• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Rabu, 28 Februari 2024

Fragmen

Kiai Mochammad Qorib Kalioso Sragen dan Peristiwa Geger Pakepung

Kiai Mochammad Qorib Kalioso Sragen dan Peristiwa Geger Pakepung
pintu makam Kiai Moch. Qorib atau Bagus Murtojo
pintu makam Kiai Moch. Qorib atau Bagus Murtojo

Perjuangan Keraton Surakarta merupakan sejarah panjang yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan para ulama, karena ulama merupakan pewaris dari para Nabi. Pada era kepemimpinan Pakubuwono IV (1788-1820). Pakubuwono IV merupakan salah satu Raja Surakarta yang sangat berani menentang VOC dikarenakan beliau sangat berpegang teguh pada syariat Islam dan sangat dekat dengan para ulama. Salah satu ulama yang sangat dekat dengan Sinuhun adalah KH Mochammad Qorib.

KH Mochammad Qorib atau juga disebut Bagus Murtedjo/Murtodho adalah salah satu ulama yang berasal dari Kalioso (kini masuk wilayah Kabupaten Sragen). Ia merupakan anak dari Kiai Kartotaruno dan Nyai Kartotaruno, yang di mana Nyai Kartotaruno masih saudara kandung dengan Kiai Abdul Djalal yang makamnya di sebelah utara Sungai Cemoro Kalioso.

Berdasarkan hasil penelitian dari Headley (1997), KH Mochammad Qorib masih trah dari Prabu Brawijaya V. Dengan penuh keyakinan KH Mochamad Qorib mempunyai tujuan yaitu membuka pemukiman santri dan akhirnya juga dapat menjalin hubungan dengan pihak istana, sehingga yang dulunya hanya pemukiman santri kecil dapat menjadi masyarakat Islam.

Berdasarakan catatan sejarah, waktu Pakubuwono IV berburu kijang di hutan Krendawahana yang sangat angker. Pada waktu itu Pakubuwono dengan tiba-tiba hilang di telan hutan dan tidak diketahui jejaknya. Prajurit yang mengawal Pakubuwono IV kebingunan dan meminta bantuan kepada pimpinan muslim yang tidak jauh dari hutan tersebut, yaitu Kiai Abdul Djalal. Dari kejadian tersebut Kiai Abdul Djalal memerintahkan kepada keponakannya yang masih kecil yaitu Bagus Murtojo (KH Mochammad Qorib).

Bagus Murtojo menjalankan perintah tersebut dan akhirnya Pakubuwono IV dapat ditemukan dengan keadaan selamat kemudian dapat dikembalikan ke Keraton Surakarta. Sebagai tanda terima kasih Pakubuwono IV kepada Kiai Abdul Djalal dengan diberikannya tanah sebagai pendirian masjid, mimbar, keris dan tombak. Sehingga tanah tersebut diberi nama Kalioso.

Selain itu Pakubuwono IV menjadikan Bagus Murtojo sebagai anak angkatnya. Dari situlah Bagus Mutojo mulai menjalin hubungan dengan Kraton Surakarta sehingga terciptanya hubungan antara santri dengan pihak istana (Headley, 1997).


Santri Pitu


Dikutip dari aksara, KRMH Tommy Agung Wibowo Hamidjoyo menceritakan 'santri pitu' yaitu tujuh ulama pinilih mempunyai tugas dan wewenang dari keraton untuk membimbing dan mengajarkan syariat Islam di Kasunanan Surakarta. Tujuh ulama tersebut merupakan abdi dalem kinasih (terkasih) dari Pakubuwono IV. 'Santri pitu' tujuh ulama yaitu; 1. Raden Santri, 2. Raden Wiradigda, 3. Pangeran Panengah, 4. Raden Kandhuruhan, 5. Kiai Nursholeh, 7. Bagus Murtoyo (Kiai Muhammad Qorib). Kemudian ditambah tokoh kehormatan Kiai Jamsari (pendiri Pondok Jamsaren).

Peran dari 'santri pitu' tujuh ulama ini berpengaruh sangat kuat terhadap kebijakan dan arah strategi politik dalam keamanan Kasunanan Surakarta pada masa Pakubuwono IV. Selaku Pimpinan tertinggi, Sinuhun Pakubuwono IV sampai menerapkan syariat Islam kepada seluruh keluarga kraton dan abdi dalem kraton. Pada masa waktu itu Keraton Surakarta dapat mencapai puncak kegemilangan yang sangat luar biasa. 

Beberapa kebijakan dari Sinuhun Pakubuwono IV di antaranya yaitu, mewajibkan seluruh keluarga keraton dan abdi dalam untuk menjalankan shalat Jumat dan shalat lima waktu di Masjid Agung Kraton, mewajibkan dan menjalankan ajaran Islam leluhur, melarang keras kerabat keraton minum-minuman keras, dan melarang mengonsumsi ganja.

Selain itu Sinuhun juga memberlakukan hukuman gantung bagi pelaku kejahatan, dan Sinuhun juga membentuk prajurit Nirbaya (prajurit mujahidin) juga disebut dengan 'Prajurit Marto Lulut Singo Nagoro'. Dari kebijakan Sinuhun tersebut membuat 'Santri pitu' tujuh Ulama ini sangat disegani oleh kaum Ningrat.

Geger Pakepung

Menginjak pada masa kegemilangan Keraton Surakarta masa Pakubuwono IV. Atas kebijakan dari Sinuhun hal ini membuat sejumlah kerabat keraton tidak sepaham dengan Sinuhun sehingga Sinuhun sampai menyingkirkannya. Hal tersebut membuat sebagian kerabat keraton tidak terima dan meminta bantuan kepada VOC untuk menghentikan kebijakan Pakubuwono IV.

Pengepungan Keraton Surakarta tersebut melibatkan berbagai tentara koalisi di antranya dari pihak belanda, tentara Mangkunegaran dan tentara Kasultanan Ngayogyakarta. Hal ini adalah peran yang dilakukan oleh Raden Ngabehi Yosodipuro I. Maka pada saat itulah disebut dengan Peristiwa Pakepung 26 November 1790.

Tidak ada yang tahu kenapa tiba-tiba Sinuhun berubah sikap dan mau menyerahkan para penasihatnya kepada pihak pengeroyokan tersebut. Pakubuwono IV kalah dan menyerahkan 'santri pitu' yang telah berjasa atas marwah Keraton Surakarta kepada pihak VOC untuk diasingkan. Namun atas perintah Sinuhun agar KH Mochammad Qorib (Bagus Murtojo) dibebaskan dari penahanan tersebut. Karena, KH Mochammad Qorib masih saudara angkat Sinuhun. KH Mochammad Qorib dibebaskan dengan syarat hanya boleh mengajar di Pondok Kiai Abdul Djalal Kalioso. Sampai akhir Hayat KH Mochammad Qorib mengajar di Pesantren Kiai Abdul Djalal Kalioso. Beliau meninggal dan dimakamkan di Sambirejo, Tuban, Kec. Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Semasa hidupnya, KH Mochammad Qorib menikah dua kali. Yang pertama, beliau menikah dengan putri dari Kiai Jobin dari Butuh  mempunyai anak 1. Kiai Kertoyudo, 2. Kiai Honggodipo, 3. Kiai Kliwon Wrioprodjo, 4. Kiai Ketip Semeni, 5.  KH Yahya, 6. Kiai Kasan Mohamad, 7. Kiai Mangunrejo (menantu Kiai Mojo). Yang kedua, beliau menikah dengan putri dari Secoprawiro dari Mlagi, mempunyai anak, yakni Nyai Imam Raji dan Kiai Mohamad.


Pengirim: Adhi Prihantoro
Editor: Ajie Najmuddin


Fragmen Terbaru