• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Sabtu, 24 Februari 2024

Nasional

PBNU: GKMNU Hadir untuk Cegah Bahaya Dehumanisasi

PBNU: GKMNU Hadir untuk Cegah Bahaya Dehumanisasi
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (NU Online)
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (NU Online)

Jakarta, NU Online Jateng
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, salah satu tujuan program Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) adalah untuk mencegah bahaya dari tren dehumanisasi atau penghilangan hakikat manusia. 


“Orang mulai terbiasa membuat pertimbangan berdasarkan angka. Orang lupa bahwa angka itu adalah jumlah manusia-manusia. Manusia-manusia disederhanakan ke dalam angka. Maka di sini, ada ancaman yang serius sekali yaitu kecenderungan dehumanisasi di dalam pergulatan, apalagi pergulatan kebijakan,” ujarnya.


Gus Yahya saat menyampaikan pidato kebudayaan pada pembukaan Muktamar Pemikiran NU 2023 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Jumat (1/12/2023).


Dirinya menyampaikan keprihatinannya terhadap kecenderungan dehumanisasi yang semakin merajalela, terutama dalam pergulatan kebijakan dan percakapan di media sosial. Manusia sering kali disederhanakan menjadi angka, mengabaikan perasaan, dan akibat dari perlakuan yang tidak semestinya. 


"Di media sosial, terdapat kecenderungan dehumanisasi, di mana manusia tidak lagi dilihat sebagai individu dengan perasaan, melainkan sebagai angka yang tidak mempedulikan akibat dari perlakuan yang tidak sepantasnya," terangnya.


Pengasuh Pesantren Roudlatut Tholibien Leteh Rembang itu kemudian mengambil langkah tegas dengan meluncurkan GKMNU.  “Di antara agenda yang saya bangun secara decisive adalah upaya untuk merespons tren dehumanisasi ini dengan cara yang dulu menjadi tradisi NU. 


"Itu sebabnya sekarang ini PBNU menghadirkan gerakan yang kami sebut Gerakan Keluarga Maslahat NU,” ucapnya dikutip dari laman nu.or.id.


Ditegaskan, GKMNU merupakan kegiatan di tingkat desa yang diikuti keluarga-keluarga dengan materi yang menjadi hajat keluarga, mulai dari keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain-lain. 


"Setiap pekan, terdapat kegiatan serentak dari GKMNU di sekurang-kurangnya 500-2.000 desa, melibatkan 7 orang petugas yang disebut sebagai satgas. Saat ini, jaringan satgas GKMNU sudah tersebar di tiga provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan rencana pengembangan lebih lanjut," paparnya. 


Dua minggu yang lalu lanjutnya, GKMNU mulai dengan Jawa Barat dan baru minggu kemarin kita lakukan simultan juga dengan Banten dan akan terus kita kembangkan. "Kami ingin NU kembali terlibat secara langsung dengan manusia-manusia. Kader NU harus terbiasa berpikir tentang khidmah NU untuk manusia, bukan hanya untuk angka-angka. Ini fundamental sekali dan harus menjadi model aktivisme NU," tambahnya. 


Gus Yahya menekankan bahwa GKMNU bukan hanya sekadar kegiatan, tetapi juga bagian dari upaya NU untuk memiliki kapasitas sebagai pemain strategis dalam berbagai sektor, tidak hanya sebagai penerima pasar industri atau politik. 


"Ini penting untuk memastikan masa depan NU sebagai organisasi yang relevan dan progresif. Kita harus memenangkan genuine aspiration dari masyarakat dengan menginternalisasi mindset untuk melihat masyarakat sebagai manusia-manusia. Pemikiran tentang masa depan ini harus menjadi agenda utama," pungkasnya. (*)


Nasional Terbaru