• logo nu online
Home Warta Nasional Keislaman Regional Opini Kiai NU Menjawab Dinamika Taushiyah Obituari Fragmen Tokoh Sosok Mitra
Kamis, 30 Juni 2022

Regional

Begini 5 Pola Pengasuhan Pendidikan yang Mesti Diketahui Orang Tua

Begini 5 Pola Pengasuhan Pendidikan yang Mesti Diketahui Orang Tua
Ketua PC Lakpesdam NU Boyolali, Muslich menyampaikan materi parenting (Dok. Lakpesdam Boyolali)
Ketua PC Lakpesdam NU Boyolali, Muslich menyampaikan materi parenting (Dok. Lakpesdam Boyolali)

Boyolali, NU Online Jateng
Dalam dunia pendidikan, terdapat 5 (lima) pola tentang pengasuhan anak yang dilakukan oleh orang tua atau wali murid. Hal tersebut disampaikan Ketua Pengurus Cabang Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Boyolali, Muslich, Sabtu (18/6).

"Pertama, yakni orang tua atau wali murid dengan model penghukum. Model ini mengakibatkan respons anak yang cenderung melawan atau atau cuek terhadap segenap tindakan orang tua/wali murid," kata Muslich.

Disampaikan, saat menjadi narasumber pada acara seminar parenting yang diselenggarakan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Grogolan, Karanggede, Boyolali. Pola kedua, yakni orang tua yang menampilkan sosok yang membuat rasa bersalah bagi anak.

"Anak cenderung segan dan mudah merasa bersalah dari pola perlakuan ini. Akibat lain adalah munculnya rasa rendah diri dan kecenderungan inferior," lanjutnya.

Pola ketiga adalah bergaya sebagai teman bagi anak. Mereka cenderung akrab dan mudah bergaul dengan anak. Anak merasa nyaman dengan pola ini. Lalu, keempat, pola asuh dengan gaya pemantau atau pengawas. Pola ini menjadikan peraturan sebagai panduan dalam mendidik dan mengasuh anak. Dialog yang terjadi diarahkan untuk mematuhi segenap ajaran dan peraturan yang berlaku. 

Adapun yang kelima adalah pola pengasuhan dengan model manajer. Di mana orang tua menempatkan diri tidak lebih sebagai pihak yang memfasilitasi proses tumbuh kembang anak. Anak adalah penentu masa depannya. Anak adalah penentu jalan hidupnya. Anak adalah subyek aktif yang bertanggungjawab terhadap segenap proses tindakan yang dipilihnya.

"Tugas orang tua sekadar menemani melakukan refleksi, mendampingi dalam proses-proses pengambilan makna akan segenap tindakan yang ada. Pola ini adalah pola yang diharapkan akan menumbuhkan disiplin diri yang positif atas dasar panggilan hati dan diri dari sang anak," terang Muslich.

Kegiatan yang dihadiri oleh semua wali murid, siswa, guru, tenaga pendidikan, komite madrasah, dan para tamu undangan lainnya. Para peserta mengikuti kegiatan dengan semangat dan antusias. Hal ini karena kegiatan parenting baru pertama kali ini digelar di madrasah.

Ketua Komite MINU Grogolan Kusnun mengucapkan terima kasih kepada madrasah atas diadakannya kegiatan seminar parenting ini. "Semoga setelah kegiatan ini kita semua paham bagaimana cara mengasuh anak dengan benar," ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, tidak kurang 8 (delapan) penanya dari orang tua/wali murid dan juga para guru. Mayoritas merasa senang dengan materi dan proses diskusi yang berjalan. Ke depan, mereka berharap kegiatan ini ditindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan sejenis, agar mereka semakin paham tentang strategi pengasuhan anak yang baik. 

Kepada NU Online Jateng, Selasa (21/6), Kepala MINU Grogolan Ali Mubarok menyampaikan harapan adanya perubahan yang lebih baik di madrasah yang ia pimpin, setelah diselenggarakan seminar parenting ini. "Kami berlokasi di desa, tapi kami ingin dapat tumbuh berkualitas sebagaimana sekolah maupun madrasah lainnya," kata dia.

Melalui kegiatan parenting ini pula, ia berharap orang tua atau wali murid akan lebih mengetahui bagaimana pola pengasuhan anak yang baik ke depannya. "Dalam konteks ini, madrasah juga perlu bekerjasama dengan orang tua atau wali murid dalam mendidik anak-anak," pungkasnya.

Pengirim: Fathur Rohman


Regional Terbaru