• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Nasional

Ketua Umum PBNU: Literasi Keharusan bagi Kader Nahdliyin

Ketua Umum PBNU: Literasi Keharusan bagi Kader Nahdliyin
Kegiatan halaqah literasi digital di Pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog, Brebes (Foto: Dok)
Kegiatan halaqah literasi digital di Pesantren Al-Hikmah 2 Benda Sirampog, Brebes (Foto: Dok)

Brebes, NU Online Jateng
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Chollil Staquf mengatakan, PBNU selalu mendorong kader nahdliyin untuk selalu mengambil peran dalam dunia digital.


"Tujuanya agar ikhtiar kita bersama dalam suasana pergaulan digital yang sudah semakin mendominasi ruang hidup kita menjadi lebih positif dan lebih bisa membawakan maslahat dan menghindari berbagai macam potensi negatif yang timbul di dalam pergaulan digital," ujarnya.


Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya panggilan akrabnya dalam acara yang digelar Lembaga Ta'lif wan nasyr (LTN) PBNU bersama Kominfo berupa Seminar Literasi Digital dengan mengambil tema 'Menggali Ajaran-ajaran Luhur Ulama Lokal melalui Digital' di Pesantren Al-Hikmah 2 Benda, Sirampog, Brebes, Ahad (25/9/2022). 


Disampaikan, khusus menyangkut informasi yang berkaitan dengan Agama, NU memiliki konsentrasi yang fundamental seseuatu yang bukan hanya terkait dengan dimensi kognitif saja, atau pengetahuan akliyah saja. 


"Tetapi menyangkut dimensi ruhaniyah yang lebih dalam bahwa kita beragama ini sangat mementingkan barakah yang telah diajarkan oleh guru-guru kita, masyayikh kita, dan kiai kita," tegasnya.


Menurutnya, salah satu dimensi yang sangat ditekankan dalam literasi digital ini adalah menghormati hubungan dengan guru dan ulama. Karena ini yang bisa mempertahankan keberkahan dari ulama dan mendapatkan keberkahan dalam hidup dalam beragama dan bernegara. 


"Saya kira penting rasanya merawat sanad keilmuan para ulama untuk mempertahankan barakah agar jalur keilmuannya yang sampai dengan Nabi Muhammad SAW tetap secara utuh bertahan hingga saat ini," ucapnya.


Wakil Ketua LTN PBNU Rahmat Sahid menjelaskan, generasi muda milenial akan lepas budayanya ketika lepas dari akarnya. Era digital akan tumbuh sebagai upaya untuk menyambungkan sanad keilmuan para ulama dan kiai-kiai didokumentasikan dalam bentuk karya tulis agar dapat dilihat oleh siapa saja dan sampai kapanpun. 


"Misalnya rentetan sejarah KH Masruri, sejarah keilmuan, sejarah sanad Keilmuan, Pengaruh dan Karya-karyanya," terangnya.


Penulis buku Ngaji Karo Kang Kaji dan buku tentang Ulama Brebes H Lukman Nur Hakim kepada NU Online Jateng mengatakan, menulis adalah hal baik yang bisa dimulai dari hal-hal di sekitar kita. Tidak usah berpikir menulis itu harus baik. Paksakan dulu saja menulis apa adanya.  


“Dulu saya merasa takut tulisan saya dikritik, padahal kalau tulisan kita dikritik berarti tulisan kita itu dibaca. Maka saya mengubah pemikiran, tetap lanjutkan untuk menulis,” ungkapnya.


Menurutnya, menulis bisa dimulai dari pengalaman ngaji bersama kiai, bahas materi ngajinya, bisa juga menuliskan kisah-kisah yang disampaikan kiai saat mengaji. "Seperti yang tertuang di Buku Ngaji Karo Kang Kaji, Petikan Mutiara Ngaji Bersama KH Subhan Ma'mun," pungkasnya.


Pengirim: A'isy Hanif Firdaus


Nasional Terbaru