwani yang juga sebagai Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah itu.


"Di antara peninggalan Pangeran Diponegoro adalah Al-Qur'an, tasbih, dan kitab Taqrib. Diponegoro bermadzhab Syafi'iyah, yang membaca qunut dalam salat subuh, salat tarawih 20 rekaat ditambah salat witir 3 rekaat, sama dengan amalan ahlussunnah wal jamaah kita, NU," katanya.


Karena itu, Kiai Chalwani mengajak untuk memasukkan anak-anak ke pesantren ahlussunnah wal jamaah. "Pahlawan yang harum namanya, Kartini itu juga santri yang mondok, menuntut ilmu kepada Kiai Soleh Darat," ungkapnya.


Dijelaskan, Kartini memberikan usul kepada Kiai Sholeh Darat untuk menafsirkan 30 Juz Al-Qur'an dengan bahasa Jawa untuk dijadikan pedoman kaum perempuan di wilayahnya.


Namun dijawab Kiai Sholeh Darat, bahwa menafsirkan al-Quran itu susah. Karena harus menguasai seperangkat ilmu tafsir untuk memahaminya.


​​​​​​​Kartini malah mengatakan, "Jenengan gadah ilmunya sedaya." Mendengar itu, Kiai Sholeh Darat menangis sembari minta didoakan Kartini semoga dapat menafsirkan 30 Juz al-Qur'an. "Sayangnya sejarah Kartini yang nyantri dan ngaji Qur'an tidak dijelaskan di sekolahan," pungkasnya.


Ketua Yayasan Pesantren Darussalam Kiai Khumaidi menjelaskan, pengajian dan haul juga sebagai puncak rangkaian acara peringatan tahun baru 1444 Hijriah. "Juga khataman suluk Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah, santunan anak yatim, dan khitanan massal," pungkasnya. 


Pengirim: Siswanto AR


Nasional Terbaru