• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Minggu, 4 Desember 2022

Regional

Memuliakan Orang Tua Seharusnya Tanpa Kenal Waktu dan Tempat

Memuliakan Orang Tua Seharusnya Tanpa Kenal Waktu dan Tempat
Kegiatan haul ke-19 Mbah Yai Muhsin di Godong, Kabupaten Grobogan (Foto: NU Online Jateng/Ben Zabidi)
Kegiatan haul ke-19 Mbah Yai Muhsin di Godong, Kabupaten Grobogan (Foto: NU Online Jateng/Ben Zabidi)

Grobogan, NU Online Jateng
Memuliakan orang tua seharusnya tidak mengenal masa, dan tempat, birrul walidain atau berbuat baik kepada orang tua harus dijalankan sepanjang waktu baik pada saat hidup ataupun setelah meninggal dunia.


Pengasuh Pesantren Al-Badriyyah Mranggen, Demak KH Muhibbin Muhsin al-Hafidz mengatakan, hingga meninggalpun birrul walidain kepada orang tua harus tetap dijalankan dengan rutin berkirim doa.


"Bisa dilakukan setiap hari atau seminggu sekali setiap malam Jumat dengan berkirim doa dan tahlil," ujarnya.


Kiai Muhibbin menyampaikan hal itu usai memimpin khatmil Qur'an dan tahlil dalam haul ke-19 almarhum mbah Muhsin ayahnya, di Desa Latak Rapah, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa (30/8/2022).


KH Zaenal Arifin Pahesan saat menyampaikan taushiyah haul menjelaskan, setidaknya ada empat kewajiban anak terhadap orang tua yang sudah meninggal, sebagaimana Hadits Rasulullah Muhammad SAW dalam Musnad Ahmad.


"Empat hal itu adalah mendoakan orang tua, memohonkan ampunan untuk keduanya, menunaikan janji mereka dan memuliakan teman mereka, serta menjalin silaturahim dengan orang-orang yang dulu menjadi sahabat orang tua," katanya.


Menurutnya, agenda haul yang diselenggarakan dan dihadiri para anak cucu dan cicitnya  ini merupakan bagian dari empat hal itu. Tapi sayang saat ini banyak orang  melupakannya.


"Karena itu, pelajaran yang bisa dipetik dari hal yang kini mulai banyak dilupakan oleh generasi saat ini adalah memuliakan teman-temannya orang tua dan menyambung persaudaraan," ucapnya. 


Dia menambahkan, hal sangat penting dilakukan supaya orang-orang di sekeliling mereka akan selalu terjaga hubungannya. Istilah lain dalam bahasa Jawa, supaya tidak kepaten obor.


Dengan demikian ujarnya,  berbakti kepada kedua orang tua tidak berhenti saat mereka masih hidup, namun sampai mereka meninggal pun, anak tetap harus berbakti kepada mereka dengan cara-cara yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW.


Dikatakan, karena itu semuanya diharapkan berupaya meneladani sosok Mbah H Muhsin sebagai panutan masyarakat. Salah satunya, keistiqamahan dalam berjamaah shalat. Mbah H Muhsin dulu saat di Mranggen selalu menunggu jamaah shalat dengan Syekh Muslih sampai terkantuk-kantuk.


"Ciri dan karakteristik penghuni surga, sebagaimana keterangan dalam kitab Durratun Nasihin adalah pertama wajhun malihun selalu menampilkan wajah yang ceria, gembira dan optimis (positif thinking) dan kedua lisanun fashihun, selalu bicaranya hal-hal yang baik dan bermanfaat, pembicaraannya selalu menyejukkan," terangnya.


Selanjutnya, ketiga qalbun naqiyyun, berhati bersih, tidak iri dan dengki. Mampu mengendalikan diri dari amarah, emosi dan ego, dan terakhir  yadun sakhiyyun memiliki karakteristik yang dermawan. Mau berbagi ilmu, pemikiran, harta, dan tenaga.


Almarhum simbah H Muhsin ujarnya, adalah ayahanda Nyai Hj Mu’minah (salah satu garwo Syekh Muslih Abdurrahman Mranggen) dan KH Muhibbin Muhsin Al-Hafidh (Pengasuh Pesantren Al-Badriyyah Suburan Mranggen).


Ketua panitia haul Kiai Zaenal Muttaqin kepada NU Online Jateng, Kamis (1/9/2022) mengatakan, peringatan haul memiliki makna penting. Selain mendoakan almarhum, peringatan haul akan memberi kemanfaatan dan keberkahan bagi orang yang memperingatinya. 


“Kita berziarah ke makbarah Mbah Muhsin ini juga niat mengharap keberkahan dari Allah SWT dengan harapan diberi kemudahan rizki, umur panjang, bisa syukur nikmat, dan husnul khatimah,” pungkasnya.


Haul almarhum mbah Muhsin dihadiri semua anak cucu dan cicit almarhum mbah Muhsin yang juga mertua almarhum KH Muslih Abdurrahman Mranggen, Pengasuh Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak Syaikhul Mursyidin Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah dan pendiri Jamiyah Ahlit Thariqah al-Muktabaroh an-Nahdliyah (Jatman) dan warga masyarakat sekitar makam.


Pengirim: Ben Zabidi


Regional Terbaru